Mohon tunggu...
Konstantinus Jalang
Konstantinus Jalang Mohon Tunggu... Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang

Berfilsafat Dari Bawah

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Mengenal Tradisi Discernment of Spirit dalam Gereja Katolik

29 Oktober 2020   15:28 Diperbarui: 29 Oktober 2020   15:32 18 1 0 Mohon Tunggu...

I. Pengantar

Gereja adalah umat yang dipanggil Tuhan menuju keselamatan.  Namun, tak dapat dipungkiri bahwa umat yang dipanggil Tuhan ini memiliki kecenderungan berbuat dosa (Concupiscentia).  Dalam keadaan yang demikian, manusia mengalami kesulitan untuk menanggapi Tuhan yang memanggil. Ketika manusia berusaha memilih yang baik, selalu saja ada dorongan lain untuk memilih yang jahat.

Dalam suratnya yang pertama, Yohanes menegaskan bahwa setiap roh perlu diuji (bdk. 1Yoh 4:1). Pernyataan ini berangkat dari kenyataan bahwa tidak semua roh yang berkarya dalam diri seseorang mengarahkannya pada Allah. Roh jahat pun berkarya dalam diri seorang manusia. Bahkan roh jahat mampu berkarya melalui sesuatu yang tampaknya sangat baik.  Anjuran Yohanes di atas sesungguhnya hendak mempertegas pernyataan Yesus sendiri. Yesus mengatakan bahwa sesuatu itu baik dikenal melalui buahnya (bdk. Mat 7:16). Discernment of spirit tidak lain adalah "aktivitas" yang perlu untuk mengenal kehendak Allah.

II.Apa Itu Discernment of Spirit dan Bagaimana Melakukannya?

A. Discernment of Spirit dalam Kitab Suci dan Tradisi

Secara etimologis, Discernment of spirit adalah terjemahan dari bahasa Yunani dokimazete ta pneuma (lih. 1Yoh 4:1).   Pneuma itu sendiri memiliki kesamaan arti dengan ruah (Ibrani). Kedua kata ini dalam bahasa Latin disebut spiritus. Dalam bahasa Indonesia, kata ini disebut "roh". Roh merujuk pada Roh Allah yang berkarya (bdk. Hak 23:19; 6:33; 1Sam 11:6) dan selalu dibedakan dengan perbuatan daging (bdk. Gal 5:6-25).


Dalam budaya Yunani klasik, dokimazein berarti mencobai, membuktikan, dan membedakan uang atau orang atau anggur, serta menilai sesuatu itu baik atau tidak. Kemudian kata ini diterjemahkan ke dalam bahsa Inggris discern yang berarti menyaring, memisahkan, membedakan, seperti kita berusaha membedakan atau memisahkan butir-butir beras dari kerikil kecil, atau pasir halus dan pasir kasar. "Aktivitas" discernment tidak hanya dipakai dalam kalangan religius, namun juga dipakai oleh para dokter dan pebisnis. Singkat kata, discernement dipahami sebagai "aktivitas" memilah-milah mana yang baik dan mana yang tidak baik dalam mengambil sebuah keputusan, entah keputusan personal ataupun keputusan komunal.


Dalam kehidupan spiritual, "aktivitas" ini dikenal dengan sebutan discernment of spirit. Discernment of spirit adalah "aktivitas" membedakan mana gerakan batin yang digerakan oleh Roh Kudus dan mana gerakan batin yang digerakkan oleh roh jahat. Roh Kudus selalu menuntun sesorang pada kehendak Allah, sedangkan roh jahat selalu mendorong seseorang kepada kejahatan.  Sumber gerakan selalu dilihat berdasarkan tujuannya. Dalam Perjanjian Lama, discernment of spirit berhubungan langsung dengan pengalaman manusia dalam menanggapi Wahyu Allah. Wahyu Allah bukan informasi, melainkan komunikasi yang mengundang partisipasi. 

Letak discernment justru dalam usaha menanggapi Allah dalam pengalaman konkretnya. Kain yang didorong oleh perasan iri, kemudian membuat sebuah keputusan keji, yakni membunuh Habel, saudara kandungnya sendiri (bdk. Kej 4:5-8). Abraham menanggapi Allah dengan membuat sebuah keputusan besar, yakni meninggalkan negerinya sendiri (bdk. Kej 12:4). Lalu, Saul yang dikuasai oleh roh memutuskan untuk menyelamatkan Yabesh (bdk. 1Sam 11:6-14). Singkat kata, sepanjang Perjanjian Lama berisi konsekuensi-konsekuensi keputusan manusia (entah itu baik atau buruk) berhadapan dengan wahyu Allah.  
Dalam Perjanjian Baru, Yesus sering kali menyampaikan perumpamaan-Nya dalam bentuk pilihan ganda, misalnya antara Allah dan Mamon (Mat 6:24), jalan yang lapang atau jalan yang sempit (Mat 7:13-14), membangun rumah di atas batu atau di atas pasir (Mat 7:26-27), gandum atau lalang (Mat 13:24-30), gadis-gadis yang bijaksana atau gadis-gadis yang bodoh (Mat 25:1-13), ikan-ikan yang baik dan ikan-ikan yang tidak baik (Mat 13:47-53). 

Dalam beberapa pilihan ganda di atas, selalu termuat apa yang baik dan apa yang jahat. Atau dengan kata lain, dalam pilihan ganda tersebut mengandung apa yang sesuai dengan kehendak Allah dan apa yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Melalui perumpamaan-perumpamaan di atas, Yesus hendak menyampaikan kondisi manusia. Dalam diri manusia selalu ada dorongan ke arah yang baik sekaligus ke arah yang jahat.


Sementara itu, Paulus pernah berbicara tentang karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (bdk. 1Kor 12:12-31). Paulus juga  membedakan antara perbuatan daging dan buah Roh ( Gal 5:6-25). Dalam surat kepada jemaat di Roma, Paulus menganjurkan agar umat mampu mengenal kehendak Allah dan apa yang berkenan kepada-Nya (bdk Roma 12:2). Kepada jemaat di Filipi, Paulus berharap agar mereka dapat memilih apa yang baik (bdk Flp 1:9). Senada dengan Yohanes, Paulus juga menganjurkan jemaat di Tesalonika untuk menguji segala sesuatu dan berpegang pada yang baik (bdk. 1Tes 5:21). Dalam Kisah Para Rasul, tradisi discernment of spirit dilakukan oleh jemaat perdana untuk memilih pengganti Yudas (Kis 1:15-26); memilih tujuh diakon (Kis 6:1-7), dan saat sidang konsili di Yerusalem (Kis 15:1-21). Melalui jemaat Gereja Perdana, kita akan mengetahui bahwa discernment of spirit adalah "aktivitas" yang juga bisa dilakukan secara bersama-sama.


Dalam perjalanan waktu, discernment of spirit direfleksikan secara mendalam oleh beberapa tokoh spiritual. Thomas Aquinas memahami discernment of spirit sebagai pemberian istimewa untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan atau untuk membaca rahasia hati.  Sementara itu, Kardinal Bona (+1674) memahami discernment of spirit sebagai penyelidikan terhadap berbagai gerakan; mana yang berasal dari Allah dan mana yang tidak.  Gembala dari Hermes menamakan discernment of spirit sebagai tindakan membedakan "malaikat kebenaran dan malaikat kejahatan".  


Di kemudian hari, aktitvitas discernment of spirit dijalankan secara disiplin oleh Ignasius dari Loyola. Kemudian discernment of spirit menjadi kekhasan spiritualitas Ignasian. Tradisi ini terus dijalankan oleh Gereja sampai hari ini terutama dalam pemilihan paus, keputusan penting dalam komunitas religius, dan bahkan dalam keputusan personal seorang religius.

 B. Melakukan Discernment of Spirit

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x