Humaniora Artikel Utama

Katanya "Lulus SMK Mudah Cari Kerja", Namun Faktanya?

15 September 2017   21:21 Diperbarui: 17 September 2017   11:46 21175 7 0
Katanya "Lulus SMK Mudah Cari Kerja", Namun Faktanya?
Ilustrasi. Youthmanual

Sekolah Menengah Kejuruan, sebuah sekolah lanjutan dengan tujuan menciptakan insan pendidikan yang siap dan mampu untuk bekerja setelah 3 tahun mengenyam bangku pendidikan yang setara dengan tingkatan SMA ini.

SMK memang agak dipandang sebelah mata bagi kaum menengah atas dan bisa jadi diidamkan bagi setiap masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah, lantaran yang diharapkan putra putrinya setelah lulus dari SMK dapat lekas bekerja, dapat membantu keluarga, dan mampu lekas hidup mandiri.

Lantas sudah benarkah bahwa lulusan SMK lebih mudah dan cepat dalam mencari pekerjaan setelah lulus?

Sebelumnya kita patut tau ada apa saja jurusan yang ada di SMK itu? SMK sekarang sudah banyak sekali jurusannya, mulai dari teknik, pariwisata, bismen, teknik kerumahtanggan, seni, kesehatan, dan lain sebagainya. sudah menjamur baik di sekolah negeri maupun di sekolah swasta.

Saya sendiri dulunya lulusan dari salah satu Sekolah Menengah Kejuruan favorit di kota saya, setiap tahun ajaran baru, antusiasme dari masyarakat untuk memasuki SMK saya itu sangat besar. Biasanya setiap rombel hanya menerima 600 an siswa baru, namun yang mendaftar bisa mencapai angka 2000 an lebih. 

Dari sini bisa kita lihat bahwa betapa besarnya minat masyarakat akan sekolah kejuruan itu. Dari pengalaman saya sewaktu menjadi panita penerimaan siswa baru, para orangtua yang bertemu dengan saya selalu saya tanyai mengapa lebih memilih sekolah di SMK, beragam sekali jawbannya ada yang ngikuti kemauan anaknya, ada yang karena pengen seperti anak tetangganya, ada yang pengen cepet dapat pekerjaan lah, dsb. 

Tapi yang jelas 90 % dari jawaban mereka adalah agar setelah lulus anaknya dapat segera bekerja, lantaran mereka menyebutkan bahwa tidak memiliki biaya untuk kuliah sehingga kalau dimasukkan di SMA nantinya rugi soale ga bisa kuliah, kalau masuk SMK kan lulus langsung kerja kalau anaknya mau kuliah kan bisa dari uangnya sendiri.

Dalam basis pendidikan di SMK tidak jauh berbeda dari SMA, mereka tetap mempelajari pelajaran anak SMA namun hanya dasarnya tidak semendetail anak SMA, ditambah pelajaran produktif dari jurusan yang telah mereka pilih. Dalam pendidikan SMK ada yang namanya PRAKERIN (praktek kerja industri) atau orang dulu biasa menyebutnya PSG. 

Prakerin itu sendiri merupakan penerapan ilmu atau teori yang telah mereka dapatkan di bangku sekolah, Prakerin itu lamanya tergantung dari sekolah masing-masing. kalau sekolah saya dulu adalah 6 bulan, 3 bulan praktik di internal sekolah yang 3 bulan di eksternal sekolah.

Dari sini sudah jelas bahwa kita bila dilihat dari segi pengalaman, jelas kita lebih pengalaman dibanding siswa SMA yang hanya belajar pendidikan umum di gedung sekolah, tanpa penjuruan dan praktik seperti anak SMK.

So, aku dulu juga bangga banget jadi anak SMK, hehehee

Tapi setelah 3 tahun berlalu barulah kebanggaanku itu mulai memudar, kok bisa sih? Memang salah jurusan? Atau gak di cari tahu dulu ya? Atau karena lulus SMK langsung nikah? hahha gak gitu guys :D

Setelah aku berada di akhir kelas 12, aku benar-benar tercengang seperti agak ada penyesalan. Karena rencanaku dan keinginan orantuaku adalah melanjutkan ke perguruan tinggi aku baru sadar dan tahu, betapa terbatasinya gerak kakiku sebagai anak SMK untuk  melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri. 

Ketika memasuki jalur SNMPTN bagi siswa yang tidak memiliki prestasi seperti aku selain mengandalkan nilai raport kita mengandalkan alumni dari sekolah kita untuk dapat masuk ke perguruan tinggi tersebut, tapi apa? Faktanya sangat sedikit siswa SMK yang kuliah, mereka lebih banyak langsung bekerja.

Selain itu aku juga mencoba peruntungan di PMDK - PN yaitu jalur undangan ke politeknik negeri, tapi apa gerak kita di sini juga terbatasi oleh beberapa jurusan saja sedangkan anak SMA lebih banyak peluang memilih jurusannya, padahal guruku bilang politeknik ini adalah kampus yang sebenarnya dicipatakan untuk anak SMK, tapi praktiknya kita anak SMK tetap terkalahkan.

Lantaran aku kurang srek dengan jurusan yang aku pilih di jalur ini bisa dikatakan aku hanya coba - coba saja, diterima syukur enggak yaudah gak papa.

Dari kedua jalur undangan di atas aku gagal semua, dan aku memutuskan untuk mengikuti jalur SBMPTN, aku sebelumnya juga sudah belajar untuk berjaga-jaga, tapi ya inilah nasib anak SMK. Aku harus mengejar materi TKD, berhubung aku berminat jurusan FISIP jadi harus belajar TKD SOSHUM. 

Benar-benar melelahkan belajar SOSHUM, TPA, Matematika, dsb. otakku benar-benar harus bekerja ekstra, dan akhirnya penyesalan telah memilih SMK muncul semakin memudarkan kebanggaanku akan kebesaran seragam SMK-ku dulu.

Waktu tes berlalu dan aku merasa kurang yakin akan hasilku, lantaran soalnya benar-benar diluar dugaanku, tes TKDnya sangat mantap hahaha. Selanjutnya aku memutuskan untuk kembali menjajal peruntunganku di tes UMPTKIN yaitu sebuah tes semacam SBMPTN namun di lingkungan perguruan tinggi dan universitas islam negeri di Indonesia.

Setelah pengumuman memang benar SBMPTN ku gagal, namun selang 10 hari aku dinyatakan lulus tes UMPTKIN di Universitas Islam Negeri kenamaan di Indonesia pada jurusan Hukum sesuai keinginanku.

Setidaknya aku bernafas lega bisa tetap kuliah dikampus negeri jurusan hukum, walaupun saya dulu SMK jurusan pariwisata.

Terlepas dari segi pendidikan, dari segi pekerjaan pun siswa SMK juga tak kalah mengenaskan, dengan ijazah SMK Negeri rata-rata temanku yang bekerja hanya dapat bekerja di Industri (pabrik) dengan jam kerja padat dan berat, di toko, di swalayan, counter HP, sangat sedikit yang dapat bekerja di lingkungan yang sesuai dengan jurusan kita, padahal jurusanku pariwisata, di Indonesia sedang sangat baik prospeknya dan luas cakupannya. 

Dalam hati saya lalu apa bedanya kita dengan anak SMA yang tidak punya keahlian? Yah pada prakteknya untuk lulusan menengah atas kita diperlakukan sama, bahkan pada PT KAI yang merupakan anakan (salah satu komponen) dari industri pariwisata juga tidak ada kualifikasi untuk anak lulusan SMK Pariwisata yang ada kebanyakan SMA jurusan IPA dapat masuk semua kualifikasi dan beberapa anak SMK jurusan tehnik, padahal SMK pariwisata juga belajar Public Relation loh.

Saya tidak mengerti mengapa dapat terjadi seperti itu? Entah benar lulusan SMK kurang mendapat kepercayaan karena dianggap hanya memiliki kompetensi di salah satu jurusan saja? Saya pariwisata murni tapi juga belajar perhotelan, akuntansi, perbankan juga, jadi intinya kita juga pasti ada juga bekal urusan administrasi. Tapi kenapa para pebisnis lebih percaya pada siswa lulusan SMA yang belum tahu solusi menangani konflik, bagaimana menangani kerja sama dengan kolega, dsb? 

Kita di sini lebih tau, tapi kita siswa SMK selalu dikesampingkan dalam mencari pekerjaan, di mana ada kualifikasi untuk jurusan kita pasti siswa SMA juga masuk kualifikasi. Lalu apa gunanya kita belajar banyak pelajaran produktif kalau di dunia nyata kita dianggap sama?

Di sini saya hanya berharap semoga rekan-rekan saya, adik-adik kelas saya nantinya bisa mendapat pekerjaan yang lebih layak dan yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi negeri bisa dipermudah jalannya.

Bagaimana bapak menteri dan pak Jokowi? Apakah harapan saya untuk Siswa SMK dapat diwujudkan? Setidaknya cukup saya dan rekan saya yang merasakan dikesampingkan, adik kelas saya nanti jangan. Bagaimana pak? Jangan hanya semboyannya saja SMK Bisa, SMK Hebat :D

Beri kamu ruang juga dong para pelaku usaha :)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2