Mohon tunggu...
Wahyu Chandra
Wahyu Chandra Mohon Tunggu... Jurnalis - Jurnalis dan blogger

Jurnalis dan blogger, tinggal di Makassar

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Para Penjaga Laut Spermonde

13 Maret 2018   09:32 Diperbarui: 13 Maret 2018   09:41 1033
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
dokumentasi pribadi

Meskipun diberi wewenang dan tanggung jawab yang besar, Ridwan mengakui selalu mengikuti prosedur pengawasan yang ada. Tidak melakukan tindakan apa pun kepada pelaku. Hanya sekedar mencatat pelanggaran dan melaporkannya pada dinas atau Polair setempat.

"Kalau ada kasus kita langsung ke lokasi, mencatat dengan rinci, siapa pelaku dan barang buktinya apa, lalu melaporkannya ke petugas yang lebih berwenang. Berdasarkan laporan kami inilah kemudian polisi atau Polair akan mengejar dan menangkap pelaku," katanya.

Kasus-kasus pelanggaran biasanya berupa bom dan bius ikan. Jika bom ikan bisa diketahui dari suara ledakan, maka pembiusan ikan biasanya dilihat dari aktivitas penyelaman yang dilakukan. Di siang hari aktivitas ini mudah diketahui sehingga kemudian banyak yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi di malam hari. Aktivitas mereka biasanya baru diketahui jika ada laporan nelayan setempat yang kebetulan sedang melaut.

"Kadang ada laporan malam-malam. Kami langsung koordinasi dengan seluruh anggota kemudian ke lokasi. Pelaku biasanya dari pulau-pulau sekitar."

Wilayah kerja pengawasan Ridwan sendiri mencakup perairan Pulau Bontosua mencakup beberapa radius kilometer yang mudah diketahui dengan adanya penanda berupa bentangan tali yang diberi pelampung atau bisa disebut DPL. 

Sikap hati-hati dan kewaspadaan memang dibutuhkan dalam pekerjaan ini. Pelaku bom ikan misalnya, bisa saja menggunakan bom ikan yang dimilikinya untuk menyerang, atau menggunakan jenis senjata lain. Untungnya selama ini belum pernah ada kontak fisik dengan para pelaku.

Meski demikian, Ridwan mengakui sering kali mendapat ancaman, meski tidak secara langsung disampaikan kepada dirinya. Hanya berupa desas-desus. Mereka konon masuk dalam daftar sebagai orang-orang yang 'dicekal' memasuki beberapa pulau desa yang warganya banyak dilaporkan Ridwan dan kawan-kawannya.

"Sering kami dengar ada ancaman-ancaman namun kami tidak takut selama kami menjalankan tugas yang diamanahkan. Katanya ada yang marah dilaporkan namun saya tidak peduli."

Tugas lain yang dilakukan Ridwan dan anggota Pokmaswas lainnya adalah membantu dalam mensosialisasikan berbagai kebijakan dan program pemerintah. Termasuk di dalamnya penggunaan alat tangkap yang tidak merusak, tidak membuang sampah di laut, dan lainnya.

Sukses sebagai Nelayan

Ridwan sendiri dulunya merupakan ponggawa pemilik kapal penangkap ikan yang disebut kapal gae, atau dikenal sebagai kapal purse seine. Ia punya armada sendiri dengan jumlah awak belasan orang, terdiri dari warga sekitar atau dari pulau-pulau lain yang direkrut khusus untuk menangkap ikan berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu di laut. Kapal gae ini jangkauannya bisa mencapai Kendari di Sulawesi Tenggara, Kalimantan dan malah bisa lebih jauh lagi mencapai perairan Nusa Tenggara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun