Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Cerpen | Menuju Fitri, Bahagia yang Datang Tepat Waktu

23 Mei 2019   09:45 Diperbarui: 23 Mei 2019   10:10 0 27 7 Mohon Tunggu...
Cerpen | Menuju Fitri, Bahagia yang Datang Tepat Waktu
Ilustrasi: Dok. Wahyu Sapta

"Bersikaplah baik. Nanti ayahmu pasti akan menuruti permintaanmu."

"Tetapi dari yang sudah-sudah, ayah jarang memberikan sesuatu yang aku inginkan. Apalagi memberi untuk ibu. Mengapa begitu, bu? Apa salah ibu?"

"Sudahlah. Turuti kata ibu. Ibu tunggu di sini. Ibu tak bisa ikut masuk. Ayahmu masih marah pada ibu." kata Runi sambil menahan diri. Hari ini masih puasa. Ia tak bisa bersikap emosi jika ingin puasanya hanya menahan haus dan lapar.

Angannya mengembara pada masa itu. Ketika ia terjerembab dalam kemarahan yang membara. Hingga mengusik ketenangannya dan keluarga.

***

Ini seperti mengerjakan exam. Runi harus menyelesaikannya tanpa salah. Tetapi kehidupan tidaklah sempurna dan manusia tempatnya salah.

"Jika aku tak sempurna, bukankah ini sesuatu yang tak bisa disalahkan?" batinnya. Ia memang merasa  bersalah. Dan ayah dari Ibrahim anak semata wayangnya, belum memaafkannya.

Ia sebenarnya ingin melupakan masa lalu, yang telah membuat hatinya begitu perih. Tetapi ternyata dalam kehidupan, masa lalu akan terus mengikuti dan tak pernah bisa terlupakan. Hanya butuh merelakan, agar masa lalu mengikuti tanpa menganggu. Hal itulah yang masih ia pelajari. Tak mudah memang. Tetapi ia patut bersyukur, karena sekarang dikelilingi orang yang sangat sayang padanya. Ibrahim, juga kakek dan nenek Ibrahim.

Orangtuanya masih merangkul erat. Meski ia telah membuat kecewa mereka. Terutama ayahnya. Yang sejak awal meragukan pilihan hatinya. Ia berpisah dengan Sakti, karena kesalah pahaman. Emosi yang telah membuatnya semakin runyam. Meskipun saat ini ia masih berstatus istri. Tetapi ia tak bisa jika harus tinggal bersama. Ia memilih pulang ke rumah orang tuanya sementara waktu, hingga keadaan memungkinkan untuk kembali.

***

Runi sudah berusaha menebus kesalahan dengan menghubungi Sakti terlebih dahulu. Beberapa kali ia menelponnya. Tidak diangkat. WA juga belum dibalasnya. Padahal ia tahu, Sakti telah membacanya. "Baiklah, tak mengapa, mungkin ia masih marah padaku. Ini salahku. Aku harus bisa menerima jika ia marah, bukan?" batinnya.

Bodohnya ia menuduh Sakti telah berpaling darinya. Suatu hari ia menemukan sebuah pesan singkat. Berisi ucapan mesra dari seorang perempuan bernama Desi. Bagaimana ia bisa menerimanya? Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali.

Saat ia mengkonfirmasikan pada Sakti, ia tampak berkelit dan mengatakan bahwa Desi adalah sahabatnya sejak kecil. Ia biasa bercanda dengan kata-kata yang mesra, padahal sebenarnya tidak. Bagaimana ia percaya? Jika Desi ternyata masih lajang dan belum bersuami?

Emosi yang meletup itu, membuatnya pamit. Runi kembali ke rumah orang tuanya. Bahkan hingga berbulan-bulan. Lebih dari empat bulan. Sebenarnya ada perasaan rindu yang menggema dalam hatinya. Apalagi Ibrahim selalu menanyakan ayahnya.

***

Benar saja, Runi hanya salah paham. Desi memang tidak bermaksud ingin merebut Sakti. Ia telah memiliki kekasih. Orang Perancis dan setelah menikah, Desi dibawanya ke negara tempat asal suaminya. Runi tahu, Sakti adalah orang baik. Sehingga kadang-kadang kebaikan itu disalah artikan oleh orang lain.
Karena tuduhan Runi itulah, maka Sakti marah. Kemarahan itu ditunjukkan dengan sikap diamnya. Dan membiarkan Runi.

***

Lamunan Runi berlanjut. Ia pernah menuliskan sesuatu di buku hariannya. Ia buat ketika keadaan hatinya masih kacau. Dan hatinya sedikit lega, ketika ia menuliskan segala keluh kesah hatinya. Ia baca kembali sambil menunggu Ibrahim menemui ayahnya.

Cinta dan Rindu di Tanganmu
Kau memberikan bibit cinta dan rindu. Kau menyiramnya dengan setulus hati serta kasih sayang. Hingga cinta dan rindu tumbuh dengan baik. Bahkan sesekali kau memberikannya pupuk cemburu. Agar mereka tumbuh dengan subur.
Tetapi saat cinta dan rindu bertumbuh sempurna, kau memangkasnya tanpa ampun. Bersih tak bersisa.
Lalu kau menyiram dan memupuknya kembali, hingga mereka tumbuh kembali. Cinta dan rindu ada kembali, tumbuh kembali.
Begitulah terus menerus.
Oh,
Tahukah kau?
Betapa sakitnya saat kau memangkas cinta dan rindu itu? Mereka mengalami luka.
Lalu dalam luka mereka bertumbuh kembali,
Luka lagi.
Bertumbuh kembali?
Cinta dan rindu ini merasakan riang, lalu nestapa. Begitulah terus menerus.
Mereka merasa, dirinya tak akan pernah menjadi sesuatu yang sempurna, meski kau merawatnya dengan baik, menyiramnya baik pula. Bahkan memupuknya dengan yang terbaik.
Mereka tak akan pernah tumbuh menjadi liar untuk menemukan jati dirinya. Mereka akan selalu patah dan patah. Luka demi luka. Lalu tumbuh, patah, luka, tumbuh, patah, luka, oh.
Cinta dan rindu di tanganmu,
: menyisakan lara.


***

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2