Wahyu  Alfy Lutfihyanto
Wahyu Alfy Lutfihyanto Mahasiswa

Mahasiswa fakultas ekonomi dan bisnis universitas sam ratulangi manado, sedang berproses dalam membaca dan menulis sekaligus berdiskusi. Berasal dari suku mongondow dan berdiam di kota metropolitan. Email : wahyualfylutfihyanto@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen highlight

Aku, Kamu dan Kebisuan Ini

20 April 2017   22:40 Diperbarui: 20 April 2017   22:46 280 2 0

”Bulan dan bintang yang berdekatan, kita berdua yang duduk berseberangan.”

Entah kenapa saat memandanginya dengan lekat dan dalam nyali ini terus menciut dan mungkin hilang. Wajahnya begitu cantik jauh dari kata seram tapi kenapa begitu takut mulut ini mengeluarkan suara untuk membuka obrlan, begitu cangung rasanya. Mungkin karena sudah lama kami tidak bertemu dan saling menegur sapa. Pertemuan malam ini terasa sangat abstrak.

Dia indah, orangnya seindah namanya teman semasa kecil yang sangat baik. Sering sekali dia membantuku ketika di bully teman-teman kelas waktu sekolah dasar dulu, kami sering sekali bermain bersama keita kecil. Memancing di sungai dan menangkap serannga adalah hal yang sangat menyenagnkan apalagi bersamanya dan ketika hari sudah mulai gelap kami selalu menghitung bintang yang ada di langit, memandangi bulan dan bertanya-tanya apa yang ada disana.

Saat masuk sekolah menegah pertama, kami masuk di sekolah yang sama begitu juga saat masuk sekolah menegah atas. Setelah lulus dia memutuskan kuliah di luar kota sedangkan aku memilih untuk kuliah disini, kota yang banyak menyimpan kenangan manis. Begitu berat rasanya berpisah dengan orang yang kita cintai. Saat perpisahan itu perasaan ini masih terpendam sampai sekarang, saat dia duduk di depan.

”Bulan yang membisu enggan menyapa bintang, aku yang diam di tengah keriuhan malam.”

Waktu berjalan sangat pelan, semua terasa berhenti bahkan di tengah riuhnya suasana malam. Aku hanya memandanginya, sesekali melirik rembulan dan bintang yang bersinar terang menghiasi malam. Ingat rasanya ketika di sela canda tawa kita waktu itu, saat memperdebatkat apakah bulan bicara dengan bintang, apa mereka saling bicara. Saat ini aku merasa seperti bulan, berdekatan dengan bintang tapi tak mampu memeluk ataupun menyapanya.

Hampir setengah jam kami duduk masi tetap hening, hanya saling berbalas senyum tanpa ada suara. Malam ini mungkin kami berdualah pantomim paling romantis di dunia. Bercerita lewat gerakan senyum tanpa batas saling melirik mencoba mengatakan sesuatu, saling menunggu siapa yang membuka suara pertama. Ingin rasanya mengungkapkan perasaan ini, perasaan yang sudah lama di pendam dalam diam. Sudah lama aku jatuh cinta padanya tapi di saat ingin mengungkapkannya mulut seketika membisu sama seperti malam ini.   

”Kamu yang tersipu malu saat kutatap, mengembangkan senyum.”

Saat kupandangi dengan lekat, senyumannya begitu manis tak ada yang berubah disana. Semaunya masi sama seperti dulu, seolah ada potongan senja disana. Aku ingat dulu ketika senja dia selalu menceritakan tentang putri yang menuggangi kuda laut lalu menarik matahari sampai tengelam, karna sang putri ingin menyimpannya sendiri dia selalu menenggelamkannya di saat senja lalu diganti bulan dan bintang. Dia selalu menceritakannya hampir di setiap senja, sambil menunjuk ke arah matahari yang sedang tenggelam.

Lalu menarik tanganku sembari berkata dengan suara sedikit berteriak, “lihatlah putri di laut sedang menarik matahari.” Binar dalam matanya begitu tulus memantulkan bayangan matahari senja, sealalu ada senyum yang terkembang disana. Senyuman dari potongan senja yang selalu aku lihat dalam keceriannya, begitu indah. Sama seperti senyumannya malam ini, sang putri yang menyimpan matahari senja di senyuman

.“Eangan rasanya beranjak dari tempat duduk, walaupun tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulut kita.”

            Rasanya ini adalah keheningan paling indah yang pernah aku rasakan, segala rasa bercampur aduk menjadi pelangi indah dalam lingan hujan sepi. Tak biasanya aku betah duduk berlama-lama tanpa mengobrol, tapi kali ini sunguh sangat beda. Berat hati mengangkat badan untuk berdiri lalu leluasa melangkah pergi. Mungkin inilah yang disebut kenyamanan. Atau mungkin akulah yang sedang memberi kenyaman padanya dengan tetap duduk tanpa beranjak.

Sebenarnya memberi adalah tindakan penyatuan, dan itulah esensi cinta menurutku, mengatasi rasa keterasingan dan keterpisahan. Cintalah yang membuat kita tidak sendiri, saling memberi kelebihan untuk menutupi kekurangan satu sama lain. Itulah yang sedang kulakukan sekarang dengan tetap bertahan duduk di depannya. Malam ini kita berdua saling memberi diam di balut sunyi menunggu cinta dalam peraduan.

“Segalanya tentangmu mala mini terlihat sempurna, mungkin bintang akan iri atau bulan akan redup jika aku ungkapkan apa yang kulihat, padamu mala mini.”

            Tak mampu lagi rasanya nalar ini menafsirkan apa yang dilihat mata, selaras dengan detakan jantung tanpa tempo, memaksa hati untuk segera mengungkapkan rasa. Hati dan pikiran saling beradu mencari pemenang. Mungkin sekarang aku sedang merasakan sindrom keindahan, keindahan yang takut untuk aku ungkapkan. Akupun berharap demikian dari pandangan matamu ke arahku.

            “Aku jatuh cinta padamu”

Itulah kata yang sangat ingin kuucapkan malam ini di hadapanmu tapi aku hanya mampu menatapmu. dalam diam dan terus saja membisu.