Mohon tunggu...
Vikri Januarisma
Vikri Januarisma Mohon Tunggu...

Amateur Writer, Future Electrical Engineer, Dedicate to listen and think more

Selanjutnya

Tutup

Muda

Belajar Positif dari Keluarga Broken Home

28 Juni 2015   22:25 Diperbarui: 28 Juni 2015   22:25 0 0 0 Mohon Tunggu...

Fikiran masyarakat tentang kesuksesan itu adalah berasal dari sebuah keluarga, tapi bagaimana jika kita terlahir dari keluarga broken home atau malah kita tidak tahu siapa orang tua kita karena telah dibesarkan oleh keluarga lain atau panti asuhan?

Saya adalah satu contoh diantara kasus seorang anak dalam lingkungan keluarga broken home, orang tua sibuk dengan kisah cinta mereka yang bak sinetron dengan ratusan episode, tapi bagaimana kondisi mental seorang anak daripada orang tua tersebut? sebagian anak dari keluarga broken home akan mengalami tekanan mental bertubi - tubi, terlebih lagi ketika mereka berada dilingkungan (tetangga dan sanak saudara) yang bahkan membenci keberadaan anak broken home, lalu bagaimana kita menyikapi masalah tersebut dalam kondisi sebagai korban keluarga broken home?

Saya dilahirkan 22 tahun silam, setelah itu ibuku berkata bahwa ayah meninggalkanku sesaat ketika aku lahir kedunia, lalu bagaimana aku mengenali sosok seorang ayah? Tidak, bahkan sekalipun aku tidak pernah tahu siapa dia. Tahun demi tahun aku lalui ternyata ibuku memiliki kondisi mental yang sangat terpuruk, dia berhenti dari pekerjaannya dan memilih kerja serabutan, hingga akhirnya dia tidak mampu untuk menyekolahkanku.

Saat umur 3 tahun, aku ingin sekali bersekolah, sama seperti teman sebayaku dalam lingkungan tempatku, mereka pergi sekolah taman kanak - kanak, saya hanya pergi sebagai pengantar saudara sepupuku yang sedang bersekolah, sedihpun tidak tapi aku merasa berjalan ke sekolahpun aku sudah senang, lambat laun aku ingin bersekolah karena aku sudah bisa membaca dan berhitung, namun ibuku berkata "Ri, ibu gada uang buat sekolahin TK kamu, nanti ibu TeKe aja ya, baru kamu masuk SD" mendengar kalimat tersebut membuatku cukup berfikir bahwa untuk bermimpi saja saya takut, lalu bagaimana aku bisa bersekolah?

Akhirnya aku sekolah sebagai "anak bawang" di SD Negeri salah satu kabupaten di Jawa Barat, dengan usiaku 5tahun kurang, aku tidak diperbolehkan masuk sekolah oleh guru. Namun, karena mereka melihat bahwa aku berkemampuan melanjutkan sekolah, akhirnya, ditahun berikutnya aku masuk kelas 2 SD. Aku gembira, bahwa kesempatan bersekolah itu ada, namun lagi - lagi setiap kali aku pulang, ibuku selalu menanyakan semua nilai yang aku peroleh, dia ingin aku mendapatkan nilai yang terbaik, tapi saat itu aku berfikir apa kontribusi beliau kepadaku?

Singkat cerita setelah itu, aku selalu menduduki ranking satu ditahun berikutnya hingga SMP,dan beberapa lomba matematika pun aku ikuti, setiap sekolah yang aku duduki,semuanya dari beasiswa, aku berusaha untuk tidak membuat ibuku mengeluarkan satu sen pun untuk pendidikan, lalu bagaimana aku bisa belajar positif dari keluarga broken home?

Ini menurut pengalaman saya,

  1. Kecintaan, dibutuhkan kecintaan terhadap sesuatu hingga kau sadar bahwa objek lainnya adalah sebuah bayangan saja, karena jika saat itu saya tidak terlalu cinta untuk bersekolah, bagaimana bisa aku mengejar cita - cita ku kini?
  2. Fokus pada diri sendiri, semuanya itu berawal dari diri sendiri, berasal dari keluarga apapun siswa tersebut, bila dalam dirinya ada rasa ingin berkembang dan berfokus pada tujuannya, InsyaAllah, semuanya akan dimudahkan dan dicari jalan keluarnya
  3. Nekad, suatu tindakan yang selalu saya lakukan adalah nekad, ketika semua keluarga tidak ada yang mendukungku untuk bersekolah (entah itu SMP,SMA atau kuliah) namun aku bertanya kembali pada diri sendiri, akankah aku sama seperti mereka? bisakah aku keluar dari rantai kemiskinan ini? jika iya, maka aku harus keluar dan nekad menempuh pendidikan
  4. Dukungan moril, sebenarnya ini adalah salah satu point yang aku sering keluhkan disetiap perjalananku, bagaimana tidak? keluarga tidak mendukungku bersekolah, tetangga mencibirku untuk bersekolah, dan kepada siapa lagi aku mempunyai dukungan moril? Ingat saja, bahwa kita lahir kedunia ini karena kehendak Yang Maha Kuasa, mintalah dukungan moril untuk dikuatkan disetiap perjalanan kita kepada-Nya
  5. Tidak cepat malu, inilah yang aku sering lakukan, aku tidak malu untuk menjadi apapun dalam menjalani hari, saya pernah jadi tukang masak keroket disalah satu departmen store karena saya membutuhkan uang, menjadi penjaga perpustakaan sekolah menegah pertama swasta, dan juga menjadi guru les mata pelajaran, karena saya ingin mendapatkan uang yang halal atas keringat saya sendiri untuk pendidikan saya.
  6. Jangan berpuas diri, apa yang kita miliki selama ini, harus terus berusaha menjadi lebih baik lagi, tapi jangan lupa bersyukur akan semua nikmat yang pernah kita lalui sebelumnya, nikmat sehat, semuanya adalah bentuk kenikmatan kita untuk dapat melakukan aktivitas seperti biasanya
  7. Bisa atau harus bisa, selalu berfikir bahwa, orang itu makan nasi dan hidup sama - sama ditanah bumi, kenapa harus minder dan pantang menyerah?
  8. Setelah ikhtiar yang panjang, berdoalah meminta petunjuk-Nya, bertawakal dalam segala usaha kita, jika sesuatu itu diperuntukan untuk kita, maka itu akan menjadi milik kita,atau mungkin itu adalah sebuah ujian.

8 point diatas adalah garis besar dari apa yang saya terapkan untuk menjadi pribadi yang tidak rapuh disebuah keluarga yang broken home, karena saya percaya kesuksesan itu adalah sebagian besar dari hasil buah individu.

Tetap semangat dalam mengarungi hidup, jangan malah terus drop dan merugikan hidupmu sendiri kelak dimasa depan.

 

 

Ditulis oleh Vikri Januarisma

KONTEN MENARIK LAINNYA
x