Mohon tunggu...
Vitto Prasetyo
Vitto Prasetyo Mohon Tunggu... Laki-laki

pegiat sastra dan peminat budaya, tinggal di Malang

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ketidakadilan dan Kesabaran

9 Mei 2021   17:12 Diperbarui: 9 Mei 2021   17:14 30 1 0 Mohon Tunggu...

   Entah, -kata- ini mungkin lebih bijak, meski bisa menimbulkan ketidakadilan. Semua mata, di pelbagai penjuru dunia saat ini begitu terfokus pada penyebaran wabah Covid-19. Bahkan tanpa kesepakatan tertulis, banyak pihak sudah merumuskan sebagai sebuah bencana. Sadar bahwa sebuah bencana akan menjadi duka bagi siapa saja, maka kita sering lupa dengan kata yang merujuk pada "kesabaran". Korban yang meninggal akibat virus corona sudah ribuan. Seharusnya tidak ada korban meninggal. Tetapi kita semua dalam posisi ketidakpastian, serta rumus logika manusia bisa terbantahkan.

   Seiring dengan "bencana" ini, meski seakan kurang pas untuk mengatakannya demikian, ada pihak-pihak yang merasa adil dengan tindakannya dengan pendapat yang digagas. Keadilan ini dianggap sebagai kebebasan mengeluarkan pendapat, meski kadang dengan tanpa teori logika yang mendasar. Sering telah merasakan sebuah keadilan ketika menyampaikan pendapat (gagasan) dan/atau membagikan visualisasi gambar ke orang lain, dan seolah-olah menjadi pengadil dengan caranya sendiri. Tetapi hal ini bisa berimbas menjadi ketidakadilan bagi orang lain.

   Menyitir bahasa yang sering digunakan dalam media, terutama media digital, mungkin kita sering mendengar apa yang disebut sebagai cyber crime (kejahatan siber). Sampai saat ini, kejahatan siber secara sistemik sulit untuk diberantas. Kemajuan alih teknologi, telah kemampuan alat atau instrumen teknologi yang berbasis jaringan internet. Metoda uji coba seakan tidak berhenti hanya sekedar untuk riset analitik yang memanfaatkan teknologi learning machine (aplikasi dari disiplin ilmu kecerdasan buatan). Sehingga, dalam pikiran kita yang awam, apa sebetulnya tujuan pengembangan teknologi ini?

   Belakangan ini, kita mengenal raksasa-raksasa teknologi ikut berperan untuk mengembangkannya. Alih-alih yang dijadikan alibi adalah karena perubahan masa atau zaman dianggap sebagai tuntutan regenerasi teknologi. Semakin menjamurnya hoaks yang beredar, maka harus berbanding lurus dengan penemuan pendeteksi anti-hoaks. Sehingga tanpa sadar, orang tergiring dengan anggapan bahwa mata rantai jaringan hoaks harus 

   Entah, -kata- ini mungkin lebih bijak, meski bisa menimbulkan ketidakadilan. Semua mata, di pelbagai penjuru dunia saat ini begitu terfokus pada penyebaran wabah Covid-19. Bahkan tanpa kesepakatan tertulis, banyak pihak sudah merumuskan sebagai sebuah bencana. Sadar bahwa sebuah bencana akan menjadi duka bagi siapa saja, maka kita sering lupa dengan kata yang merujuk pada "kesabaran". Korban yang meninggal akibat virus corona sudah ribuan. Seharusnya tidak ada korban meninggal. Tetapi kita semua dalam posisi ketidakpastian, serta rumus logika manusia bisa terbantahkan.

   Seiring dengan "bencana" ini, meski seakan kurang pas untuk mengatakannya demikian, ada pihak-pihak yang merasa adil dengan tindakannya dengan pendapat yang digagas. Keadilan ini dianggap sebagai kebebasan mengeluarkan pendapat, meski kadang dengan tanpa teori logika yang mendasar. Sering telah merasakan sebuah keadilan ketika menyampaikan pendapat (gagasan) dan/atau membagikan visualisasi gambar ke orang lain, dan seolah-olah menjadi pengadil dengan caranya sendiri. Tetapi hal ini bisa berimbas menjadi ketidakadilan bagi orang lain.

   Menyitir bahasa yang sering digunakan dalam media, terutama media digital, mungkin kita sering mendengar apa yang disebut sebagai cyber crime (kejahatan siber). Sampai saat ini, kejahatan siber secara sistemik sulit untuk diberantas. Kemajuan alih teknologi, telah kemampuan alat atau instrumen teknologi yang berbasis jaringan internet. Metoda uji coba seakan tidak berhenti hanya sekedar untuk riset analitik yang memanfaatkan teknologi learning machine (aplikasi dari disiplin ilmu kecerdasan buatan). Sehingga, dalam pikiran kita yang awam, apa sebetulnya tujuan pengembangan teknologi ini?

   Belakangan ini, kita mengenal raksasa-raksasa teknologi ikut berperan untuk mengembangkannya. Alih-alih yang dijadikan alibi adalah karena perubahan masa atau zaman dianggap sebagai tuntutan regenerasi teknologi. Semakin menjamurnya hoaks yang beredar, maka harus berbanding lurus dengan penemuan pendeteksi anti-hoaks. Sehingga tanpa sadar, orang tergiring dengan anggapan bahwa mata rantai jaringan hoaks harus diputus dengan riset analitik yang mampu menghasilkan penemuan pendeteksi anti-hoaks. Penemuan ini sangat sistemik dan terstruktur, yang akhirnya menjadi politisasi teknologi.

   Pemikiran yang terdorong oleh emosional nafsu oleh kelompok atau orang-orang, yang secara teorema sangat minim pendalaman agamanya karena menganggap teknologi itu ciptaannya. Dan dalil-dalil keabsahan ilmu agama sangat jarang tersentuh dan dibaca oleh mereka. Tidak ada pemikiran bijak, bagaimana menyelamatkan generasi bangsa (anak/siswa). Penemuan teknologi bisa jadi "diagungkannya" tanpa menyadari dirinya adalah sebuah entitas (wujud) yang diciptakan oleh Tuhan.

   Menelisik pendalaman agama (islam) ada beberapa hadits yang bisa dijadikan penolakan dalam memerangi kejahatan teknologi. "bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada" (HR. At-Tirmidzi), dan juga seperti "barang siapa tidak mensyukuri sesuatu yang sedikit, ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak" (HR. Ahmad). Ini hanya sebuah renungan dalam memaknai keadilan. Harus ada keberanian untuk mengajarkan secara praktik kepada anak/siswa, mana yang baik.

   Lantas, bagaimana manusia mampu memerangi pandemi Covid-19, yang kini dianggap sebagai wabah ganas yang mampu mematikan!? Tentu ini bukan persoalan mudah bagi semua pihak, karena jika ini dianggap sebuah ujian, maka sangat menguras tenaga dan pikiran. Semua lapisan dimensi akan terkena imbas dan saling bergantungan satu sama lainnya. Maka, kalau ini adalah sebuah ujian, manusia sebagai makhluk yang bernalar dalam orientasi agama dan kepercayaan, melepas makna "entah" dengan sebuah nilai kesabaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x