Lingkungan Pilihan

Pengolahan Sampah dengan Insinerasi di Sungai Citarum, Solusi atau Bahaya?

7 Desember 2018   04:00 Diperbarui: 7 Desember 2018   04:52 257 2 0

Rabu (5/12/18), warga Jawa barat, khususnya kabupaten bandung dan sekitarnya dihebohkan dengan berita mengenai pengolahan sampah yang akan diberlakukan di sungai Citarum, Kabupaten Bandung. Kabarnya Gubernur Jawa Barat (Ridwan Kamil) akan menyediakan 10 ekskavator untuk mendukung pembersihan Citarum yang di dukung, baik dari sisi pendanaan oleh pemerintah pusat yang lansung diasampaikan oleh kemenkomaritim Luhut Binsar Panjaitan (instagran humas_jabar). 

Kebijakan tersebut menjadi pro dan kontra bagi masyarakat bandung dan sekitarnya. Ada yang menyatakan senang dengan berita tersebut dan ada pula yang tidak setuju akan dampak lingkungan yang membahyakan bagi masyarakat.

  Sungai Citarum merupakan sungai terbesar di Jawa Barat dan merupakan sumber air minum di kota besar seperti Bandung serta sebagai denyut nadi perekonomian Indonesia, namun dibalik manfaatnya yang besar, sekarang ini sungai tersebut dipenuhi dengan sampah dan juga limbah yang beracun dan berbahaya (B3) dikutip dari Tribunners 7/12/15.

Sampah yang semakin besar jumlahnya inilah yang membuat pemerintah provinsi Jawabarat berusaha untuk mencari solusi dalam menanggulanginya salah satunya yaitu dengan cara insinerasi. Insinerasi merupakan proses pengolahan limbah padat denga n cara  pembakaran pada temperatur lebih dari 800oC untuk mereduksi sampah mudah  terbakar (combustible ) yang sudah tidak dapat didaur ulang lagi, membunuh  bakteri, virus, dan kimia toksik (A. Sutowo Latief, 2012).

 Metode insenerasi ini memiliki keuntungan dan kerugian. Keuntungan dari insinerasi yaitu dapat mereduksi atau menurunkan  sebagian besar volume sampah, membersihkan atau menurunkan  kandungan bakteri yang pencemar  lingkungan, sangat cocok untuk pengolahan sampah  yang membutuhkan waktu cepat, panas  pembakaran  dapat  segera  dimanfaatkan untuk pembangkit uap  atau  pembangkit daya listrik. 

Kerugian dari insinerasi yaitu gas buang dari proses pembakaran  berpotensi mencemarkan lingkungan karena  kandungan bahan beracun seperti substansi  dioksin, gas buang merupakan pembawa  sebagian  besar CO2 penyebab pemanasan global, abu yang tersisa  dari  pembakaran  mencapai 20% dari sampah yang dibakar, unsur merkuri akan terlepas ke  udara  dalam  bentuk uap yang terbawa pada gas buang, berpotensi sebagai pencemar  lingkungan  apabila tidak dilengkapi  dengan  pengolahan  gas buang. 

Pembakaran sampah yang mengandung bahan atau limbah kimia akan melepaskan kandungan kadmium, timbal  atau bahan-bahan yang berpotensi  sebagai pencemar lingkungan, diperlukan peralatan pengolah gas buang yang  basah setelah proses pembakaran  karena gas yang basah ini akan  dapat  merusak atau sebagai gas  destruktif  apabila  lepas  ke  udara. 

Oleh karena itu dihitung sebagai tambahan biaya dalam pemakaian incinerator, Berpotensi pencemar emisi partikulat karena  kandungan abu yang besar dimana emisi  udaranya  menghasilkan  bahan  pencemar, terutama dioksin  dan fluran yang oleh WHO  dinyatakan karsinogenik (Bagus, Triksasono, ejurnal).

Kerugian yang paling harus dikhwatirkan oleh masyarakat yaitu bahaya dioksin. Apabila terjadi pembakaran yang tidak sempurna pada sampah akan berdampak buruk pada lingkungan, baik tetumbuhan, hewan, bahkan manusia. Dari pembakaran ini menghasilkan senyawa kimia berbahaya yang bersifat karsinogenik, yaitu dioksin. 

Dioksin bersifat persisten dan terakumulasi secara biologi, dan tersebar di lingkungan dalam konsentrasi yang rendah. Hal ini bisa meningkatkan risiko terkena kanker dan efek lainnya terhadap binatang dan manusia. Jika dioksin berada di udara, maka akan terhirup oleh manusia dan masuk ke dalam sistem pernafasan. 

Risiko bagi manusia yang paling besar adalah jika dioksin mengendap dalam tubuh manusia. Dioksin menimbulkan kanker, bertindak sebagai pengacau hormon, diteruskan dari ibu ke bayi selama menyusui dan mempengaruhi sistem reproduksi (dietkantongplastik.info).

Jika dilihat dari keuntungan dan kerugiannya, hendaklah pemerintah mengambil kebijakan yang lebih tepat, jangan sampai kebijakan tersebut memberi dampak yang buruk bagi masyarakat dan lingkungan, tindakan cepat itu memang harus tapi tindakan yang tidak merugikan masyarakat dan lingkungan itu nomor satu. Masyarakat juga harus lebih cerdas dalam memelihara lingkungan, jangan hanya menerima kebijakan tanpa mengetahui dampak ataupun resikonya. 

Dan yang paling penting mari jaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, dan bagi pihak industri hendaknya mencari alternatif pengolahan limbah hasil industri sehingga tidak memberikan dampak buruk bagi lingkungan. 

Tuhan telah memberikan alam ini untuk dijaga bukan hanya untuk digunakan seenaknya, mungkin kerugiannya belum berdampak besar tapi bagaimana dengan generasi selanjutnya, haruskah mereka menanggung kerugian akibat ulah kita?