Mohon tunggu...
Veronika Gultom
Veronika Gultom Mohon Tunggu... Programmer/IT Consultant - https://vrgultom.wordpress.com

IT - Data Modeler; Financial Planner

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

RUU dan Mereka yang Sudah Ketagihan Minol

14 November 2020   00:59 Diperbarui: 14 November 2020   15:36 420
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi minum minuman beralkohol. (sumber: shutterstock via kompas.com)

"Veronika, what do you want to drink?", tanya bos saya dulu ketika kami mengadakan semacam welcome party karena saya baru bergabung bekerja diperusahaanya. Saya menjawab dengan gugup dan seadanya,"Mineral water!"

"Are you sure?", tanya boss saya. Dan saya hanya menjawab,"Yes, mineral water"

Sementara teman-teman lain dan si boss bule, yang keturunan Iran, memesan bir dan minuman beralkohol lainnya.

Pertama kali kerja dengan bule, baru pindah ke Jakarta dari kampung di Bandung sana, dan baru pertama kali diundang makan malam dalam suasana tidak formal oleh boss.

Hanya satu-satunya perempuan dan ditambah lagi bahasa Inggris yang belepotan karena sebelumnya cuma terbiasa membaca textbook berbahasa Inggris di dalam hati saja, tetapi tidak pernah bercakap-cakap atau setidaknya membaca buku berbahasa Inggris keras-keras. 

Kondisi yang membuat saya gugup dan merasa kuper. Apalagi memang saya orang rumahan dan saat itu, yang saya tahu, perempuan tidak pantas minum bir atau minuman beralkohol (minol) lainnya. Kalau minuman keras... saya minum es batu... minuman keras yang suka iseng digigit saking kerasnya.

Seiring waktu dan pergaulan, wawasan saya mulai terbuka. Ternyata teman-teman wanita pun banyak yang suka minum-minuman beralkohol sampai mabuk. 

Biasanya mereka pergi ke diskotik dan pulang dini hari dalam keadaan mabuk. Kalau saya diajak, saya jawab, "Bukan dunia saya". Padahal saya tahu suasana diskotik itu hanya dari buku dan film saja.

Untungnya kami tetap saling menghormati. Teman-teman tidak mengucilkan saya dan saya juga merasa tidak perlu menjauh dari mereka. Biasanya saya hanya jadi pendengar kalau mereka bercerita tentang pengalaman mereka semalam, tentang si A, si B yang kalau mabuk tingkah lakunya begini dan begitu.

Sebenarnya sih yang membuat saya kaget (diam-diam di dalam hati) ketika mendengar ibu anu, menceritakan sendiri pengalamannya ketika mabuk. 

Bukan mabuknya yang bikin saya kaget diam-diam, tetapi cuma bertanya-tanya dalam hati, ibu ini tidak muda lagi, anaknya sudah besar-besar, tetapi koq bisa keluar malam-malam dan minum-minum bersama teman-temannya sampai dini hari? Apa keluarganya tidak mencari?  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun