Mohon tunggu...
Hukum

Beragam Penyelesaian Sengketa Internasional

23 April 2019   22:55 Diperbarui: 23 April 2019   23:07 0 1 0 Mohon Tunggu...
Beragam Penyelesaian Sengketa Internasional
esba-europe.org

Dalam dunia internasional menjalin hubungan internasional adalah suatu hal mutlak yang tidak bisa dihindari oleh setiap negara, hal ini sudah tertuang di dalam Konvensi Montevideo 1933 yang menyatakan syarat dari terbentuknya negara salah satu poin yang paling penting adalah mampu menjalin hubungan internasional dengan negara lain,

Tujuannya adalah adanya saling membutuhkan satu negara dengan negara lainnya, karena tidak ada satu negara yang dapat memenuhi kebutuhan negaranya sendiri tanpa bantuan dari negara lain. 

Dengan seringnya negara menjalin hubungan internasional dengan negara lain banyak dampak positif yang dihasilkan dan tidak dipungkiri lagi selain dampak positif yang didapatkan sisi negatifnya pun ada,
Misalkan suatu negara terlibat suatu pertikaian atau sengketa internasional di antara kedua negara, banyak kasus yang sering menyebabkan ketegangan di antara negara yang bertikai dan banyak kasus yang terjadi yang menyebabkan masalah di atas, misalkan kasus Sipadan dan Ligitan antara Indonesia dan Malaysia.

Secara umum ada beberapa cara untuk menyelesaikan sengketa internasional
1. Arbitrase
Arbitrase adalah sebuah salah satu cara alternatif penyelesaian sengketa yang telah dikenal lama dalam hukum internasional. Dalam penyelesaian suatu kasus sengketa internasional, sengketa diajukan kepara para arbitrator yang dipilih secara bebas oleh pihakpihak yang bersengketa
 
Konvensi Den Haag Pasal 37 Tahun 1907 memberikan definisi arbitrasi internasional bertujuan untuk menyelesai sengketa-sengketa internasional oleh hakim-hakim pilihan mereka dan atas dasar ketentuan-ketentuan hukum internasional. Dengan penyelesaian melalui jalur arbitrasi ini negara-negara harus melaksanakan keputusan dengan itikad baik.
 
Hakikatnya arbitrasi ialah prosedur penyelesaian sengketa konsensual dalam arti bahwa penyelesaian sengketa melalui arbitrasi hanya dapat dilakukan dengan persetujuan negara-negara bersengketa yang bersangkutan.
 
Penyerahan suatu sengketa kepada arbitrasi dapat dilakukan dengan perbuatan suatu compromise, yaitu penyerahan kepada arbitrasi suatu sengketa yang telah lahir atau melalui pembuatan suatu klausul arbitrasi dalam suatu perjanjian sebelum sengketa lahir (clause compromissoire).
 
2. Negosiasi
Negosiasi atau perundingan dapat didefinisikan sebagai upaya untuk dapat mempelajari dan merujuki mengenai sikap yang dipersengketakan agar dapat mencapai suatu hasil yang dapat diterima oleh para pihak yang bersengketa. Apa pun bentuk hasil yang dicapai, walaupun sebenarnya lebih banyak diterima oleh satu pihak dibandingkan dengan pihak yang lainnya
 
Negosiasi atau perundingan merupakan suatu Teknik penyelesaian sengketa yang paling tradisional dan paling sederhana. Dala Teknik penyelesaian sengketa tidak melibatkan pihak ketiga dan hanya berfokus pada pertukaran-pertukaran pendapat atau usul-usul antar pihak yang bersengketa untuk mencari kemungkinan tercapainya penyelesaian sengketa secara damai, sedangkan pokok perundingan biasanya merupakan apa yang menjadi pokok dari sengketa internasional
 
3. Mediasi
Mediasi sebenarnya merupakan bentuk lain dari negosiasi sedangkan yang membedakannya adalah terdapat keterlibatan pihak ketiga. Dalam hal pihak ketiga yang hanya bertindak sebagai pelaku mediasi atau mediator komunikasi bagi pihak ketiga untuk mencarikan negosiasi-negosiasi, maka peran dari pihak ketiga disebut sebagai good office. Seorang mediator merupakan pihak ketiga yang memiliki peran yang aktif untuk mencari solusi yang tepat untuk melancarkan terjadinya kesepakatan antara pihakpihak yang bertikai dan untuk menciptakan adanya suatu kontak atau hubungan langsung di antara para pihak
 
Tujuannya adalah untuk menciptakan adanya suatu kontak atau hubungan langsung di antara para pihak. Mediator bisa negara, individu, dan organisasi internasional. Para mediator ini dapat juga bertindak baik atas inisiatifnya sendiri, menawarkan jasanya sebagai mediator, atau menerima tawaran untuk menjalankan fungsi-fungsinya atas permintaan dari salah satu atau keduabelah pihak yang bersengketa
 
Di dalam menjalankan fungsinya, mediator tidak tunduk pada suatu aturan-aturan hukum acara tertentu. Mediator juga bebas menentukan bagaimana proses penyelesaian sengketanya berlangsung.
 
Peranannya disini tidak semata-mata hanya mempertemukan para pihak saja agar bersedia berunding, akan tetapi mediator juga terlibat dalam perundingan dengan para pihak dan bisa pula memberikan saran-saran atau usulan-usulan. Di dalam melakukan negosiasi atau perundingan, mediator dapat mengajukan beberapa opsi atau penawaran mengenai penyelesaian masalah sengketa.

4. Konsiliasi
istilah konsiliasi mempunyai suatu arti yang luas dan sempit. Dalam pengertian luas, konsiliasi mencakup berbagai ragam metode dimana suatu sengketa diselesaikan secara damai dengan bantuan negara-negara lain atau badanbadan penyelidik dan komite-komite penasihat yang tidak berpihak.

Dalam pengertian sempit, konsiliasi berarti penyerahan suatu sengketa kepada sebuah komisi atau komite untuk membuat laporan beserta usulan-usulan kepada para pihak bagi penyelesaian sengketa tersebut, usulan itu tidak memiliki sifat mengikat.
 
Konsiliasi adalah merupakan suatu proses-proses penyusunan dari usulan-usulan penyelesaian setelah diadakan suatu penyelidikan mengenai fakta-fakta dan suatu upaya-upaya untuk mencari titik temu dari pendirian-pendirian yang saling bertentangan, para pihak dalam sengketa itu tetap bebas untuk menerima atau dapat menolak proposal-proposal yang dirumuskan tersebut.
Penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi juga melibatkan pihak ketiga atau konsiliator yang tidak berpihak atau netral dan keterlibatannya karena diminta oleh para pihak. Unsur ketidakberpihakan dan kenetralan merupakan kata kunci untuk keberhasilan fungsi konsiliasi, hanya dengan terpenuhinya dua unsur ini, objektifitas dari konsiliasi dapat terjamin

5. Penyelesaian Yudisial (Judicial Settlement)
Penyelesaian yudisial berarti suatu penyelesaian yang dihasilkan melalui suatu pengadilan yudisial internasional yang dibentuk sebagaimana mestinya dengan memperlakukan dari suatu kaidah-kaidah hukum.

Peradilan Internasional penyelesaian masalah dengan menerapkan ketentuan hukum yang dibentuk secara teratur. Pengadilan dapat dibagi ke dalam dua kategori yaitu pengadilan permanen dan pengadilan ad hoc atau pengadilan khusus. Pengadilan internasional permanen contohnya adalah Mahkamah Internasional (ICJ).

Berdasarkan pemaparan dan penjelasan di atas, dapat diberikan kesimpulan bahwa begitu banyak metode penyelesaian sengketa internasional yang tersedia yang dapat digunakan oleh setiap negara atau masing-masing negara yang tengah dilanda sengketa atau konflik dengan negara lain.

Masing-masing negara yang bersengketa berhak untuk menentukan penyelesaian pada sengketa internasional yang mana yang akan digunakan, kesemua ini tergantung dan kesepakatan masing-masing negara dan yang paling penting adalah negara ketiga atau negara lain yang tidak ikut terlibat di dalam sengketa tersebut dilarang untuk ikut campur untuk menangani sengketa yang sedang dihadapi oleh suatu negara, lain halnya jika negara yang sedang bersengketa meminta bantuan kepada negara lain untuk membantu menyelesaikan sengketa tersebut.

Begitu juga sengketa yang telah melanda Indonesia dan Malaysia, kedua negara berhak untuk menentukan pilihan penyelesaian sengketa yang digunakan untuk mencari solusi demi terciptanya kedamaian di kedua belah pihak.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x