Mohon tunggu...
Wahyu Tri Wibowo
Wahyu Tri Wibowo Mohon Tunggu... Penggiat Sosial, Komunikasi, Literasi Dakwah Ramah dan Entrepreneur(Travel & Agrobisnis).

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

"Bijak Dalam Bermedia"

24 Januari 2021   12:08 Diperbarui: 24 Januari 2021   23:17 363 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Bijak Dalam Bermedia"
Foto: Ilustrasi interaksi pengguna  media 

Hampir dalam satu di dekade ini, kita dimudahkan dalam meraih berita dan informasi. Mengutip dari Survei APJII(Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) periode 2019-2020, tentang pengguna Internet di Indonesia yaitu sebesar 73,7% atau 196,7 Juta Jiwa dari 266 Juta Jiwa seluruh Penduduk Indonesia telah menikmati layanan Internet. Artinya, setengah lebih Penduduk di Indonesia telah menikmati layanan Internet dan rata-rata pengguna Internet adalah usia muda sampai usia produktif, hal ini sepertinya akan terus bertambah. Menurut survei tersebut penggunaan media sosial paling di minat dalam layanan Internet dan media sosial menjadi aktor utama dalam perkembangan media komunikasi masa kini.

          Seolah flashback teringat masa kecil saya. Kala itu, jika ingin mengetahui jadwal pertandingan sepak bola antara Chelsea dan MU (Manchester United), kami harus susah payah mencari informasi tersebut lewat koran maupun tabloid bola, yang hanya bisa dibeli di Halte seberang Jalan Raya. Kami juga harus menyisihkan uang saku dan beriuran bersama teman, karena tentunya uang saku kami tidaklah cukup hanya dengan satu orang saja. Tantangan tidak sampai di situ saja, kami harus bersiap dimarahi Ibu ketika nekat menyebrang Jalan Raya bersama teman-teman. Kemarahan dan kekhawatiran Ibu kami bukan serta merta tak beralasan, namun karna ia peduli dengan fenomena tabrak lari yang sering terjadi dikala itu dan oleh sebab itu, ia melarang kami mencari koran dan tabloid bola sebagai bahan informasi jadwal bola, satu-satunya dimasa itu.

          Di zaman sekarang, hampir mustahil orang tidak bisa mencari informasi dan berita yang ingin ia ketahui. Tentunya, tak perlu susah payah membeli koran, tabloid beserta tantangan akan dihadapinya. Cukup hanya mengisi pulsa atau kuota data Internet di abang konter yang biasanya ada di sudut perumahan maupun desa. Semua itu bisa diraih hanya dalam genggaman smartphone dengan mengakses portal berita online maupun media sosial. Namun, media sosial menjadi blunder ketika seseorang tidak bijak dalam penggunaannya seperti men-share, maupun menerima terpaan informasi itu sendiri. Ibarat pisau, ketajamannya tidak dipergunakan dalam mengiris bahan makan, yang selanjutnya untuk membuat hidangan nan lezat. Bisa jadi ketajaman pisau tersebut, malah digunakan sebagai media menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Sangat disayangkan sekali, jika justru kemudahan yang sudah diterima dalam hal media komunikasi saat ini, malah menjadi blunder untuk kita sendiri dan orang lain, jika tidak berhati-hati dalam  bermedia.

          Ada ungkapan yang popular yaitu "Salamatul Insan Fi Hifdzil Lisan" atau Keselamatan seseorang tergantung pada menjaga lisannya". Lisan disini tentunya tidak hanya sebatas pada ucapan secara langsung, akan tetapi jari jempol kita bermain dengan Cuitan, Sharing, DM, Pesan Berantai, maupun Positing-an di media sosial menjadi konteks dan fokus utama saat ini. Hikmah dari kutipan diatas adalah kita bermedia dituntut berhati-hati dalam menyebarkan informasi atau pesan. Selanjutnya komunikan atau orang yang menerima pesan juga harus teliti dan berhati-hati dalam memaknai terpaan infomasi tersebut. Ibarat informasi tidak secara metah-mentah kita makan begitu saja. Allah SWT juga Firman dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 ;

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" (QS. Al Hujurat:6). 

          Di era pandemi covid-19 yang belum usai, kita pernah merasakan manisnya media sosial yang dipergunakan secara tepat dan bijak yaitu di masa Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri yang lalu. Disaat tidak boleh bertemu dan bermaaf-maafan secara langsung, media sosial menjadi solusi dan sarana menyampaikan pesan penuh kedamaian, keramahan yang dibalut sebagai media memaafkan satu dengan yang lainnya. Namun, melihat fenomena akhir-akhir ini ada beberapa hujatan, cacian, berita hoax yang kembali beredar di media sosial, seharusnya kita bisa memilah mana yang baik dan mana yang kurang tepat untuk kita. Jangan sampai malah hal tersebut kita terpancing dan terprovokasi terhadap diskomunikasi yang sengaja disebar. Apalagi kita sering bersinggungan langsung dengan pesta demokrasi (pilpres, pileg dan pilkada) yang tak jarang momen ini dimanfaatkan sebagian orang untuk menyebarkan berita permusuhan antar kelompok.  Jangan sampai juga momen tersebut menjadi prahara untuk memecah belah kerukunan antar berbangsa, beragama dan bernegara di Indonesia.

Penulis : Wahyu Tri Wibowo

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta  

VIDEO PILIHAN