Mohon tunggu...
Wahyu Aji
Wahyu Aji Mohon Tunggu... ya begitulah

Insan yang suka mendeskripsikan masalah dengan gaya santai

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Ribut Memilih Paslon Capres karena Benci Paslon Satunya

12 April 2019   22:08 Diperbarui: 12 April 2019   23:20 97 2 1 Mohon Tunggu...

Teman saya mengeluh tiap kali membuka hape di pagi hari. Bukan tanpa alasan, begitu banyak notifikasi bermunculan datang dari instagramnya. Hal ini tentunya membuat dirinya merasa gusar meski tak sampai harus marah-marah seperti kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang. Notifikasi itu bukan berasal dari promosi produk kecantikan atau pembesar alat kelamin, meski saya yakin alat kelaminnya memang kecil. Justru itu datang dari teman kami yang mantap sudah akan pilihannya pada pilpres nanti.

Alhasil, kampanye media digital dilakukannya dengan mengirimkan berbagai pesan mengenai segala keunggulan paslon yang diunggulkannya dan tentu saja tidak lupa membeberkan berbagai kekurangan paslon yang satunya.

Kejadian yang dialami teman saya pastinya pernah dialami oleh sebagian yang lainnya. Menjelang pilpres yang kiat dekat, berbagai kampanye digital terus digalakan. Meskipun di dunia nyata sudah memasuki minggu tenang, dunia maya masih menjadi medan perang.

Retorika yang dihasilkan dari sebuah konten dalam berbagai bentuk untuk mendukung salah satu paslon adalah hal yang lumrah sekarang. Di twitter saja hampir tiap hari selalu ada tagar yang berhubungan dengan kedua paslon.

Alih alih ada tagar yang netral tanpa ada sangkut paut politiknya, tetap saja ada oknum kelewat fanatic yang tiba-tiba hadir dan mengkampanyekan unggulannya. Sejauh ini tagar paling aman yang menjadi trending adalah berhubungan dengan kpop. Pastinya tak mungkin menghubungkan salah satu  dengan comebacknya BTS atau Blackpink, lain halnya jika ada boyband atau girlband dari negeri Tiongkok. Bisa bisa jadi ladang menghujat bagi kepada para antek aseng.

Segila-gilanya zaman jahiliyah yang dialami bangsa ini, salah satunya terjadi pada zaman sekarang. Dimana para pengikut nocturnal dan amfibi saling serang dengan fakta dan data yang bertujuan menjatuhkan dan yang paling untuk menghinakan. Kedua adalah fokus perdebatan. Ketika satu pihak mengklaim bahwa kemajuan sekarang karena kerja dan kerja dari petahana, pihak lainnya mengatakan banyak kerugian yang ditimbulkan dan banyak janji dilupakan.

Ketika satu pihak mengatakan bahwa bangsa ini butuh pemimpin yang tegas dan membawa pembaharuan, pihak lainnya mengecam dan banyak mempertanyakan keintegritasan atas dosa masa silam. Semua saling bertikai sambil menjunjung setinggi-tingginya pilihan mereka.

Rasanya tak mungkin lagi bagi para pendukung ini untuk berubah haluan. Mereka begitu yakin akan pilihan yang sudah mereka tetapkan. Di lain pihak, beberapa orang masih menentukan mau kemana mereka memberikan suaranya. Dengan berbagai penjabaran yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak pendukung, yang didapat kebanyakan hanya segala kekurangan dan kejelakannya saja.

Pembandingnya adalah yang jelak dan kurang, dan mengaburkan segala kelebihan yang ada. Mungkin wajar saja jika yang diinformasikan adalah prestasi atau sifat terbaik dari  yang bersangkutan, apalagi di sebuah media digital dimana merupakan taman bermain utama semua orang sekarang. Pastinya sering mendapati sebuah grup WA yang hadir dengan berbagai pesan amat panjang yang seolah berkata "Ini pemimpin kita seharusnya, bukan yang itu".

Itulah yang terjadi, kita disesaki berbagai informasi mengenai pilpres dan segala kontestasi di dalamnya. Sayangnya, yang datang bukanlah apa yang membuat kita yakin untuk memilih karena suatu kelebihan, tetapi karena membenci pesaingnya saja. Tapi yang namaya pilihan adalah hak masing-masing dengan alasan masing masing pula.

Mungkin bingungnya nanti adalah pasca pilpres usai. Ketika satu dari  sudah dinyatakan menang, apakah hal ini akan terus berlanjut ke depan? Saling menjatuhkan dan menjelekkan, lalu berbagi fakta dan data yang dibungkus dusta, kemudian disebarkan ke seluruh penjuru nusantara. Di saat orang di luar sana membagikan kebahagiaan karena berhasil memfoto black hole untuk pertama kali, kita justru membagikan kebencian. Dasar penduduk negara berkomodo.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x