Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Ceria Lebaran Berkumpul Keluarga

14 Juni 2018   14:12 Diperbarui: 14 Juni 2018   14:14 241 5 4
Ceria Lebaran Berkumpul Keluarga
Ilustrasi: Republika

Pagi-pagi sudah bangun. Sejak sebelum subuh. Tetapi bukan lagi untuk sahur. Puasa sudah berakhir. Tadi, semalaman menggema takbir, mengagungkan Asma Allah.

Allahu akbar... Allahu akbar.. Allahu akbar... Laa-ilaaha-illallaahu wallaahu akbar. Allahu akbar walillaahil-hamd.

Ada perasaan sedih dan gembira. Sedih karena harus berpisah dengan ramadan suci. Padahal belum lagi menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk. Tetapi memang, penyesalan datangnya pasti terlambat. Akhirnya hanya bisa berjanji, agar lebih baik dan lebih khusyuk dalam beribadah di ramadan tahun depan. Semoga saja, masih bisa diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa berjumpa dengan ramadan kembali.

Gembira, karena bertemu dengan hari kemenangan di lebaran nan fitri. Berhasil menaklukkan sebuah rasa agar lebih sabar dan selalu berbuat baik selama satu bulan penuh. Berhasil menahan lapar dan dahaga juga hawa nafsu diri sendiri. Berharapnya sih mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari Allah Azza wa Jalla. Aamiin.

Hum...

Saat selesai subuh. Harus antri kamar mandi. Kebutuhan mandi mendadak berbarengan. Terpaksa harus antri. Setelah selesai, semua bersiap untuk ke lapangan salat Ied berjamaah. Semua tampak bersih, cakep dan keren. Lebaran gituh loh... baju baru, Alhamdulillah. Tidak baru juga tidak apa-apa, masih ada baju yang lama. Sing a sooong...

Sesampai di lapangan sudah banyak yang duduk bersimpuh. Semua menghadap arah kiblat. Rapi. Menunggu saatnya salat berjamaah. Antara jamaah laki-laki dan perempuan, tempatnya di pisahkan. Laki-laki berada di depan, sedangkan perempuan di belakang.

Semua usia, bersuka cita, berbondong-bondong ke lapangan. Beberapa ada pula yang salat Ied di masjid besar. Sama saja, salat di lapangan ataupun di masjid, tetap untuk memuji asma Allah. Bersyukur atas karunia-Nya. Betapa besar Kuasa-Nya yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Hanya kepada Allah kita menyembah dan memuji nama-Nya. Allah Maha Besar.. Allah Maha Besar... Allah Maha Besar... Tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.. Allah Maha Besar... Allah Maha Besar... dan segala puji bagi Allah.

Hati terasa tenang dan adem.

Selesai salat Ied, saatnya berkumpul keluarga. Saling bersalaman. Sungkem pada orang tua. Kemudian sungkem pada suami, baru salam-salaman ke kakak dan adik, keponakan juga anak-anak.

Mari, kita serbu meja makan! Lontong opor dan teman-temannya. Menu utama saat lebaran. Alhamdulillah. Bersuka cita yang dirasakan menambah keakraban keluarga. Saatnya menunjukkan kasih sayang kepada keluarga. Pada orang tua, saudara dan keluarga besar.

Ruang tamu berisi toples-toples kue lebaran. Meriah. Anak-anak bercanda dengan para sepupunya.

Salam Tempel time... !

Ada yang lucu. Ayah ikut dalam antrian barisan salam tempel. Anak-anak dan sepunya protes sambil tertawa. Ayah memang begitu. Sukanya menggoda.

Keceriaan ada dalam kumpul bersama di hari lebaran. Saling bermaaf-maafan, menjadikan mereka  kembali putih. Memaafkan segala kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Manusia tempatnya khilaf. Kadang tidak terasa berbuat kesalahan. Meskipun juga pernah berbuat kesalahan saat jengkel. Sengaja. Padahal menyakiti orang lain itu tak baik. Hayo, enggak boleh ya.

Nah, saat lebaran inilah, saling memaafkan, kembali ke titik nol. Kosong-kosong, ya!

Kesalahan tidak butuh diingat. Ingat saja kebaikan-kebaikan. Bukan kejelekan dan lainnya.

So, untuk teman Kompasianer, saya sekeluarga mengucapkan: "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H. Mohon maaf atas segala kesalahan saya, baik yang sengaja maupun yang tidak. Manusia tempatnya salah dan tak pernah bisa sempurna. Begitu juga kami."

Ciao... Salam,

Wahyu Sapta.

Semarang, 14 Juni 2018.

"Eh, Bun. Udah selesai tulisannya?""

"Sudah Ayah. Makasih ya Yah, sudah mendukung Bunda buat nulis. Ayah baik hati,"

"Sama-sama, Bun."

Semarang, 14 Juni 2018.