Mohon tunggu...
Kris Wantoro
Kris Wantoro Mohon Tunggu... Pengamat dan komentator pendidikan

Banyak membaca, makin sadar: banyak tidak tahu. Belajar menulis, agar ketidaktahuan kian terkikis.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Review Buku "Guru Aini"

25 Maret 2020   09:22 Diperbarui: 25 Maret 2020   11:55 109 0 0 Mohon Tunggu...

Cukup dua alasan aku tak menyukai matematika. Pertama, aku tidak pernah menjadi murid segigih Aini. Kedua, aku tak pernah menjadi guru seidealis Guru Desi.

Matematika bagiku adalah momok, sejak SD. Suatu hari, pulang sekolah kubawa catatan lengkap pelajaran matematika, bab pembagian bersusun (porogapit). Kutulis rapi soal berikut jawabannya, komplit. Sialnya, aku tak tahu ke mana tujuan angka-angka itu. Mengapa angka ini dibagi itu bisa menjadi begitu. Dengan sabar, bapak mengantarku ke rumah anak tetangga, minta diajari. Upahnya, aku dicaci. Dianggap bodoh. Aku benci matematika sejak itu.

Membaca "Guru Aini" Pak Cik berhasil mengajakku mengembara ke pelosok Sumatra, Ketumbi, meski belum sepenuhnya berdamai dengan matematika.

Kenakalan Desi kecil bukan karena kurang perhatian, atau korban broken home. Itulah mentalitas manusia yang tak bisa dihentikan oleh apa pun. Usia 8 tahun, Desi jatuh dari sepeda, kepalanya menghantam trotoar, tiga jahitan menjadi saksi. Kali lain dipanjatnya pohon jambu, jatuh, bengkok tangannya. Kelak, tiga jahitan di atas alis itu membuatnya berkharisma tiada lawan.

"Ini persamaan hidupku sekarang, Bu", disodorkannya buku catatan ke Bu Amanah berisi persamaan garis lurus yang variabel-variabelnya didefinisikan sendiri, x1: pendidikan, x2: kecerdasan, dan paling menarik adalah konstanta a: pengorbanan.

Impian tertinggi Guru Desi adalah mengajar matematika anak-anak di pelosok. Takkan ditukarnya mimpinya itu dengan hal lain, seindah apa pun hal lain itu.

Sebagai lulusan terbaik pendidikan calon guru matematika Desi justru mengambil pilihan aneh. Tidak dipakainya hak istimewa memilih daerah penempatan kerja, melainkan ikut undian. Belum pernah ada lulusan terbaik melewatkan keistimewaan itu.

"Harus ada seseorang memulai sesuatu yang tak pernah ada", katanya

Itulah kemenangan pertama demi hasratnya mengabdi.

Kata orang, sudah jatuh tertimpa tangga, menggambarkan nasib sial. Bagi Desi, sudah bangkit bisa terbang pula. Dua kali Desi disapa berkah, tapi dua kali pula dilepasnya. Semua lulusan telah menerima kertas undian. Bersoraklah mereka yang mendapat daerah nyaman, senyap bagi mereka yang mendapat pelosok. 

Desi mendapat Bagansiapiapi, kota pelabuhan yang maju, makmur, indah dan agamis. Tanpa ragu ditukarnya kertas undian dengan Salamah yang bahkan teman-temannya kesulitan membaca "Tanjong Hampar" sebagai "Tanjong Tampar". Mereka yakin, daerah itu tidak termasuk wilayah hukum Republik Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x