Wahyu Sapta
Wahyu Sapta Kompasianer

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Ketika Kulihat Kau Semakin Tua

14 Januari 2018   07:40 Diperbarui: 14 Januari 2018   22:35 1797 18 14
Cerpen | Ketika Kulihat Kau Semakin Tua
Ilustrasi: Pixabay

Ketika kulihat kau tampak semakin tua, dengan syal dileher dan batuk kecil. Kau semakin indah dimataku. Guratan-guratan tipis di sekitar mata, membuatmu anggun, bahkan mampu memancarkan sinar keibuan yang kental.

Kau seorang wanita yang tangguh, begitu tabah menemaniku dalam keadaan apapun. Dalam ukuran wanita normal, kau mampu melewati segala permasalahan yang membelenggu selama ini. Kau tak pernah mengeluh, bahkan sedikit menggerutupun tidak. Aku tak pernah mendengarnya.

Kau menerima dengan ikhlas kehidupan kita. Menjalani hidup di desa. Dengan berbekal keahlianku mencari batu, tak banyak yang bisa aku berikan padamu. Kadang ketika musim panen tiba, maka banyak mereka membangun rumah membutuhkan batu, mereka memesan padaku, itupun tak seberapa.

Dan ketika musim paceklik, batu banyak menumpuk di pekarangan rumah menunggu pembeli datang. Kau tak pernah mengeluh, selalu saja kau bisa mengatur segala kebutuhan hidup dengan baik.

Bahkan ketika banyak kekurangan dalam bidang finansial kau dengan cekatan menutupnya dengan penghasilanmu sebagai pengarang. Honormu sebagai pengarang itu pulalah yang mampu menyekolahkan anak kita hingga ke perguruan tinggi dan sekarang bekerja sebagai pegawai Bank.

Kau tak pernah menuntut apapun dariku, kau hanya butuh cintaku, cinta yang tulus dari seorang lelaki pencari batu seperti diriku.

Beberapa puluh tahun yang lalu, ketika kunyatakan cintaku padamu, aku seorang lelaki muda yang gagah, anak seorang kaya dikampung kita. Ya, orangtuaku memang terpandang di kampung. Tapi aku tak pernah merasa kaya, aku hanya seorang lelaki yang kebetulan hidup dilingkungan orang kaya. Dengan keras kepala, ketika aku tak mau menerima bantuan dari siapapun termasuk orang tuaku untuk membantu keuangan, kau bahkan mendukungku. Uang bukan segalanya, katamu saat itu. Dengan cinta kita kita bisa hidup. Dan kau buktikan hingga sekarang.

***

Beberapa hari ini, batukmu kian menjadi, kau bahkan sampai sesak nafas. Aku tahu, kau sangat menderita, tapi tak pernah kau tampakkan. Kau tetap tersenyum. Ketika menyambutku pulang dari mengambil batu. Senyuman tulusmu, membuatku tetap semangat dan tetap hidup dengan segala keterbatasanku. Apapun yang aku peroleh hari itu kau terima dengan hati ikhlas, tak pernah memprotes.

Bahkan kadang aku yang protes, kenapa kau tak pernah protes terhadap diriku. Kau menjawab, "Sayang, dalam hidup, kadang-kadang keputusan yang terbaik adalah menerima keadaan, apapun keadaan itu."

Dan bila kau yang mengatakan itu, aku seperti berada di gunung es yang sejuk dan dingin, nyaman sekali. Aku benar-benar merasa beruntung memiliki dirimu. Kau bukan saja sebagai penasehat hidupku, tapi kau juga sekaligus penyejuk jiwaku. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila aku hidup tanpa dirimu.

***

Hari ini seperti biasa, pagi hari setelah subuh, kau telah mempersiapkan segala kebutuhanku untuk bekerja pagi ini. Tak lupa kau membawakan bekal makan siang untukku. Kau selalu perfekto untuk ukuran seorang ibu rumah tangga.

Kau berkata, "Sayang, hari ini aku memasak oseng jamur dan bacem tahu kesukaanmu untuk bekal makan siangmu, kau harus jaga diri, jangan terlalu memforsir diri. Cukup kau menyuruh Danu dan Kus untuk mengumpulkan batu. Tetap semangat sayang, cintaku bersama."

Seperti biasanya dengan senyum tulus mengembang dari bibirmu yang agak pucat. Dan seperti biasanya pula aku berangkat dengan semangat yang berasal dari dirimu, kukemasi perlengkapan kerjaku.

***

Batukmu semakin bertambah. Ketika kutanya dirimu, apakah kau baik-baik saja, kau menjawabnya, "Aku baik-baik saja sayang, hari ini aku harus menyelesaikan satu cerita yang sedikit lagi memasuki ending cerita. Cintamu membuatku semangat, jangan kawatirkan tentang diriku."

Aku berangkat dengan langkah berat, meski ada sesuatu yang aku tak tahu sangat memberati langkahku. Mungkin karena dirimu yang sakit dan aku tak mampu berbuat banyak untuk menyembuhkan sakitmu atau karena batukmu hari ini yang semakin menjadi. Entahlah..

Pagi ini aku harus berangkat lebih awal karena pesanan batu banyak dan tak bisa menundanya. Seperti biasanya dan seperti hari-hari sebelumnya. Setelah subuh aku berangkat mencari batu, dan kau memulai aktifitasmu dibalik laptop kesayanganmu. Semua berjalan seperti biasanya.

Tapi pagi ini kau kelihatan pucat dan sayu, serta batuk yang tak kunjung henti. Selalu kau bilang aku tak apa-apa sayang, tidak usah terlalu menjadi beban pikirmu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3