Mohon tunggu...
Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Mohon Tunggu... Penulis

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Saat Gembira dan Sedih Berpadu

6 November 2018   12:40 Diperbarui: 6 November 2018   16:32 0 19 13 Mohon Tunggu...
Puisi | Saat Gembira dan Sedih Berpadu
Ilustrasi: Pixabay.com

Kehidupan mengalir, bagai anak sungai. Menderas, ikuti alirannya. Jika saat tiba, berakhir pada suatu tempat bernama Muara.

Muara membawa aliran ke lautan luas, tak berbatas.

Selesailah kehidupan.

Kemudian kehidupan, menemui hidup baru, di alam lain. Kehidupan yang lebih abadi.

Di dalam perjalanan, kehidupan bertemu dengan kisah-kisah dan cerita. Kadang menemui aliran berbatu, berkelok-kelok, aliran tenang.

Saat lewati aliran bebatuan, akan berisik, ramai. Meski begitu, aliran sungai akan tetap berjalan. Tak peduli dengan keriuhan, ramai atau berisik. Kehidupan akan tetap berjalan.

Begitupun saat aliran berkelok. Aliran sungai tetap berjalan, dan berjalan, meski harus berliku dan berkelok jalannya. Ia tak kan letih berjalan.

Saat aliran tenang, menghanyutkan diri. Aliran akan tetap berjalan, meski tenang airnya. Hei, zona nyaman ketenangan bahkan kadang-kadang melenakan. Bila tak hati-hati, akan membuat salah.

Begitulah hidup.

Hidup menemui bermacam masalah. Bila tak begitu, artinya hidup telah berakhir. Tak berdenyut. Tak memiliki tanda-tanda.

Suka duka dalam hidup sudah biasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x