Mohon tunggu...
Vinia Agatta Br Surbakti
Vinia Agatta Br Surbakti Mohon Tunggu... Mahasiswa Universitas Medan Area

lets Doing and Be Focus

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

1 Juta Petani Milenial sebagai Respon Krisis Regenerasi Petani Produktif di Indonesia

22 Mei 2019   20:12 Diperbarui: 22 Mei 2019   20:35 0 0 0 Mohon Tunggu...
1 Juta Petani Milenial sebagai Respon Krisis Regenerasi Petani Produktif di Indonesia
(Sumber :LP2M UMA)

Pertanian menjadi sektor yang cukup krusial dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Biasanya pertanian akan hangat di perbincangkan ketika memperingati Hari Pangan Nasional ataupun Hari Tani. Pertanian seharusnya menjadi sektor vital bangsa dalam menciptakan kesejahteraan penduduk. Menyoal sektor pertanian, regenerasi petani saat ini  menjadi masalah yang cukup memprihatinkan .

Krisis regenerasi petani akan menghambat pencapaian ketahanan pangan nasional guna mewujudkan pertanian Indonesia yang maju dan perekonomian yang kuat.  Mengingat sebentar lagi kita akan memasuki masa bonus demografi, ini menjadi suatu peluang untuk memberikan ruang bagi para kaum muda untuk mengekspresikan kemampuan dan potensi mereka, serta mengembangkan nya terutama di sektor pertanian. Kaum muda diharapkan dapat menjadi petani produktif yang dapat mendukung pertanian Indonesia menjadi maju.

Tingginya tingkat populasi berbanding lurus dengan besarnya kebutuhan pangan yang dikonsumsi. Menghadapi persoalan diatas, pengoptimalan sektor pertanian menjadi hal yang cukup signifikan. Mirisnya, hal ini tidak didukung oleh jumlah petani produktif di Indonesia. Dikutip dari Tirto.id , Badan Pusat Statistik (BPS) menerbitkan laporan bertajuk Sensus Pertanian tahun 2013. Dari total 26.135.469 petani di Indonesai, jumlah petani kelompok usia 45 -- 54 tahun memiliki jumlah  terbanyak yaitu 7.325.544 orang. Jumlah terbesar kedua pada kelompok usia 35-44 tahun dengan 6.885.100 orang , dan jumlah ketiga dan keempat pada kelompok usia 55-64 tahun dengan 5.229.903 orang. Sedangkan kelompok usia diatas 65 tahun sebanyak 3.332.038 orang. Berbanding terbalik dengan sebelumnya, jumlah petani pada usia 15-24 tahun hanya 229.943orang. Sementara pada usia dibawah 15 tahun jumlahnya paling sedikit , yakni 3.297 orang saja.

Berdasarkan kunjungan yang telah kami lakukan pada Maret lalu di desa Pematang Johar yang dikenal sebagai salah satu desa pemasok beras terbesar di kabupaten Deli Serdang, dimana masih rendahnya kesadaran anak muda untuk mengembangkan potensi  di desa  mereka . Menurut penuturan dari kepala desa Pematang Johar Bapak Sudarman , anak muda di desa Pematang Johar lebih memilih bekerja sebagai kuli bangunan ataupun pekerjaan kantoran di bandingkan menggali potensi desa mereka.

Berdasarkan survei  kedua yang telah dilakukan pada 2 dusun di desa Namorih, bahwa  tidak terlihat adanya regenerasi disana. Sumarni (45tahun) warga dusun III desa Namorih mengungkapkan bahwa anak anak muda di daerah mereka, yang sebagian besar hanya sebatas tamatan Sekolah Menengah Atas atau Sekolah Menengah Pertama lebih memilih menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di negara tetangga. Meskipun sebagian kecil melanjutkan ke perguruan tinggi, tetapi tidak ada yang memutuskan memilih jurusan pertanian.

Setelah di telusuri lebih jauh, latar belakang mereka enggan memilih jurusan pertanian dikarenakan fakta yang mereka dapatkan di desa mereka sendiri , melihat kurang nya kesejahtreraan petani. Tingkat urbanisasi yang cukup tinggi ikut memperparah masalah kurangnya regenerasi petani saat ini.

Banyak faktor pendukung latar belakang di atas, salah satunya paradigma anak muda atau kaum milenial. Mengapa milenial menjadi aktor utama yang harus berperan? Tentu ini berkaitan dengan konsep rerenerasi petani produktif di masa yang akan datang.

Paradigma lama yang masih melekat pada kaum milenial bahwa,  berprofesi menjadi petani berarti harus mengorbankan diri mereka untuk bercocok tanam di bawah terik matahari, bekerja dengan tangan kotor dan pendapatan yang tidak tetap.

Dengan kata lain, menurut mereka bertani ialah pekerjaan jadul dengan tingkat kesejahteraan rendah. Dapat diindikasikan pertanian menjadi momok pekerjaan yang dihindari kaum muda, selain dari sektor pendapatan yang tidak stabil dan label sosial yang masih dipandang rendah.

Bergerak dalam konteks pembangunan, penurunan kapasitas petani terkadang dianggap menjadi proses kemajuan dalam bidang pembangunan bangsa. Hal ini dikarenakan intrepretasi masyarakat yang menganggap sektor industri berperan lebih besar dalam memajukan perekonomian bangsa.

Padahal partisipatif pertanian dalam penyedia bahan pangan, dan penyedia lapangan pekerjaan menjadi hal yang cukup krusial. Justru perekonomian akan meningkat pesat jika kita bisa mengkolaborasikan ilmu pengetahuan di bidang pertanian dengan sektor industri saat ini.

Persepsi diatas tentu harus direkonstruksi ulang, ini menjadi langkah awal agar tercipta persepsi baru yang menjadi motivasi anak anak muda  untuk berkompetisi dan memiliki daya saing di kancah Internasional untuk  membawa pertanian Indonesia lebih maju tentunya.

Berkaca dari permasalahan diatas, bahwa munculnya  krisis regenerasi petani saat ini, mendorong pemerintah untuk mengaplikasikan kebijakan yang telah di keluarkan. Selain menjaga kestabilan harga produk pertanian , pemerintah juga harus mengupayakan pembimbingan terhadap petani petani muda di setiap desa. Sebenarnya Pemerintah telah berupaya untuk pertanian yang lebih maju seperti subsidi pupuk, hanya saja hal ini masih belum efektif mengingat banyaknya masalah kausalitas lainnya.

Program Kementan  1 juta petani milenial menjadi langkah yang cukup efektif, mengingat program ini ditujukan khusus untuk kaum milenial atau masyarakat yang masih produktif. Dimana tidak hanya berfokus pada alumni alumni jurusan pertanian , tetapi kolaborasi dari setiap kemampuan dan potensi potensi anak bangsa.

Melalui pembimbingan dan pemberian bantuan berupa alat alat pendukung, diharapkan akan menjadi langkah eksklusif yang berdampak signifikan terhadap ketahanan pangan nasional dan sumber daya yang berkualitas.Pemberian pendidikan vokasi bagi para kaum muda yang baru memulai,tidak hanya berfokus pada sektor pertanian tetapi juga pemasaran dan pengembangan teknologi.

Berbicara mengenai teknologi, basis data registrasi yang terintegrasi secara online dapat memudahkan petani dalam pemasaran produk mereka  tidak hanya lokal tetapi juga mancanegara.

Pengolahan pertanian secara digital juga perlu dibidik guna pengembangan selanjutnya, seperti pemberian pakan ternak secara otomatis, pemerataan alat penanam padi jarwo transplanter, pengembangan alat panen padi teknologi indo combine harvester, dan lainnya.

Bergerak dari teknologi pertanian, pemberian bibit unggul serta pupuk kimia bertujuan memberikan hasil panen yang lebih baik. Serta tak luput dari perhatian, peningkatan kesejahteraan petani juga menjadi faktor pendukung terintegrasinya regenerasi petani produktif.

Tidak hanya berfokus pada sektor pertanian murni, kaum milenial juga dapat menggali potensi dengan kemampuan berwirausaha mereka. Dewasa ini penjualan produk pertanian lebih terkait akan bahan mentah, sebenarnya hal ini kurang maksimal dibanding jika pengolahan hasil pertanian menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi sehingga memiliki pangsa pasar yang lebih luas dan nilai jual yang lebih tinggi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2