Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Sate Ayam Blora yang Unik dan Lezat

12 Februari 2019   08:09 Diperbarui: 13 Februari 2019   18:54 797 32 18
Sate Ayam Blora yang Unik dan Lezat
Sate Ayam Blora yang Unik dan Lezat. (Dok. Wahyu Sapta).

Beberapa kali, saya memang harus mengunjungi kota Blora untuk suatu urusan. Blora adalah sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah yang banyak memiliki keunikan dan khas tersendiri.

Kota yang dijuluki Kota Samin ini, terkenal sebagai penghasil kayu jati pilihan. Juga memiliki makanan khas yang unik dan lezat rasanya. Seperti Tahu Telur, Soto Klethuk, Es Daun Jati, juga Sate Ayamnya.

Nah, ketika saya berkunjung ke sana untuk kesekian kalinya, saya ingin mencicipi sate ayam khas Blora. Konon katanya sate Blora itu enak dan khas, sehingga Blora juga dijuluki Kota Sate. 

Pilihan saya jatuh pada warung makan Sate Ayam Kampung Pak Teguh yang berada di Jl. Pemuda 25 Blora. Lokasinya berada tidak jauh dari pusat kota alias Alun-alun Blora. Buka mulai pukul tujuh pagi hingga sepuluh malam. Kata kawan saya, ada yang unik dari warung makan sate di Blora ini. Saya pun penasaran. Apa sih keunikannya?

Ketika memasuki warung tersebut, ada salah satu keunikan. Di dinding warung tertempel kertas yang berisi angka-angka dengan tulisan tangan. Sepintas mirip kalender. Tapi angkanya banyak sekali. Setelah saya baca, ternyata tulisan itu adalah daftar harga.

Saya merasa berada di tahun yang sudah lama ketika membaca tulisan tersebut, karena menulisnya memakai tangan. Hahaha.... Dari harga lima tusuk hingga ratusan tusuk. O, begitu ya.

Daftar Harga yang dituliskan dengan tulisan tangan. Unik. Karena terasa seperti di masa lalu. Klasik. (Dok. Wahyu Sapta).
Daftar Harga yang dituliskan dengan tulisan tangan. Unik. Karena terasa seperti di masa lalu. Klasik. (Dok. Wahyu Sapta).
Lalu saat kami duduk, penjualnya bertanya, mau makan berapa orang? Setelah saya menjawab, kemudian dikeluarkan piring yang berisi bumbu sate sebanyak pesanan. Juga nasi putih. Loh, cuma bumbu dan nasi? Ternyata satenya baru dibakar. Setelah sate matang, disajikan dalam sebuah piring. Tanpa dihitung, disajikan seluruhnya, sebanyak ia membakarnya. 

Nah ini. Keunikan lainnya. Ternyata terserah kita ingin makan berapa tusuk, tinggal mengambil dari piring yang berisi sate tersebut. Kemudian sate kita pindahkan ke dalam piring berisi bumbu sate yang disajikan di awal tadi.

Sate ayam kampung dibakar, kemudian disajikan dalam satu piring tanpa dihitung. Terserah pembeli, ingin menikmati berapa tusuk. (Dok. Wahyu Sapta).
Sate ayam kampung dibakar, kemudian disajikan dalam satu piring tanpa dihitung. Terserah pembeli, ingin menikmati berapa tusuk. (Dok. Wahyu Sapta).
Apakah ada keunikan lain lagi? Ada. Keunikan itu adalah, disajikan juga semangkok kuah opor. Kok? Ya memang uniknya seperti itu. Lalu bagaimana cara memakannya? Nasi Putih, diberi beberapa sate yang telah dimasukkan bumbu sate, kemudian disiram kuah opor. O, begitu?

Baru kali ini saya merasakan sate yang disiram dengan kuah opor. Tapi sih ini terserah selera pembeli. Jika tidak memakai kuah opor juga tidak mengapa. Tetapi karena penasaran, saya tetap memakai kuah opor.

Sajian terdiri dari Sepiring Sate Ayam, bumbu sate, dan kuah opor. (Dok. Wahyu Sapta).
Sajian terdiri dari Sepiring Sate Ayam, bumbu sate, dan kuah opor. (Dok. Wahyu Sapta).
Saatnya mencicipi. Bumbu satenya. Kacang tanah digiling halus sekali. Rasanya hanya asin dan gurih. Tidak memakai kecap dan cabai seperti bumbu sate kota lainnya. Tetapi jika ingin agak manis dan pedas, bisa menambahkan kecap dan sambal cabai yang telah disediakan. Baiklah. Saya menambahkannya. 

Kemudian sate ayamnya. Sate ayam kampung, dagingnya empuk, tidak terlalu tebal sehingga matangnya pas. Manis dan bumbu meresap dalam daging. Ketumbarnya terasa. Manis gurihnya pas. Sedap dan lezat. Saat disatukan dengan bumbunya, sate ayam ini sungguh pas. Hem, pantas saja jika Blora terkenal satenya. Karena memang lezat dan klasik. 

Saat saya mencicipi kuah opor, rasa kuahnya ringan, memakai santan encer dan segar. Tidak neg, jadi cocok jika digabungkan dengan sate. Kemudian saya menyiramkan kuah opor ke dalam piring yang berisi nasi dan sate. Rasanya? Enak dan lezat. Cocok.

Tak terasa tandas sudah nasi dan beberapa tusuk sate yang ada di hadapan saya. Hem, tertuntaskan rasa lapar saya dan rasa penasaran tentang Sate Ayam Blora. 

Dan, eit! Masih ada satu keunikan lagi. Apakah itu? Jadi, saat kita makan, jangan sampai tusuk sate kita buang atau disembunyikan ke dalam saku ya. Hahaha... kok gitu? 

Iya, ini berpengaruh pada saat menghitung harga. Harga dihitung dari jumlah tusuk sate yang kita makan. Penjual akan mengambil tusuk sate yang ada di piring, kemudian menghitungnya. Tidak tergantung berapa porsi, tetapi berapa tusuk. Unik ya?

Cara menentukan harga dengan menghitung berapa tusuk sate yang telah dinikmati. Unik ya. (Dok. Wahyu Sapta).
Cara menentukan harga dengan menghitung berapa tusuk sate yang telah dinikmati. Unik ya. (Dok. Wahyu Sapta).
Harganya tidak mahal. Lima tusuk hanya dua belas ribu lima ratus rupiah. Sedangkan sepuluh tusuk dua puluh lima ribu rupiah. Hem... sedap lah. Enak, unik dan ramah di kantong. Juga kenyang.

Jadi, jika sedang berada di Blora, mampir mencicipi sate Blora. Unik dan lezat.

Ciao, 

Wahyu Sapta.
Semarang, 12 Februari 2019.