Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis #Peraih Best In Fiction Kompasiana Award 2018#

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Bereksplorasi di Kompasiana, bagai Air Mencari Muara

25 Oktober 2020   12:07 Diperbarui: 25 Oktober 2020   12:26 319 49 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bereksplorasi di Kompasiana, bagai Air Mencari Muara
Bersama Putri Apriani dan Tutut Setyorinie di acara Kompasianival 2017. Dok. Pribadi.

Hampir tujuh tahun saya bereksplorasi di Kompasiana. Sejak 14 Desember 2013. Bukan waktu yang pendek, karena dalam kurun waktu itu hampir tiap hari saya menyimak, menulis, membaca, berbincang, bertukar ilmu, mencari ilmu, bersosialisasi, dan banyak hal lainnya.

Ibarat berteman, tentu saja telah saling mengenal. Ada pasang surutnya. Karena di manapun, segala sesuatu, pasti mengalami pasang surut. Misalnya, saat saya banyak ide menulis, maka akan sering menulis. Pada saat jenuh dan ide mampet, maka saya memilih menyimak dan membaca. Tetapi di dalam itu masih ada kaitannya: menjamah Kompasiana. 

Eksplorasi pertama saya di Kompasiana menulis fiksi. Mengasah insting menulis dengan karya fiksi, bukanlah hal yang mudah. Karena menceritakan sesuatu yang tidak dialami. Mengandalkan daya imajinasi, seolah saya mengalami kejadian itu. Dalam cerita, terkadang saya memakai tokoh "aku". Meski memakai tokoh "aku" dalam bercerita, belum tentu saya mengalaminya. 

Biasanya saya tak memakai ritual tertentu untuk memulai menulis. Jika ingin menulis, ya menulis saja. Atau misal belum sempat menulisnya karena sedang sibuk, maka biasanya saya membuat draf ringan di handphone. Baru setelah sempat mengembangkannya menjadi suatu cerita yang lebih sempurna. 

Dan apakah itu mudah? Tentu saja tidak. Banyak kendala yang mengikuti. Maklumlah, sebagai seorang ibu yang macem-macem sibuknya, kadang ide menguap begitu saja ditelan angin. Harus diikhlasin idenya jika menghilang. Tetapi tetap berharap, siapa tahu ide yang sama akan muncul kembali. Nah, segera tangkap ide itu sebelum lenyap.

Semakin hari bertambah hari, saat bersentuhan dengan Kompasiana semakin banyak ide yang bermunculan. Tidak melulu menulis fiksi. Karena ada juga ide menulis kuliner, gaya hidup, atau apa saja, senyaman saya ingin menulis.

Karena selain hobi menulis fiksi (terutama cerpen), saya juga suka kuliner. Lalu terpikirkan, bagaimana jika saya tulis dalam bentuk artikel, asyik juga pastinya. Menulis kuliner lebih ke daya imajinasi rasa, dimana saya harus mengalaminya terlebih dahulu, baru menuangkan idenya dalam tulisan.

Dengan mengandalkan kelebihan dalam ilmu icip-icip, merasakan suatu makanan, kemudian saya aplikasikan dalam sebuah tulisan. Bahan makanan apa yang didalamnya, bumbu apa yang dipakai, bentuk sajiannya, dan apa saja yang ada di sebuah sajian tersebut. Kemudian saya ulas. 

Asin, manis, gurih, adalah sebuah cecap rasa dalam sebuah masakan. Aroma rempah-rempah, wangi, sedap, terhirup dalam hidung itulah yang menambah cita rasa. Ibarat melukis, maka apa saja yang ada dalam sebuah masakan, dituangkan dalam sebuah kanvas, kemudian menjadi suatu karya yang indah. Tulisan itu ibarat suatu karya seni, seperti lukisan. 

Bersama Mbak Bekti dan Mbak Suprihati dalam suatu acara. Dok. Pribadi.
Bersama Mbak Bekti dan Mbak Suprihati dalam suatu acara. Dok. Pribadi.
Mengenal Banyak Penulis Hebat dan Belajar Darinya

Tak puas dengan hanya menulis, dalam eksplorasi di Kompasiana, saya juga mengenal banyak penulis hebat yang ada di Kompasiana. Mereka tidak pelit ilmu, low profile, baik hati, dan tidak segan menyapa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x