Wahyu Sapta
Wahyu Sapta karyawan swasta

Menyatulah dengan alam, bersahabatlah dengan alam, ikuti alirannya, lalu kau rasakan, bahwa dunia itu indah, tanpa ada suatu pertentangan, damai, nyaman, teratur, seperti derap irama alam berpadu, nyanyian angin, nyanyian jiwa, beiringan, dekat tapi tak pernah berselisih, seimbang, tenang, alam, angin, jiwa, mempadu nyanyian tanpa pernah sumbang...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Aku, Pemilik Hati yang Beku #5

12 September 2017   15:41 Diperbarui: 12 September 2017   15:55 512 9 3
Aku, Pemilik Hati yang Beku #5
Ilustrasi: pixabay.com

Sebelumnya:

Setelah kejadian tiga tahun lalu, aku ditemukan om Tommy dan tante Hanny istrinya. Aku diadopsi. Saat ditemukan, aku tak menyebutkan dari mana asalku dan siapa ayahku. Aku hanya menceritakan bahwa aku adalah korban penculikan, dan tak memiliki keluarga. Mereka iba dan mau merawatku. Kemudian aku mulai berkenalan dengan Sakti, teman satu kampus, yang sedikit lucu tetapi agak garing.

***

Waktu berjalan cepat. Tak pernah kubayangkan bahwa telah banyak kejadian yang mengikuti selama ini. Masa lalu yang begitu biru, membuat hatiku kelu. Sebenarnya aku tak menginginkan untuk mengingatnya. Tetapi, bayangan itu akan selalu ada. Tak bisa kupungkiri. Masa lalu, tetap ada di sekelibat bayangku. 

Masa-masa untuk meluluhkan hati yang membiru, juga membutuhkan waktu. Aku beruntung bertemu orang-orang yang selalu menyayangiku, meski mereka tak mengetahui siapa aku. Dari mana asal-usulku. Mereka tak pernah mempermasalahkan. Bahkan tak pernah menanyakan padaku. Yang ada hanya ketulusan hati dan rasa sayang.

Aku hanyalah seorang yang menempati ruang salah pada masa lampau. Dan ketika waktu berjalan begitu cepat, membawaku ke tempat yang seharusnya. Meski mungkin bukan hakku untuk menempatinya. Tetapi aku sendiri tak tahu, apakah ini memang merupakan hak atau bukan. Karena dalam kenyataan, orang-orang di masaku sekarang, menyayangi dan baik padaku. Hati yang beku, berangsur memerah kembali, sebagaimana harusnya.

***

Sudah lama aku tak bertemu ayah. Lebih tepatnya, tak mengunjungi ayah. Meski secara diam-diam tanpa sepengetahuan ayah. Aku ingin tahu, bagaimana keadaan ayah. Apakah sehat-sehat saja? Salahku juga, terlalu sibuk dengan urusan kuliah dan aktivitas dekorasi, karena memang cukup menguras waktu dan pikiran.

Aku berencana sore ini mengunjungi ayah. 

Ketika sore sedikit mendung dan sedikit gelap dari yang seharusnya, tak menyurutkan langkah untuk pergi ke rumah ayah. Rumah itu masih sama. Kesederhanaan yang menonjol di rumah ayah, membuatku kangen. Bagaimanapun, aku pernah menghuninya selama lima belas tahun. Berkembang hingga menjadi seorang remaja yang kebingungan karena sikap ayah. Juga tante Devi. Ah, sudahlah. Aku tak ingin mengingatkan terlalu dalam. 

Dari kejauhan ayah sedang duduk di beranda. Hal yang selalu dilakukan semenjak aku tak ada di sana. Mungkin menungguku. Aku hanya menebaknya. Karena toh, tak setiap waktu aku bisa melihatnya. Hanya sesekali, saat rindu pada ayah tak terbendung. Seperti saat ini.

Ayah masih sama. Aku membayangkan raut wajahnya tanpa senyum. Tetapi aku hanya bisa membayangkan. Karena untuk dekat, aku tak bisa. Oh, ayah. Aku anakmu, telah memiliki kehidupan yang baru. Kehidupan yang lebih baik dari kehidupan yang seharusnya aku berada. Kehidupan di sisi ayah. 

Sudut mataku berair. Menetes pelan di pipi. Aku mengusapnya dan tak ingin air mata ini jatuh kembali. Tetapi, ketika air mata jatuh untuk orang yang disayangi, tak akan pernah sia-sia, bukan? Air mata ini untuk ayah, orang yang aku sayangi. Meski sekaligus orang yang membuat hatiku biru dan beku.

Entah kekuatan dari mana, tetapi langkah kakiku berjalan dengan sendirinya tanpa aku mau. Langkah ini, mendekati rumah ayah. Semakin dekat, hingga tak terasa telah berada di depan pintu pagar rumah ayah. Ayah kaget. Hingga beranjak dari kursinya.

"Hei, kamukah itu Seruni? Anakku?" Ayah bangkit lalu mendekat ke pagar. Ayah melihatku. Oh, tidak, belum waktunya. Hatiku masih belum bisa menerima, jika aku bertemu dengan ayah! Aku membalikkan badan, mencoba berlalu dari rumah ayah. Kupercepat langkahku. Aku menjauh dari rumah ayah.

"Nak, Seruni.... anak ayah. Jangan pergi. Kemarilah, nak! Maafkan ayahmu. Ayah rindu padamu. Ayah mencarimu kemana-mana." teriak ayah berusaha mengejarku. Suara ayah, oh, sungguh, menyentuh hatiku. Tak sanggup aku mendengarnya. Hatiku seperti teriris. Aku menghentikan langkah dan membalikkan badan. Aku berlari, menuju ayah! 

"Ayaaah.... maafkan Seruni! Seruni rindu ayah," kataku serak. Aku memeluknya erat. Begitu pula ayah, memelukku sangat erat, seperti tak mau melepasku.

"Seruni, ayah mencarimu kemana-mana, maafkan ayah, nak. Tak percaya, ayah bisa bertemu denganmu lagi. Ayah juga sangat rindu," kata ayah. Matanya basah. Ayah menangis.

***

Kamarku masih sama seperti yang dulu. Tertata rapi dan terawat. 

"Kamarmu selalu kubersihkan, Seruni. Ayah selalu mengharap kehadiranmu. Ayah yakin, suatu saat kamu pasti pulang. Tinggallah di sini kembali, Runi."

"Ayah, tetapi aku sekarang memiliki kehidupan sendiri. Untuk saat ini, aku belum bisa tinggal. Mungkin untuk suatu saat. Aku janji, aku akan sering berkunjung kemari untuk ayah." kataku nyaris lirih.

Ayah menghela nafas pelan. 

"Setelah kamu pergi, ayah seperti tak memiliki harapan. Ayah marah pada mamamu, akhirnya ia memilih pergi, hingga sekarang. Ayah sekarang tinggal sendiri, Runi." kata ayah sambil menerawang. Ayah memang menyebut tante Devi dengan mama untukku. Meskipun aku selalu memanggilnya tante. "Untunglah ayah masuk kuat iman, hingga tak putus harapan. Ayah sudah mencarimu kemanapun. Ayah selalu berdoa, agar kamu kembali. Hingga akhirnya ayah pasrah, mungkin ini sudah nasib ayah, karena telah mengabaikanmu. Maafkan kesalahan ayah, ya,"

"Maafkan Runi juga, yah, karena membuat ayah seperti ini. Suatu saat, kita pasti bisa berkumpul kembali. Butuh waktu, ayah," jawabku sendu. 

Ya, aku butuh waktu untuk membuat kehidupanku berputar kembali. Tak bisa serta merta berubah. Ada om Tommy dan tante Hanny yang sudah banyak membantuku. Tak bisa aku begitu saja meninggalkan mereka. Apalagi mereka belum mengetahui, jika ternyata aku masih punya ayah kandung. Aku harus menceritakan semua ini secara pelan-pelan. Mereka terlanjur sayang padaku dan menganggapku anak mereka sendiri. 

Juga Sakti. Setelah kejadian "tabrakan" di kampus satu tahun lalu, ia gencar mendekatiku. Katanya, ia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama. Tentu saja aku tak mempercayainya. Mana ada jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukankah itu hanya ada di film saja? Tetapi Sakti berbeda. Meskipun aku meragukannya, ia tetap tak patah arang. Hingga akhirnya akupun luluh. Aku menerima cintanya. 

Tetapi ada keraguan dalam hatiku, aku memiliki masa lalu yang biru. Dan ia belum mengetahuinya. Meskipun aku berusaha untuk melupakan masa lalu, tetapi masa lalu tetap mengikuti. Bagaimana jika ia tahu bahwa aku bukan anak kandung om Tommy? Dan ternyata aku masih memiliki ayah kandung yang belum pernah ia kenal? Berubahkah cintanya? 


Semarang, 12 September 2017.