Mohon tunggu...
Vio Rizqi
Vio Rizqi Mohon Tunggu... -

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Pilihan

LRT, Gebrakan Revolusioner Pengentas Kemacetan Ibukota

30 April 2019   23:32 Diperbarui: 30 April 2019   23:48 61
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Transportasi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Wirestock

Transportasi tersebut dinilai belum mampu mengungguli kenyamanan penggunaan transportasi pribadi. Sehingga, masyarakat lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan umum. Akibatnya, siklus permasalahan kemacetan terus berputar dan belum teratasi hingga saat ini. Lalu, bagaimana Indonesia menghadapi permasalahan akut ini?

Pada 9 September 2015 lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo mulai melaksanakan proyek pembangunan Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek dengan Gubernur DKI Jakarta dan PT Adhi Karya Tbk. LRT sendiri merupakan sebuah sistem angkutan cepat berbasis kereta api ringan. Transportasi publik yang revolusioner ini direncanakan akan menghubungkan Jakarta dengan kota-kota satelit disekitarnya, yakni Bogor, Depok, dan Bekasi. LRT sendiri akan melintasi beberapa rute yang terbagi menjadi dua tahap pembangunan. 

Rute tahap pertama sepanjang 42,1 km antara lain, Cibubur menuju Cawang, Bekasi Timur menuju Cawang, dan Cawang menuju Dukuh Atas. Sedangkan rute tahap kedua sepanjang 41,5 km antara lain, Cibubur menuju Bogor, Palmerah menuju Grogol, serta rute Dukuh Atas-Palmerah-Senayan. 

Setiap rute akan menyinggahi beberapa stasiun yang totalnya sebanyak 41 stasiun. Dalam menunjang pemeliharaan LRT itu sendiri, dibangun pula depo di beberapa titik Jabodebek seperti di Jalan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading (Jakarta Utara), sampai dengan Velodrome, Rawamangun (Jakarta Timur).

Kereta api ringan akan ini menjadi salah satu peluang bagi penduduk DKI Jakarta dalam mengurangi momok kemacetan di ibukota. Integrasi antara LRT dengan moda transportasi publik baru lainnya seperti MRT dan TransJakarta, akan membawa perubahan besar bagi peradaban masyarakat Indonesia. Integrasi  ini tidak hanya akan mengentaskan permasalahan macet ibukota, tapi juga menghubungkan kembali lapisan-lapisan masyarakat yang selama ini terputus karena keegoisan transportasi pribadi.

Integrasi moda transportasi publik baru ini dinilai sangat mengedepankan level of satisfaction masyarakat dalam penggunaannya. Pada LRT sendiri, salah satu sistem yang digunakan ialah lintasan standard gauge dan dioperasikan dengan rel listrik ketiga berdaya 750 V DC, sama seperti kereta Amsterdam Metro di Belanda. 

Kereta ringan ini tentunya tidak akan membahayakan lingkungan karena tidak menyumbangkan polusi udara maupun suara seperti angkutan umum sebelumnya. Selain ramah lingkungan, kereta ini diklaim mampu melaju dengan kecepatan 60 km/jam hingga 80 km/jam. Sebagai contoh, jarak 5 km yang biasanya mampu ditempuh kendaraan pribadi dalam waktu 20 hingga 30 menit, mampu ditembus LRT hanya dengan 10 menit. Itupun bisa lebih cepat apabila kecepatan LRT tidak dibatasi. Sehingga, efisiensi waktu yang diberikan LRT jauh lebih unggul daripada kendaraan pribadi.

Berada pada jalur khusus, LRT dinilai bebas dari hambatan karena tidak terdapat perlintasan yang sebidang dengan jalan raya. Dengan adanya jalur khusus, LRT tidak akan terpengaruh dengan kemacetan akibat percampuran moda transportasi lain dalam satu lintasan. Belum lagi jalur khusus menjadikan LRT jauh lebih steril dibandingkan angkutan umum biasa. Hal ini penting bagi kenyamanan penumpang karena LRT memiliki tiga gerbong dengan 60 set yang dapat mengangkut kurang lebih 24.000 penumpang pada setiap arah perjalanan.

Dengan berbagai keunggulan fasilitas yang ditawarkan, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) nantinya akan menetapkan batas tarif dengan rentang Rp 10.000 hingga Rp 15.000. Tentu saja, penetapan tarif ini menyesuaikan dengan pendapatan masyarakat yang nantinya akan menjadi pengguna transportasi publik tersebut. 

Dilihat dari banyaknya manfaat yang diberikan LRT dibandingkan transportasi pribadi, tarif yang ditetapkan cukup sebanding dengan pendapatan penduduk Jabodebek yang dinilai cukup tinggi. Sehingga, efisiensi dari waktu dan biaya, serta kenyamanan masyarakat dalam menggunakan transportasi publik ini dapat terpenuhi.

Dengan terpenuhinya level of satisfaction masyarakat, maka secara berangsur-angsur masyarakat akan memilih LRT sebagai salah satu moda transportasi publik dibandingkan transportasi pribadi. Angka penggunaan transportasi pribadi akan dapat ditekan meskipun pertumbuhan penduduk kian meningkat. Hal ini dapat meminimalisir dampak negatif transportasi pribadi terhadap pergerakan masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Otomotif Selengkapnya
Lihat Otomotif Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun