Syaripudin Zuhri
Syaripudin Zuhri profesional

Saya senang bersahabat dan suka perdamaian. Moto hidup :" Jika kau mati tak meninggalkan apa-apa, maka buat apa kau dilahirkan?"

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Dicari Capres Tuntunan Bukan Tontonan

11 Juli 2018   19:09 Diperbarui: 12 Juli 2018   10:33 555 0 1
Dicari Capres Tuntunan Bukan Tontonan
Ini dia enam Capres 2019 yang potensial, nah apakah mereka termasuk jenis manusia Merdeka dan Tuntunan rakyat? Sumber: imperiya.com

Di dunia yang penuh berbagai macam watak manusia, menyebabkan manusia yang satu dengan manusai lainnya menjadi terasa aneh atau bahkan terasa asing.

Manusia yang satu dengan manusia lainnya saling berlomba mencari sesuatu, yang kadang menyebabkan manusia menjadi terasing dengan dirinya sendiri, lebih celaka lagi karena yang dicari sensasi populeritas sampai-sampai anak kecilpun dieksploitasi agar popular sejak dini, hingga sang anak, masih balita pun," dipermak"  di sana sini.

Ada 3 golongan manusia :

Pertama, manusia tontonan, cirinya yang utama adalah senang pada pujian, tepuk tangan, pesolek, hura-hura, selalu ingin menonjol ditengah-tengah orang banyak, over akting dan lain lain, kalau tak adanya penontonnya dia galau.

Manusia tontonan ini yang paling banyak diminati oleh generasi melenia, sehingga apapun caranya agar menjadi manusia tontonan yang populer, apapun mereka lakukan. Manusia tontonan memang bisa menjadi melegenda, terlepas dari perilakunya, dipuja-puja, dijadikan idola dan lain sebagainya. Namun sering dijumpai manusia tontonan justru meninggal karena over dosis, bunuh diri, depresi dan lain lain.

Kedua, manusia tuntunan, cirinya yang utama adalah tak selalu ingin diikuti, tidak mau selalu di depan, mau mengalah, tidak merasa paling benar sendirian, kalau tidak ada ada pengikutnya dia tidak sedih. Manusia jenis kedua ini jarang kita jumpai dalam kehidupan, karena memang tidak mau tampil di depan, biasanya selalu berdiri " di belakang layar".

Manusia jenis kedua bukan orang yang ingin dikenal dan ingin terkenal, jikapun dijanjikan tuntunan bukan karena maunya, tapi karena manusia lain banyak mengambil contoh dirinya, dirinya dijadikan tauladan, dijadikan tuntunan, dijadikan tempat bertanya dan curhat. Orang seperti ini termasuk manusia langkah di jaman atau di era digital. Ketika manusia lain berlomba dengan identitas dan status, manusia jenis ini malah sebaliknya, menghindari segala macam kepopuleran.

Tak peduli dikenal atau tidak, tak peduli dihormati atau dihina, tak ambil pusig ketika dipuja atau dibully, semuanya dianggap sama, karena memang manusia jenis ini tak memerlukan itu semua. Manusia tuntunan memang unik. Tak ingin menonjol, tapi dicari orang. Tak ingin dikenal tapi justru dimuliakan. Tak ingin kemana-mana, tapi justru ada di mana-mana.

Ketiga, manusia bebas adalah manusia yang tidak perlu ditonton, tidak perlu dituntun, tidak mau di depan, tidak butuh pujian, tidak butuh pengikut dan sebagainya. Manusia bebas tidak butuh apa-apa, kecuali Sang kekasih Sejati, yaitu Allah SWT. Manusia jenis ketiga ini, melewati jenis yang pertama dan kedua. Manusia yang jenis ketiga ini, benar-benar meredaka dalam arti seutuhnya. Merdeka dari berbagai macam "topeng" yang melanda manusia. Merdeka dari unsur-unsur yang menyebabkan dirinya dipuja atau dijadikan tuntunan.

Adakah manusia jenis ketiga ini? Adakah tokoh nasional jenis ketiga ini? Tentu saja ada, tapi tak banyak dan tak diketahui oleh orang lain kecuali dirinya sendiri. Manusia merdeka adalah manusia langkah, seperti ada tapi tiada, disebut tak ada, tapi ada. Tatkala manusia ramai-ramai bicara tentang pilkada, pilres dan lain sebagaianya, menusia merdeka hanya tersenyum melihat permainan dunia itu. Baginya kerja adalah ibadah dan amanah, bukan mencari kekayaan dan jabatan.

Lalu dimana posisi kita? Di mana posisi Saya dan Anda? Kita tak bisa menilai diri sendiri, orang lain yang melihat Saya dan Anda ada dikatagori yang mana. Perlukahv itu semua? Ya kembali ke Anda. Yang jelas setiap manusia mempunya " maqomnya" masing-masing. Bisa terlihat atau buruk tergantung kaca mata yang digunakannya.

Nah berhubungan dengan selesainya Pilkada dan akan menuju ke Pileg dan Pilpres 2019 mendatang, katagori atau jenis manusia tersebut di atas  bisa dijadikan semacam indicator sederhana, apakah ini jenis Capres nomor satu, nomor atau jenis Capres nomor tiga. Begitu juga ketika mencari orang-orang atau tohoh yang akan duduk di lembaga legislative. Pilihlah tokoh jenis kedua, minimal, sukur-sukur dapat jenis yang ketiga.

Mengapa bukan yang jenis pertama? Karena kalau Capres atau Caleg pada jenis yang pertama, wah repot, ukurannya selalu pencitraan, karena jenisnya adalah Capres tontonan bukan tuntunan, apa lagi Capres yang merdeka. Begitu juga yang Caleg, kalau dapat Caleg jenis pertama, repot, Caleg jenis ini hanya bisa bicara di media, namun tak bisa menjalankan apa yang dibicarakan atau yang dijanjikan.

Nah dengan bekal tiga jenis golongan manusia ini, kita bisa melihat Capres atau Caleg yang benar-benar bisa dijadikan tuntunan dan bukan tontonan. Semoga pada Pilpres dan Pileg 2019 nanti Indonesia benar-benar punya pemimpin yang memenuhi kriteria merdeka dari unsur apapun, menjadi  tuntunan  bagi rakyat yang dipimpinnya dan bukan bahan tontonan, yang akhirnya memunculkan caci maki, hinaan dan lain sebagainya.

Semoga Indonesia tetap jaya dan tetap bersatu padu ketika mendapat pimpinan yang merdeka dan menjadi tuntunan rakyat. Semoga NKRI tetap berdiri tegak.  Pilkada, Pilpres dan Pileg boleh terus ada dan diadakan, dan pimpinan boleh datang silih berganti,  tapi NKRI harus tetap utuh, tidak  boleh terpecah belah apapun. Aamiin.