Mohon tunggu...
Wahyu Widayat
Wahyu Widayat Mohon Tunggu... Seorang eseis sastra, politik dan budaya. Penulis tinggal di Gunungkidul.

Hobi fotografi dan fasilitator pelatihan pengembangan sumber daya manusia.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Politik Olok-olok Menjelang Pilkada Gunungkidul

22 September 2020   12:02 Diperbarui: 22 September 2020   12:11 10 1 0 Mohon Tunggu...

Sejak para bacalon secara resmi mendaftar di KPU dan kemudian dinyatakan sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Gunungkidul maka “genderang perang” seolah telah ditabuh. Perilaku netijen yang notabene adalah sukarelawan, simpatisan atau tim sukses serta merta aktif menguras kuota gawainya. Berbagai sindiran bernada sinis, sarkastik, konyol dan lucu bertebaran di media sosial. Tiada hari tanpa sindir menyindir. Uniknya, diantara mereka yang saling sindir sebenarnya saling kenal, bahkan kawan bermain sehari-hari.

Tercatat beberapa sindiran yang muncul di media sosial dapat disebutkan disini. “Gunungkidul butuh pemimpin, bukan pelari. Boleh saja lari ke KPU asal tidak melarikan uang rakyat. Gunungkidul belum pernah dipimpin oleh Bupati dari militer. Katanya ‘Ora Mbrebegi, lha kok malah konvoi?’. Pawai ke KPU kok malah mirip rasulan? Ngakunya pejabat miskin, selama ini gajian buat apa? Kancaku akeh sing nenepi ngalor, golek saje po? ‘Ora Mbrebegi lan Ora Ana Solusi”. Bisa jadi ratusan sindiran terkait Pilkada Gunungkidul dalam setiap minggunya hilir mudik di linimasa kita. Barangkali (semoga saja tidak terjadi), semakin mendekati tanggal 9 Desember maka semakin tinggi dan vulgar “politik olok-olok” ini.

Politik Olok-Olok nampaknya sebuah keniscayaan. Ini adalah perilaku tak terhindarkan diantara para simpatisan, relawan maupun tim sukses. Layaknya film silat, selalu ada sekuen balas dendam sebagai penyaluran syahwat yang agresif. Ada semacam kepuasan dan kelegaan tatkala kita berhasil menyindir atau membalas sindiran dari pihak lain. Budaya Jawa pun seolah-olah melegalkan perilaku ini dengan ungkapan “ngece ya ngece, ning aja banget-banget”.

Bagi pihak penyindir atau yang tersindir atau pembaca media sosial yang tidak terlibat langsung, hal ini tentu saja menguras emosi yang luar biasa. Emosi seolah dikuras dan dieksploitasi hingga pada titik tertentu muncul rasa marah, jijik, benci dan bahkan muak. Bahkan bukan tidak mungkin dapat melahirkan bentrokan fisik secara langsung. Bukankah lebih berguna mengeksploitasi program atau visi/misi kandidat agar lebih dikenal oleh para netijen ketimbang mengekploitas emosi?

Secara pribadi, saya menaruh kekaguman kepada mereka yang saling sindir. Betapa luar biasa ketahanan emosi diantara mereka. Tapi bagaimana  dengan para warga netijen lainnya? Sangat dimungkinkan jika politik olok-olok terus berlanjut maka dapat merusak antusiasme para pemilih pemula dan bahkan menciptakan swing-voters (pemilih mengambang) lebih banyak.

Dengan kata lain, mereka yang terlibat secara langsung dalam perhelatan Pilkada Gunungkidul memiliki kewajiban untuk melaksanakan pendidikan politik  yang bermartabat. Kualitas Pilkada Gunungkidul dipertaruhkan melalui kelincahan jari-jari sampeyan di gawai.

Kini saat yang tepat bagi relawan maupun tim sukses untuk melaksanakan amanat alinea keempat Pembukaan UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Terjemahkanlah program, visi dan misi kandidat anda secara SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic, Time-based) atau spesifik, terukur, dapat dicapai, dapat diwujudkan dan tepat waktu. Lebih baik “menjual” gagasan dibanding olok-olok. Rasanya cukup sudah “sampah visual” yang kita temui saat kita melakukan perjalanan ke pasar, apel pacar, ke pantai atau konsultasi dukun. Mari kita kembali dan fokus untuk memperkenalkan jago kita masing-masing di tingkat akar rumput. Selebihnya, rakyat Gunungkidul yang akan menentukan pilihannya. Bukankah Pilkada Gunungkidul milik rakyat dan mereka yang terpilih mengemban amanah rakyat? Dan yang terakhir, tentu saja tulisan ini bukan sebentuk olok-olok kepada simpatisan, relawan atau tim sukses. ***

VIDEO PILIHAN