Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Kita yang Hidup dalam Cerita

20 Oktober 2018   16:58 Diperbarui: 7 November 2018   17:01 928 43 24
Cerpen | Kita yang Hidup dalam Cerita
Ilustrasi: favim.pl

Darojati

Sisa-sisa pergumulan semalam adalah luka. Kertas-kertas yang berserakan, sisa-sisa air mata di atas seprai kusut, dan kehampaan. Di atas semua itu, seseorang tertidur dengan riasan luntur seperti bayi. Perempuan yang sedang terlelap dalam mimpi-mimpinya. Setelah semalaman tersesat dalam belantara benaknya. Seseorang itu adalah belahan jiwaku.

Arjani

Aku merasa, ia sedang mengamatiku sekarang. Kadang-kadang, aku tak memahami jalan pikirannya. Mengapa ia keberatan dengan apa yang kulakukan? Aku menyukai duniaku. Keindahan yang abadi. Keindahan yang... hem, aku suka memolesnya. Dengan dentuman dan desiran hati. Tentu saja agar lelakiku bahagia. Ya, bahagia karena memilikiku. Tetapi, mengapa ia tak kunjung mengerti? Hanya satu yang kuiinginkan, lelakiku takluk padaku oleh cintaku.

Darojati

"Bangunlah... matahari sedang memanggilmu." Kusibakkan tirai. Sinar cerah jatuh di wajah tirus belahan jiwaku. Menerangi kulit pucatnya seperti pijar lampu. Ia menggeliat seperti putri tidur yang resah. Kelopak matanya terbuka sesaat, lalu terkatup kembali. Lima detik kemudian, ia mengerjap-ngerjapkan mata dan menatap hampa ke langit-langit.

Arjani

Sinar yang menyilaukan. Terlelap di bahu lelakiku semalam membuatku nyaman. Menjadikanku malas terjaga. Kelopak mataku berat, rasanya enggan terbuka. Selalu saja, aku mendambakan kokoh bahunya, mencari-cari alasan agar aku tetap berada di sampingnya. Namun, jika sudah begitu, tak ada resah yang bisa kuungkapkan. 

Semua berjalan seperti rutinitas. Entah mengapa. Mungkin karena sepasang mata redup itu, yang tak pernah kutemui di mana pun. Bahkan di sela-sela kelopak bunga yang kuhampiri di pagi hari, yang dulu pernah menyihirku agar aku melupakan segalanya. Sepasang mata redup itu, telah mengalahkan segalanya.

Darojati

"Sudah saatnya kau terjaga. Di dunia kita." Kuucapkan kata kita dengan hati tersayat. Kata itu akhir-akhir ini telah berubah menjadi aku dan kau yang terpisah isi oleh kepala kita dan sulit menyatu kembali. Meski ia selalu mengatakan, aku tetaplah aku yang ia sukai, meski aku hanya mampu memahami separuh dari hal-hal yang yang berseliweran dalam benaknya. Seluruh kamu adalah kamu, lelakiku. Katanya pada suatu pagi yang mendung.

Arjani

Sepasang mata redup itu kini tampak menyala. Apakah lelakiku tidak tahu bahwa aku memujanya? Untuk menjadi belahan jiwanya, aku membutuhkan waktu yang begitu panjang. Mengapa harus kusia-siakan? Segala cara telah kutempuh agar bisa bersamanya. Meski aku tak pernah mengucapkannya. Aku hanya menyampaikannya lewat tatapan mata sendu dan setumpuk kecemasan. 

Suatu hari, aku segera datang dalam hitungan menit hanya untuk mendengar keluhannya. Karena ia membutuhkan pertolonganku. Itu cinta, bukan? Meski aku pernah mengeluh, bahwa berada di dekatnya adalah sesuatu yang terkadang membingungkan. Sejujurnya, aku tak sanggup berada jauh darinya. Mengapa ia menatapku seperti itu?

Darojati

"Kertas-kertas ini bukan kisah tentang kita!" Aku memunguti kertas-kertas yang bertebaran dan melemparkannya ke udara dengan kalap. "Lihat aku! Lelakimu! Aku bukan tokoh dalam benakmu. Aku nyata!" Kuraih kerah piamanya. Aku ingin menatap dalam-dalam sepasang mata bundarnya, lalu mengusir pikiran-pikiran celaka yang bercokol di dalamnya. Aku ingin merampasnya kembali, karena seluruh dirinya seharusnya adalah milikku, belahan jiwaku.

Arjani

Kemarahannya membuatku tersentak. Mungkin, ia belum menyadari sesuatu. Siapa yang pernah melindungi bayang-bayangnya, agar ia tak bertengkar dengan siapa pun? Khilaf dan lalai kerap mengikutinya tanpa disadarinya. Akulah yang menyingkirkannya. Ia selalu berjalan di depanku, menjadikanku pengamat sejati sekaligus penjaganya. Ia jumawa. Apalagi di saat api kemarahan berkobar. Suara amuk, pecahan kaca, dan kenangan yang terluka di atas seprai kusut. Suara-suara itu memekakkan telingaku. Merusak ide-ide dalam benakku. Tidak cukupkah semua itu?

Darojati

"Sudah cukup mimpi-mimpimu itu. Cukup kataku. Bangunlah sekarang, atau... kata kita akan musnah. Selamanya." Kedua tanganku terkepal. Kemarahan terasa menghancurkanku perlahan. Aku tahu, aku sedang membunuh diriku sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2