Mohon tunggu...
Venusgazer EP
Venusgazer EP Mohon Tunggu... Freelancer - Just an ordinary freelancer

#You'llNeverWalkAlone |Twitter @venusgazer |email venusgazer@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Belajar dari Pak Sarji: Mengubah Kotoran Sapi Menjadi Nyala Api

4 Oktober 2017   23:49 Diperbarui: 5 Oktober 2017   13:11 17311
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi pembuatan bioas milik Pak Sarji

instalasi di dapur
instalasi di dapur
Sedangkan pipa yang ada di dapur, dibuat instalasi khusus yang terdiri dari slang pembuangan, kran, dan slang menuju ke kompor. Kompor juga harus dimodifikasi dengan mengunakan spuyer yang lebih besar dari spuyer kompor gas rumahan biasa.

kompor yang sudah dimodifikasi untuk biogas
kompor yang sudah dimodifikasi untuk biogas
Selama masa 'penantian' yang lamanya hampir satu bulan itu, slang pembuangan pada instalasi di rumah harus dibuka. Dari situ akan keluar gas yang belum jadi. Maka kita harus siap-siap dengan aroma yang tidak sedap. Walau sebenarnya tidak terlalu mengganggu.

Setelah 25 sampai 30 hari dan sudah tidak mengeluarkan bau, maka kemungkinan besar biogas sudah jadi. Dari segi volume kotoran sapi encer itu sudah cukup banyak sehingga mempunyai tekanan untuk mengalir sampai ke rumah.  Kalau biogas sudah jadi maka slang pembuangan udara bisa ditutup. Caranya cukup dilipat atau diikat saja. Kemudian kran bisa dibuka agar biogas bisa mengalir ke kompor.

Nyala api yang dihasilkan oleh biogas memang berbeda dengan gas elpiji. Api biogas tidak biru total layaknya gas elpiji, melainkan berwarna biru dengan sedikit merah. Tidak berasap sehingga sama bagus ketika digunakan untuk memasak.

Agar tanki selalu bisa menghasilkan biogas maka harus dilakukan pengisian secara rutin setiap hari. Menurut Pak Sarji, kotoran dari 5 - 8 ekor sapi sudah sangat ideal untuk menghasilkan gas yang cukup untuk keperluan sehari-hari selama 1 bulan.

Instalasi tanki milik Pak Sarji memiliki sedikit kelemahan. Ia menuturkan karena keterbatasan tempat, instalasi tanki dan bak pengaduk berada agak jauh dari kandang. Ia terpaksa menggunakan gerobak kecil untuk membawa kotoran sapi ke bak pengaduk. Idealnya memang ada saluran pembuangan kotoran dari kandang. Jadi ketika kandang dibersihkan dengan air maka kotoran sapi bisa langsung dialirkan menuju ke bak pengaduk.

Pak Sarji ketika berbagi pengalamannya
Pak Sarji ketika berbagi pengalamannya
Kakek dengan 17 orang cucu itu masih melakukan pengadukan kotoran sapi dan air secara manual. Ia hanya menggunakan cangkul atau garu saja. "Ya hitung-hitung olahraga."Padahal keseharian Pak Sarji tidak hanya bertani dan berternak saja. Setiap hari dia juga sibuk di bengkel kerja yang tidak jauh dari kandang sapinya. Di sana ia memproduksi perabotan rumah tangga seperti meja, lemari, dan tempat tidur dari kayu berkualitas. Kayu-kayu tersebut berasal dari dari pohon-pohon yang sengaja Ia tanam puluhan tahun lalu.

Sebagai gambaran, pada instalasi biogas lain, bak pengaduk dibuat khusus dengan tambahan semacam mixer yang digerakan dari atas untuk memudahkan pengadukan. Ini digunakan pada instalasi biogas yang besar dengan jumlah sapi puluhan hingga ratusan ekor.

"Sebenarnya asal rajin, lumayan sudah dapat gas untuk masak." pesan Pak Sarji.

Pemanfaatan biogas skala kecil untuk rumah tangga sepertinya tidak mempunyai dampak yang signifikan terhadap ketahanan energi nasional. Namun bagaimana pun, minimal masyarakat tidak perlu repot antri saat terjadi kelangkaan gas elpiji.

Selain itu pemanfaatan kotoran sapi jelas  berdampak pada kebersihan dan kesehatan lingkungan. Bau tidak sedap tentu akan berkurang. Ampas dan air sisa proses biogas bisa dijadikan pupuk organik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun