Mohon tunggu...
Wahyu Ardiansyah
Wahyu Ardiansyah Mohon Tunggu... Freelancer - Be Humble To The Earth

Geologist; Travelling & berdakwah di atas bumi Allah

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Review Buku "Bicara Itu Ada Seninya" Karya Oh Su Hyang

21 April 2019   17:05 Diperbarui: 21 April 2021   07:39 4787
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Buku "Bicara Itu Ada Seninya" karya Oh Su Hyang. | goodreads.com

Bicara itu ada seninya; The secret habits to master your art of speaking karya Oh Su Hyang, seorang dosen dan pakar komunikasi terkemuka di negeri ginseng, Korea Selatan. Buku ini merupakan hasil terjemahan dari Asti Ningsih pada Tahun 2018 terbitan Bhuana Ilmu Populer. Memiliki jumlah halaman 200 lebih sedikit membuat buku ini dapat

Narasi singkat yang ada di cover belakang buku ini cukup membuat saya yakin untuk membelinya dan harganya waktu itu juga terbilang murah (karena dapet diskon juga *hehe), sekitar 60K.

Buku ini banyak mengulas tentang teknik berbicara yang baik, juga diselingi oleh pengalaman penulis maupun cerita-cerita yang bisa menginspirasi kita dalam melatih teknik komunikasi kita. Dalam berbicara dan berkomunikasi, ada beberapa hal yang harus kita beri atensi agar penyampaian kita dapat diterima oleh khalayak ramai, antara lain rangkaian kata yang kita bahasakan dan bahasa tubuh kita.

Oke, mari kita lanjutkan, ketika kita berbicara baiknya kita menciptakan kesan pertama yang baik dahulu agar pesan-pesan kita selanjutnya dapat lebih diterima oleh publik. Salah satunya adalah dengan melatih kefasihan berbicara kita, ketika kita berbicara cepat maka biasanya akan terjadi yang namanya 'keseleo lidah'.

Hal tersebut bisa membuat kesan pertama kita menjadi tidak baik karena pelafalan huruf yang kita salah dan membuat misinterpretasi oleh lawan bicara kita kemudian mengenai tempo. Kita harus mengendalikan tempo penyampaian agar tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat sehingga dapat tersampaikan dengan baik kepada lawan bicara kita.

Kemudian, tentang logika dan rangkaian kata, baiknya kita menyusun kalimat dengan runtut sehingga informasi yang hendak kita sampaikan itu dapat diterima dengan baik. Tetap bersikap tenang dan menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang mudah diterima juga menjadi kunci dalam menjaga konsistensi penyampaian argumen kita kepada lawan bicara.

Ada baiknya juga sejak awal kita berlatih untuk menyusun kalimat yang runtut sehingga penyampaian informasi kepada lawan bicara juga dapat sepenuhnya tersampaikan. Selanjutnya tentang bahasa tubuh, sikap percaya diri dan selalu menunjukkan senyuman akan memberikan kesan yang baik kepada lawan bicara, selain itu juga dari pandangan mata kita yang seolah memperhatikan lawan bicara.

Komunikasi yang baik juga dibangun dari mendengar, kita menghargai lawan bicara kita kemudian kita bisa mendapat feedback yang baik darinya. Kita juga bisa menciptakan sebuah dialog yang positif dengan lawan bicara kita, bisa disederhanakan dengan rumus C = Q x P x R, Communication built from Question, Praise, and Reaction.

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, kita bisa membangun komunikasi yang baik dengan lawan bicara, kita memberikan materi sekaligus bisa menerima feedback dari mereka, pertanyaan dan pujian yang muncul dari lawan bicara juga menandakan bahwa kita diperhatikan ketika kita berbicara.

Buku "Bicara Itu Ada Seninya" karya Oh Su Hyang ini cocok untuk kalian yang ingin mendalami dunia komunikasi. | Background vector created by johndory - www.freepik.com
Buku "Bicara Itu Ada Seninya" karya Oh Su Hyang ini cocok untuk kalian yang ingin mendalami dunia komunikasi. | Background vector created by johndory - www.freepik.com
Kita juga sebisa mungkin menghindari gaya bicara yang membuat lawan bicara kita mengantuk, entah karena pembawaan kita yang monoton maupun suasana yang kurang kondusif untuk tetap menjaga fokus. Kita harus bisa mencairkan suasana dengan melemparkan jokes atau dengan melakukan icebreaking sehingga fokus lawan bicara kita kembali terbangun. 

Terakhir, pada tengah buku ini, ada beberapa aturan komunikasi yang dikenalkan oleh Yoo Jae Suk, seorang pembawa acara kondang di Korea. Pertama, jangan menggunjing, omongkan sesuatu di depan. Kedua, perbanyak mendengarkan, jangan memonopoli pembicaraan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun