Mohon tunggu...
Wardah Roudhotina
Wardah Roudhotina Mohon Tunggu... Psikolog - Psikolog Klinis

Berfokus pada kasus-kasus remaja hingga dewasa, menyukai hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan diri dan melihat satu situasi dari sudut pandang yang berbeda. Kompasiana menjadi tempat belajar (menulis) dan menuangkan isi pikiran saya.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Psikologi, Menghadapi Situasi yang Tidak Nyaman

6 Desember 2022   20:52 Diperbarui: 12 Desember 2022   00:15 754
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi: Situasi yang Tidak Nyaman. (Image by jcomp on Freepik)

Seringkali kita coba mengabaikan berbagai emosi negatif yang muncul. Dengan harapan, perasaan tidak nyaman akan berlalu begitu saja. 

Berbagai cara terus kita coba, sebut saja menyibukkan diri dengan aktivitas perkuliahan, bermain bersama teman-teman, menonton drakor sepanjang hari, makan sebanyak mungkin, tidur selama mungkin.

Apa bisa? Tentu, tapi hanya bersifat sementara. Sedangkan perasaan tidak nyaman itu akan muncul kembali tanpa bisa kita kendalikan. 

Sebenarnya sama hal-nya dengan pagi dan malam, panas & hujan, gula dan garam, mau tidak mau kita harus melewati perasaan yang tidak nyaman.  Bukan justru mengabaikan dan hanya ingin merasakan emosi positif saja.

Secara teori memang mudah, tapi realita justru sebaliknya. Salah satunya, kita mengenal Kubler-Ross Grief Cycle yang menjelaskan lima tahap mencapai penerimaan, yaitu: Denial, Anger, Bargaining, Depression, & Acceptance

Menurut Kubler-Ross, masing-masing dari kita tidak harus melewati semua tahap untuk mencapai penerimaan. 

Namun artinya, akan tetap ada tahap-tahap (yang tidak nyaman) yang harus kita lalui terlebih dulu sebelum mencapai titik nyaman. 

Secara teori, hanya ada lima tahap yang jika dihitung dengan lima jari masih terlihat sedikit. Kenyataannya, satu tahap saja sudah membuat kita tidak karuan.

"Dinikmati prosesnya, pelan-pelan saja"

Kata yang sering saya sampaikan pada klien yang datang ke saya. Menikmati proses yang sebenarnya cukup membuat frustasi dan cenderung tidak ingin mendengar kalimat apapun dari orang lain. Saya ataupun kalian pasti pernah mengalaminya. 

Saat sedang kalut, pikiran dan perasaan kita akan seperti benang kusut. Itulah kenapa kita butuh orang lain yang bisa membantu kita (secara objektif) untuk memetakan apa saja yang kita rasakan, pikirkan, dan memberi penguatan. Kondisi seperti ini pasti akan berlalu, asal kamu benar-benar siap mengunyah pil pahit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun