Mohon tunggu...
Vidia Andini
Vidia Andini Mohon Tunggu... Penggiat Demokrasi

Aku suka demokrasi yang membantu kita menguatkan yang lemah.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Memperingati 15 Tahun MoU Helsinki: Perang Aceh Berakhir di Tangan SBY

14 Agustus 2020   09:50 Diperbarui: 14 Agustus 2020   09:58 74 1 0 Mohon Tunggu...

Sebagai warga Negara yang baik kita tidak boleh lupakan sejarah. Apalagi peristiwa besar. Sampai-sampai mata dunia tertuju kepada Indonesia kala itu. Tepat di tanggal 15 Agustus 2005 beberapa bulan setelah gempa dan sunami melanda Aceh, bangsa kita mencatatkan sejarah paling berharga. Gerakan Aceh Merdeka atau GAM mau berdamai dengan pemerintah. Dengan begitu, tahun ini sudah memasuki tahun ke 15 tahun atas peristiwa itu.

Ya, peristiwa menegangkan sekaligus moment bahagia tersebut terjadi pada ba'da dzuhur tepatnya pukul 3 sore Waktu Indonesia Barat (WIB) dan pukul 11 pagi waktu Helsinki. Tercatat dalam sejarah, kurang lebih 1.000 warga Aceh memadati halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Tujuan mereka untuk berdoa sekaligus nonton bareng detik-detik menjelang penandatanganan kesepakatan damai di Helsinki, Finlandia.

Perdamaian ini bisa terlaksana berkat keseriusan Presiden ke 6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengakhiri konflik berdarah itu. Pemerintah yang diwakili oleh Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab bersama petinggi GAM membubuhkan tanda tangan di dokumen Memorandum of Understanding (MoU) menandakan perang resmi berhenti di Aceh. 

Pertemuan ini langsung disaksikan Crisis Management Initiative (CMI) selaku organisasi yang bekerja untuk mencegah dan menyelesaikan konflik melalui dialog dan mediasi informal.

SBY selaku Presiden Indonesia kala itu berhasil mengajak petinggi GAM untuk duduk satu meja. Berbagai tawaran disampaikan, hingga berhasil merundingkan agar konflik bisa berakhir.

Saya begitu ingat awal perundingan alot itu bisa terlaksana. Di Januari 2005 silam, kedua perwakilan bertemu di Helsinki, Finlandia. Dari pihak pemerintah Indonesia diwakilkan 10 orang beserta tiga petinggi perunding. Diantaranya Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Hamid Awaludin, Menteri Komunikasi dan Informasi, Sofyan Djalil, dan Menteri Kordinator Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS.


Sementara dari pihak GAM dipimpin langsung Perdana Menteri, Malik Mahmud yang datang dari Swedia. Tempat di mana para petinggi para pemberontak bermukim. Selain itu turut didampingi oleh Menteri Luar Negeri GAM, Zaini Abdullah, juru bicara GAM Bakhtiar Abdullah, M Nur Djuli (Malaysia) dan Nurdin Abdul Rahman (Australia).

Padahal, bila ditelusuri pertemuan ini melalui proses panjang dan tidak mudah untuk disepakati. Tercatat sepanjang tahun 1999 hingga 2002 pernah dilakukan perundingan namun gagal alias tak mencapai titik temu menghentikan perang.

Bila dilihat dari akar permasalahan pertemuan tidak berhasil saat GAM ingin menghendaki kemerdekaan di Aceh. Namun pemerintah RI menolak. Hanya waktu itu, pemerintah memberikan pilihan untuk menetapkan Aceh sebagai otonomi khusus. Tapi tetap tidak berhasil. Hingga akhirnya pemerintah tetapkan operasi militer di Aceh, dengan status sebagai darurat militer.  


Tidak mudah memang untuk meyakinkan petinggi GAM untuk tidak 'ngotot' kemerdekaan sendiri. Kelihaian SBY beserta jajarannya perlu kita kenang dan apresiasi. Kalau bukan karena SBY tentu Aceh dan RI sampai hari ini terus bersitegang.

Sebagai rakyat saya sangat bersyukur atas rahmat yang diberikan Tuhan YME, Allah SWT karena beri petunjuk dan jalan keluar. Korban pun tidak bertambah dan Indonesia hingga hari ini menjadi Negara terdamai sepanjang masa karena tangan dingin SBY dan jajaran. Sekali lagi, terima kasih SBY!! Karena mu Indonesia tetap utuh dan kuat dalam melalui dinamika politik dari dalam dan luar yang terus datang silih berganti tanpa kompromi.

VIDEO PILIHAN