Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Kuliner Artikel Utama

Nikmatnya Nasi Pindang Kudus dengan Campuran Daun Melinjo

5 Agustus 2018   04:56 Diperbarui: 5 Agustus 2018   15:23 879 21 12
Nikmatnya Nasi Pindang Kudus dengan Campuran Daun Melinjo
Sepiring Nasi Pindang Kudus berkuah santan dengan daun melinjo yang rasanya lezat dan daunnya kres-kres. Nyumi... (dokpri).

Hari Sabtu kemarin saya dan teman saya ada urusan ke kota Kudus. Kota yang sering dijuluki kota kretek. Berjarak kurang lebih 50 km dari kota Semarang dan memiliki jarak tempuh satu setengah jam, jika sedang tidak macet.

Sesampai di kota Kudus, saya dan teman saya ini segera menyelesaikan urusan, yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan pusat kota atau Simpang Tujuh Kudus alun-alunnya kota ini.

Selesai urusan, waktu menunjukkan jam makan siang. Perut lapar minta diisi. Lalu teman saya mengajak makan siang. "Kita nyoto yuk," katanya. Saya sih ayo saja. Kudus memang terkenal dengan sotonya. Di kepala saya, sudah terbayang lezatnya nasi soto. Maklum, lagi lapar. Hehehe...

Kata teman saya tadi, ada tempat kuliner yang asik di dekat pusat kota. Namanya Pujasera Taman Bojana. Di sana tersedia berbagai macam jajanan yang  patut dicoba. Dari oleh-oleh khas Kudus, jajanan tradisional hingga kuliner nasi khas Kudus yang enak tentunya, seperti soto dan lainnya.

Di sana banyak penjual yang menawarkan sajian soto. Kita tinggal memilih, warung mana yang hendak dituju. Teman saya memilih warung Masakan Khas Kudus Pak H. Sulichan. Katanya, jika ke Kudus, ia sering makan di sini.

Warung Pak H Sulichan menyediakan makanan khas Kudus. (Dokpri).
Warung Pak H Sulichan menyediakan makanan khas Kudus. (Dokpri).
Baru duduk, penjaga warung menawari kami mau makan apa. Mau soto atau nasi pindang? Nah, tujuan awal tadi sih adalah makan soto. Tetapi demi mendengar ada nasi pindang, maka saya berbelok arah. Tidak jadi memesan soto melainkan nasi pindang. Saya penasaran. Seperti apa sih nasi pindang itu? Lalu saya memilih nasi pindang.

Penjualnya bertanya lagi. Mau yang ayam atau kerbau? Oh, ada dua macam rasa ya? Ya sudah, saya memilih nasi pindang daging kerbau. Wah, jadi makin penasaran. Karena biasanya kan masakan berbahan dasar daging, selalu memakai daging sapi.

Sebagaimana diketahui bahwa, jika jajan di kota Kudus, jarang sekali ada daging sapi. Baik untuk masakan soto, sop atau bakso. Daging sapi ini digantikan dengan daging kerbau. Karena konon zaman dahulu, saat perkembangan agama Islam di kota Kudus, untuk menghormati pemeluk agama Hindu sebagai agama yang lebih dulu ada di masyarakat, maka daging sapi digantikan dengan daging kerbau. Karena sapi merupakan binatang yang dihargai dan tidak boleh dimakan bagi umat Hindu. Dan kebiasaan ini secara turun temurun tetap berlanjut hingga sekarang.

Pesanan datang nggak pakai lama. Sepiring nasi pindang tersaji di depan saya. Hem, nampaknya enak dan segar. Aromanya khas. Nasi dengan daging kerbau yang disiram dengan kuah berwarna coklat dan bersantan. Dan yang menjadi ciri khas dari nasi pindang ini adalah memakai godong so atau daun melinjo! Daun yang sengaja dibuat tidak matang sekali, sehingga masih terasa kres-kres, sangat segar.

Sepiring nasi pindang ini, saat menyajikan ditaruh di atas samir atau beralas daun pisang. Nasi putih, diberi ayam atau daging kerbau, baru kemudian disiram dengan kuah santan yang sudah ada daun melinjo. Rasa kuahnya manis gurih. Hampir mirip kuah nasi gandul ciri khas kota Pati. Tetapi kuah nasi pindang memakai kluwak sebagai bumbu dasarnya, sedangkan kuah nasi gandul tidak memakai kluwak. Mirip kuah nasi rawon, tetapi ia memakai santan. Sedang rawon tidak memakai santan.

Saat menyajikan Nasi Pindang memakai samir atau alas daun pisang. (Dokpri).
Saat menyajikan Nasi Pindang memakai samir atau alas daun pisang. (Dokpri).
Oya, nasi pindang ini, dulu katanya adalah sajian untuk hajatan seperti ketika pesta pernikahan atau khitanan, sebagai suguhan untuk tamu. Zaman dulu, jika ada pesta pernikahan, maka sajiannya tidak secara prasmanan atau mengambil sendiri. Melainkan diambilkan oleh pemilik hajat, kemudian dibagikan kepada tamu secara berantai. Unik, ya. Sekarang sudah jarang ada cara seperti ini.

Sebagai teman makan nasi pindang ada berbagai gorengan, perkedel, tempe/tahu goreng, otak goreng, paru goreng, sate telur puyuh, kerupuk rambak, hati ampela goreng, telur pindang dan masih banyak lagi. Khusus untuk kerupuk rambak, biasanya akan ditawarkan tersendiri. Penjual bertanya terlebih dahulu. Mau memakai kerupuk rambak? Jika iya, maka piring yang berisi beberapa kerupuk rambak akan disajikan. Hem... cocok deh.

Sebagai pelengkap makan nasi pindang dan soto, ada berbagai macam gorengan dan sate telur puyuh. Mantap deh... (dokpri).
Sebagai pelengkap makan nasi pindang dan soto, ada berbagai macam gorengan dan sate telur puyuh. Mantap deh... (dokpri).
Sedang teman saya memilih semangkok soto. Soto khas Kudus, juga memiliki dua macam rasa, ayam dan kerbau. Tak kalah segarnya, nasi Soto Kudus sangat khas. Memakai daun kucai dan bawang goreng yang mantap sebagai taburan. 

Kucai ini bentuk daunnya seperti rumput, tetapi memiliki aroma khas mirip daun bawang. Saya sudah jarang menemui daun kucai untuk sajian soto, selain di kota Kudus ini. Nasi soto, kata teman saya rasanya segar dan lezat. Khas karena ada irisan daun kucai dan bawang putih goreng, sebagai taburan di atas semangkok soto. Nyumi...

Soto Kudus, topingnya memakai irisan daun kucai dan bawang putih goreng, membuat lezat sotonya. (Dokpri).
Soto Kudus, topingnya memakai irisan daun kucai dan bawang putih goreng, membuat lezat sotonya. (Dokpri).
Tandas sudah. Tinggal wadahnya. Saatnya berhitung, untuk satu porsi nasi pindang ataupun nasi soto, dibandrol hanya limabelas ribu rupiah. Berbagai gorengan sekitar empat ribu hingga tujuh ribu limaratus rupiah. Mantap dan mengenyangkan. Lezato... Kapan-kapan jika saya ke Kudus kembali, sepertinya bakalan mampir lagi deh.

Selamat berakhir pekan, ya.

Salam,

Wahyu Sapta.  

Semarang, 5 Agustus 2018.