Mohon tunggu...
Ekonomi

Good Company Bad Stocks: PT Greenwood Sejahtera (GWSA)

14 Desember 2016   21:11 Diperbarui: 14 Desember 2016   21:18 677 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Good Company Bad Stocks: PT Greenwood Sejahtera (GWSA)
Sumber: Olahan Penulis berdasarkan Annual Report PT Greenwood Sejahtera

PT Greenwood Sejahtera Tbk (GWSA) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industry properti dan didirikan pada tahun 16 April 1990. Pada tahun 2008 Perseroan memilai pembangunan proyek TCC Batavia yang merupakan superblock perkantoran, pertokoan, dan pusat perbelanjaan. Sejalan dengan perkembangan industry property di Indonesia, Perseroan telah menjadi suatu perusahaan property yang terintegerasi dan memiliki pertumbuhan pesat dimana Perseroan pada awal tahun 2011 melakukan konsolidasi melalui akuisisi saham atas sejumlah perusahaan property. 

Dengan akuisisi tersebut, maka Perseroan telah menjadi suatu perusahaan property yang terintegerasi, yang dimana Perseroan secara keseluruhan memiliki ataupun menguasai berbagai proyek, seperti bangunan perkantoran, pusat perbelanjaan, dan rekreasi, pertokoan, hunian apartemen hunian, hotel, ataupun bangunan yang tergabung dalam suatu konsep superblock. Saat ini, proyek property dari Perseroan yang telah dikenal luas diantaranya adalah TCC-Batavia, Senayan City, Kuningan City, The Peak Apartment, Lindeteves Trade Center, Emporium Pluit Mall, Holiday Inn Express Pluit, dan Festival CityLink. Berikut merupakan profil kinerja emiten GWSA selama tiga tahun terakhir:Pada table diatas menunjukkan bahwa nilai PBV mengalami penurunan dikarenakanpendapatan Perseroan selama tiga tahun terakhir mengalami peningkatan. Haltersebut menyebabkan Perseroan meningkatkan kapasitas retained earning, sedangkan harga saham masih bergerak stabilselama tiga tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar tidakmengapresiasi harga saham GWSA meskipun GWSA mengalami peningkatan kinerjaselama tiga tahun terakhir. Tindakan ini menyebabkan penurunan pada nilai PBVPerseroan. 

Sehingga, hal ini membuktikan bahwa GWSA merupakan perusahaan yang mengalamiBad Stock dikarenakan harga sahammengalami undervalued. Selain itu,nilai PER selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan yang disebabkan olehnilai Net Income After Tax mengalamipeningkatan sedangkan harga saham bergerak stabil. Sedangkan ROE, ROA, dan EPSmengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir, dimana hal tersebutmengindikasikan bahwa kinerja GWSA selama tiga tahun terakhir semakin efisiendan GWSA dapat dikategorikan ke dalam perusahaan Good Company

Analisis perbandingan emiten GWSA dengan emiten Sub Sektor Properti dan Real Estate lain

Sumber: Olahan Penulis berdasarkan www.markets.ft.com
Sumber: Olahan Penulis berdasarkan www.markets.ft.com
Berdasarkan data pada tahun 2015 perbandingan keempat emiten dalam Sub Sector Property dan Real Estate, menunjukkan bahwa emiten GWSA memiliki valuasi yang paling murah yang ditunjukkan dengan nilai PBV dan PER yang paling rendah diantara ketiga emiten lainnya. Hal tersebut menunjukkan GWSA mengalami harga saham yang undervalued diantara pesaing lainnya. Namun, apabila dilihat dari rasio keuangan berdasarkan ROE, ROA, dan ROI lebih tinggi dibandingkan ketiga emiten lainnya, maka dapat dikatakan bahwa GWSA merupakan emiten yang paling efisien dalam menjalankan usahanya. 

Berdasarkan rasio likuiditas, dapat dilihat bahwa GWSA merupakan emiten yang apabila mengalami kondisi kebangkrutan, maka GWSA masih dapat membayar semua hutang lancar perusahaannya tersebut. Sedangkan, berdasarkan rasio solvabilitas, dapat dilihat bahwa tingkat leverage GWSA sangat rendah. Dimana hal ini sebenarnya kondisi yang tidak baik dikarenakan GWSA hanya menggunakan ekuitasnya dalam menjalankan perusahaan. Akan tetapi, tingkat leverage yang rendah mengindikasikan emiten GWSA termasuk kedalam kategori yang aman.

Analisis Makro Ekonomi

Menurut Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, kondisi global ekonomi pada tahun 2016 saat ini rentan dengan krisis karena mudah berubah-ubah. Situasi tersebut tentunya mempengaruhi terhadap kondisi perekonomian Indonesia. Berdasarkan website Kementrian Keuangan, berkaca dari tahun lalu, pengaruh terbesar bagi ekonomi Indonesia di 2016 diantaranya dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu perlambatan ekonomi Tiongkok yang akan mempengaruhi kegiatan ekspor, rendahnya harga minyak yang akan berimbas pada harga komoditas lainnya, dan kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat. 

Perubahan inflasi merupakan salah satu indicator makro ekonomi yang paling mempengaruhi pasar dan harga saham. Berdasarkan data yang diperoleh dari Bank Indonesia, dalam tiga tahun terakhir angka inflasi mengalami cenderung mengalami penurunan berkisar 5.03%. Bank Indonesia memperkirakan hingga akhir tahun 2016, laju inflasi masih akan sesuai proyeksi Bank Indonesia, yaitu 3-3.2%. Dengan mempertahankan laju inflasi dibawah 4% dapat mengantisipasi situasi ekonomi global yang dapat mempengaruhi investor untuk lebih banyak investasi di pasar modal.

Analisis Industri

Industri property memiliki kinerja dan memiliki prospek yang bagus pada masa depan. Pertumbuhan dari industry property ini didorong oleh pertumbuhan bisnis property dan real estate di Indonesia yang memiliki porsi besar di dalamnya. Terdapat banyak indicator yang dapat dilihat dalam pertumbuhan pada industry property, diantaranya adalah PDB real estate yang terus meningkat, pembangunan proyek perumahan dan apartemen yang lebih murah, pembangunan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan yang tumbuh pesat, dan kepemilikan bisnis property yang lebih mudah yang mendorong industry property ini bergerak secara positif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x