Mohon tunggu...
Wahyu Chandra
Wahyu Chandra Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis dan blogger

Jurnalis dan blogger, tinggal di Makassar

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Accaru-caru, Ritual Leluhur yang Masih Dipraktikkan Nelayan di Galesong

24 Maret 2018   15:19 Diperbarui: 24 Maret 2018   20:37 2806
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ritual accaru-caru di Galesong Takalar. Foto: Wahyu Chandra

Dianggap sebagai leluhur yang menjaga perairan Makassar. Tak banyak informasi yang bisa diperoleh tentang orang tersebut. Konon dulunya adalah tokoh agama yang disebut kare.Ia memiliki jaringmanurung,yang memberi kemakmuran dengan mendatangkan ikan yang banyak di daerah tersebut. Nelayan-nelayan Galesong, khususnya nelayan besar, sebelum melaut umumnya ke makam ini untuk bernazar, kelak ketika pulang dari melaut dengan hasil tangkapan yang banyak akan melakukan ritual dan memberi sesajen yang lebih banyak.

"Beliau dikenal sebagai ampang jenne juku,yang berarti bahwa setiap air pasti ada ikannya. Orang-orang datang untuk berdoa agar hasil tangkapan melimpah," ungkap Daeng Tobo.

Daeng Tobo sendiri mengakui masih memiliki garis keturunan dengan Kare Panai sehingga kewajibannya menjadi bertambah. Apalagi dulunya ia pernah bernazar dan belum melakukannya. Ini menjadi beban bagi dirinya dan keluarganya.

"Baru sekarang bisa melakukannya meski sudah lama diniatkan. Semacam utang yang harus dibayar," katanya.

Makam tua di tempat yang baru ini luasnya sekitar 4x4 meter. Ada beberapa makam di dalamnya. Dalam pelaksanaan ritual doa seorang imam setempat didatangkan. Ia membaca doa dalam Bahasa Arab. Beragam makanan juga dibawa ke bagian dalam makam tersebut. Di batu nisan ditempatkan belasan lilin berwarna merah. Setelah doa dibacakan orang-orang dengan sengaja meneteskan lilin ke batu nisan tersebut sehingga dari kejauhan terlihat seperti tetesan darah.

Setelah ritual dan doa dilafalkan, makanan disajikan di bagian luar makam, dinikmati oleh sejumlah warga dan keluarga Daeng Tobo yang hadir dalam ritual tersebut. Wajah Daeng Tobo terlihat penuh kepuasan seiring berakhirnya ritual. Sebuah nazar telah dituntaskan. Utang-utangnya telah terbayarkan.

Menarik dari semua proses ritual ini adalah tetap dilakukan meski jenis dan bahan baku pembuatan perahu telah berubah dari kayu ke fiber. Bahan fiber disukai karena lebih ringan dan tahan lama. Selain itu sangat mudah dibersihkan tanpa membutuhkan waktu dan biaya yang banyak.

"Ritual accaru-caru tetap harus dilakukan meski ada sedikit perubahan-perubahan. Misalnya pemasangan besi di posi perahu yang biasanya di bagian bawah tengah perahu dipindah ke bagian samping pada bagian tengah kapal," ungkap Daeng Tobo.

Pamali-pamali bagi Nelayan Galesong ketika Melaut

Nelayan Sulawesi Selatan pada umumnya dan nelayan Galesong pada khususnya mengenal sejumlah pamali atau pantangan ketika mereka sedang melaut. Sebagaimana dituturkan Tadjuddin dan dibenarkan oleh Daeng Tobo, terdapat sejumlah kata-kata yang pamali atau pantang diucapkan dan dilakukan oleh nelayan.

Salah satu kata yang tak boleh disebutkan adalah tena. Dalam Bahasa Makassar kata tenaberarti tidak atau tiada. Kata ini dianggap bermakna 'kosong' atau tidak dapat apa-apa bagi nelayan. Sehingga kemudian pantangan untuk menyebutkannya ketika sedang berada di laut. Ini adalah kata kesialan jika diucapkan secara langsung sehingga kemudian diganti dengan kata toa atau tua, yang diartikan sebagai 'kurang'.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun