Mohon tunggu...
Abdi Galih Firmansyah
Abdi Galih Firmansyah Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Seorang pelajar yang selalu menggenggam cinta

Anti Fasisme Anti Rasisme

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sarjana Indie

16 September 2021   14:10 Diperbarui: 16 September 2021   14:21 85 7 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sarjana Indie
Diambil dari website SidogiriPenerbit

Rohman!, darimana saja kamu!?, kamu ini niat kuliah apa nggak sih?. Kalo kamu terus terusan seperti ini, keluar saja dari kelas saya, gak usah ikut perkuliahan!. Apa jadinya dunia nanti jika orang seperti kamu lulus jadi sarjana!. Pak Dosen sangat marah melihat kelakuan Rohman yang seringkali meng-off kan kameranya disaat perkuliahan sedang berlangsung. Mau saya lulus dengan predikat cumlaude, ataukah dengan IPK yang biasa-biasa saja, nggak akan merubah dunia sedikit-pun pak, Matahari juga pasti tidak akan nangis walaupun saya lulus dengan nilai IPK 3,0. Juga lautan pun tak akan mendadak surut melihat lulusan  sarjana seperti saya ini, bisik Rohman dalam hatinya.

Oke, Coba sekarang saya tanya, apa yang dimaksud dengan Pranata Sosial?, ayo coba jawab. Rohman pun terdiam, mencoba mengingat ingat kembali materi yang telah dipresentasikan teman temannya tadi. Namun yang terlihat di otaknya kok malah Gunung gunung indah, Hijaunya sawah pedesaan, dan senyuman hangat Ayah dan Ibunya. Selang beberapa menit kemudian, ia menjawab dengan sedikit gemetaran dan ketakutan, waah gimana ini nanti kalau salah, Pranata sosial adalah eee, kumpulan nilaii dan nn-norma yang mengatur kehidupan manusia, prof. Sambil melirik modul buku mata kuliah yang diberikan oleh pak dosen.  Laaah, itu kamu sambil melirik buku kan?!, gimana sih kamu ini. Makanya kalau teman mu presentasi dengarkanlah baik baik, ujar pak dosen dengan mengusap keningnya, mengisyaratkan penuh kekecewaan. Baik mahasiswa sekalian, inilah contoh mahasiswa yang tidak patut ditiru. Apa yang telah dipresentasikan oleh teman teman kali ini, dia tidak akan paham, susah kalau mahasiswa seperti ini diluluskan. sela pak dosen memotong ucapan Rohman ditengah tengah menjawab pertanyaan.

Rohman pun mulai bersedih hati, ucapan yang dilontarkan pak dosen cukup meruntuhkan mental-nya, sehingga hari itu pun Rohman sudah tak ingin kuliah lagi. Sistem perkuliahan daring yang melelahkan mata, sangat membosankan bagi Rohman, ditambah lagi indikator yang ditetapkan pada otaknya sangat bertolak belakang dengan kurikulum yang dipakai kampus. Satu materi yang dibahas oleh pak dosen pada waktu perkuliahan berlangsung, telah menguras waktu selama 1 jam lebih. Sedangakan ia sendiri, waktu 1 jam dapat dihabiskan untuk membaca buku yang ia anggap menantang sebanyak 100 halaman lebih, dua jam pun khatam itu buku.

 Waktu liburan kuliah selama 1 bulan itu pun akhirnya tiba juga, sehingga Rohman dapat lebih leluasa membaca buku apa saja yang ia inginkan, mulai dari Cerpen, Novel, Fikih, Tasawwuf, Siroh Nabawiyah, Hadits, bahkan Tahfidzul Qur'an, belum lagi Sejarah, Filsafat,  ataupun pemikiran tokoh tokoh intelektual semacam Emha Ainun Nadjib, Gus Mus,  Sujiwo tejo, Haidar bagir dan masih banyak lagi. Juga ia punya waktu lebih lagi untuk mendalami seni kaligrafi, memperbagus permainan gitar-nya, dan berbaur dengan Alam. Akan tetapi, Setelah waktu liburan itu habis, waktu yang digunakan untuk mempercerah kreativitasnya sudah tak ada lagi, sekarang digantikan oleh tugas tugas dari dosen yang menguras banyak waktu, pikiran dan tenaga, bahkan melemahkan penglihatan mata. 

Belum lagi soal tetek bengek pembagian tugas kelompok yang sangat menekankan proporsional tingkat dewa bagi setiap anggota kelompok se-jurusannya, bagi setiap anggota yang sedikit saja tidak aktif merespon dan menyimak obrolan chat WA grup, maka ia akan dibenci oleh teman satu kelas, dan Rohman pun kiranya salah satu diantaranya, eh mungkin hanya Rohman saja sih. Juga, tuntutan dosen yang menomorsatukan ketepatan waktu deadline saat mengumpulkan tugas, tak peduli seberapa tinggi tingkat penghayatan, dan pemahaman seorang mahasiswa pada materi, serta kerapian bentuk format tugas, dan keaktifan bertanya saat perkuliahan berlangsung. Sehingga dapat disimpulkan bahwasanya kuliah adalah even berlomba tergesa gesa untuk ngumpulin tugas. Seremeh itukah kuliah?,Aneh bukan?!. 

Akhirnya, Rohman pun kecewa dengan kondisi perkuliahan seperti itu. Kuliah yang diimpikannya dulu akan membawanya pada  kematangan kreativitas, kedewasaan, bertambahnya pengetahuan, keterampilan, serta menambah banyak relasi pertemanan, dan lebih produktif sebagai remaja, ternyata hanyalah khayalan kosong belaka. Pada saat itu juga, Rohman pun memutuskan keluar dari Universitas yang dicintainya itu, tapi itu dulu. Sekarang pandangannya mengenai dunia akademisi-kuliah tidak lain hanyalah bagaikan  penjara kebosanan-kejenuhan baginya yang sama sekali tidak memberi kesempatan untuk terbang lebih jauh menikmati kreativitas, inovasi, dan meningkatkan produktifitas. 

Konsep berpikir Rohman itulah yang saya sebut dengan Sarjana Indie. Dimana seorang lulusan sarjana tidak dibuktikan dengan tolak ukur ijazah ataupun nilai IPK cumlaude, juga bukan mahasiswa rajin kesayangan dosen, ataupun mereka para pemburu nilai bagus. Karena pemburuan yang menggebu gebu seperti itu bagi Rohman, tidak lain bagaikan burung Cendet yang dipaksa berkicau senyaring mungkin setiap saat tanpa peduli lelah, hanya demi memuaskan sang pemilik burung. Prinsip yang dipegang kuat kuat oleh Cendet cendet sekelasnya adalah kita berteriak nyaring maka kita dapat makan. Mereka tidak tahu kalau Rohman bukanlah burung pemimpi dangkal dalam kurungan seperti halnya Cendet cendet itu, melainkan Rohman adalah burung Garuda-gagah yang tabiatnya seharusnya terbang bebas melintasi udara, menembus awan, melihat keindahan hijaunya hutan, mampir di gunung sejenak melepas kepenatan, lalu terbang lagi, Melainkan dipaksa masuk kurungan sempit dan menyesakkan seperti itu. 

Pantaslah kurungan itu tak muat, dan pastinya diobrak abrik oleh kuku dan paruh nan kokoh dan runcing oleh Si Rohman-Garuda itu. Akhirnya Sang pemilik sangkar pun murka, tak senang dengan tingkah kelakuan si Garuda, juga burung burung lain dalam sangkar pun menatap nya dengan penuh curiga. Garuda ini pasti membawa malapetaka bagi kita, ujar Cendet cendet sekelasnya itu. Akhirnya Si Garuda itu pun diusir dari sangkar oleh sang pemilik nya. Tapi anehnya, bukannya sedih ataupun gelisah. Melainkan si Garuda sangat girang dan bersyukur kepada tuhan yang maha bebas, karena telah dibebaskan dari sebuah sistem otoriter yang membosankan dan menjenuhkan itu, untuk terbang lebih jauh melintasi jagad raya semesta ini. 

Baik bapak dosen yang terhormat, saya izin pamit keluar dari universitas tercinta ini, mohon doa restunya nggih. Meskipun saya tidak lulus jadi sarjana kampus, minimal saya lulus sebagai Sarjana indie. Batinnya

Oh, bagus kalau begitu silahkan keluar, jangan berlagak pitar kamu. Pak dosen berucap tenang dengan wajah meremehkan. Baik bapak, Assalamualaikum. Ujar Rohman lewat mulutnya, dan Alhamdulillah Gusti, matur nuwun Gusti, tersirat di dalam hatinya bernada bahagia. 

Akhirnya saya-pun mengikuti jejak pemikiran Rohman. Selamat tinggal kampus!...

Mohon tunggu...
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan