Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Lukamu

5 Desember 2018   00:01 Diperbarui: 5 Desember 2018   00:04 0 37 19 Mohon Tunggu...
Puisi | Lukamu
Ilustrasi: Pixabay.com

tak perlu sejarah untuk bisa melukaiku, jika ingin pergi, pergi saja, tak perlu membawa-bawa kasihan diri, seperti layaknya orang terluka tak berkesudahan.

aku mengerti jika dalam jiwamu, tak pernah bersemanyam jiwaku, meski senanar waktu terbentang tegak lurus ke arahku, akulah pembawa hatimu.

bagaimana cara kita agar saling mengerti? tanyamu. lalu kujawab, bahwa ada pada suatu waktu yang tepat membawa kita pada suatu tempat ruang kosong bagi hatimu yang mengerang.

aku butuh kamu, serumu. tetapi tak pernah sekalipun kau menjatuhkan rasa sayangmu padaku.

aku tak lebih hanya sebuah cinta dirimu dalam diriku, yang kau jaga hanya untuk menitipkan sebait puisi pahit,

kau buka berlembar-lembar hariku hanya untuk menuliskan kepedihanmu,

aku, adalah cintamu yang lara, dalam sebuah buku penyimpan lukamu.

Semarang, 4 Desember 2018.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x