Mohon tunggu...
Konstantinus Jalang
Konstantinus Jalang Mohon Tunggu... Penulis adalah Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang

Berfilsafat Dari Bawah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pemujaan "Membabi Buta" atas Budaya Barat dan Drama Korea

14 Agustus 2020   17:23 Diperbarui: 14 Agustus 2020   17:58 34 2 0 Mohon Tunggu...

Tak dapat dipungkiri bahwa cara kerja alienasi dan dominasi di zaman modern-kontemporer dijalankan dengan amat lain sama sekali ketimbang zaman-zaman sebelumnya. Strategi kolonisasi dan imperialisasi telah dimodifikasi secara radikal. Modifikasi strategi merupakan upaya penyembunyian watak dasar, orientasi dan tujuan hakiki penguasa kapitalis. Jika di era-era sebelumnya dijalankan melalui strategi militer, penjajahan kini bergeser ke strategi eksploitasi wilayah kesadaran individu.

Kaum kuat kuasa kini mendominasi dan menjajah melalui pasar, hutang, bursa saham, investasi, pendidikan, teknologi dan jaringan komunikasi. Singkat kata, kaum pendominasi -- melalui teknologi kumunikasi massa -- membangun kesadaran palsu bahwa standar ideal peradaban manusia terletak pada gaya hidup kaum penguasa. Strategi ini efektif melalui media massa.

Kaum penguasa cukup memberikan tampilan yang memuaskan insting masyarakat melalui film dan konser musik di televisi, maka kesadaran masyarakat dapat dikontrol dan dikekang. Kesadaran masyarakat dibuat patuh, percaya dan tertarik pada pada maksud kaum penguasa kapitalis. Insting yang tergila-gila dengan dengan tampilan film dan konser musik membuat kesadaran subjek mudah dikontrol demi kepentingan penguasa kapitalis.

Dengan Koran, radio, film dan televisi, penguasa dapat mendominasi suatu wilayah dan pikiran sebuah bangsa. Singka kata, melalui film dan konser musik, kaum penguasa kapitalis membuat kesadaran pemirsa memiliki disposisi pemujaan atas kultur budaya penguasa kapitalis. Penjajahan modern-kontemporer dijalankan dengan strategi yang demikian.

Teknologi canggih serta selebriti yang cantik dan tampan yang ditampilkan film membuat masyarakat melihat subjektivitasnya dengan kaca mata serba kekurangan: kurang tampan, kurang cantik, kurang seksi, kurang modis, kurang canggih, kurang kekinian. Di satu sisi, masyarakat merasa instingnya terpuaskan, namun di sisi lain, masyarakat selalu merasa kurang puas dengan kondisi riil kediriannya. Dua sikap yang bertolak belakang ini menampilkan fakta bahwa subjektivitas dan eksistensi individu seolah identik dengan simbol sosial yang didesain dan diwartakan oleh sebuah film. Kepentingan ideologis kaum kapitalis bersembunyi di balik gaya hidup yang diwartakan film.

Cara berpikir ini juga kontekstual untuk analisa kritis atas disposisi anak-anak muda Indonesia yang cenderung memuja dan mamuji selebriti-selebriti Amerika dan Korea. Gaya rambut, cara berbicara, merek pakaian dan bahkan anatomi wajah para aktor dan aktris dijadikan rujukan untuk kedirian mereka. Konsekuensinya, mereka selalu merasa tidak puas dengan kondisi riil subjektivitasnya. Dampak lanjutannya ialah, produk pemutih wajah, pelurus dan pewarna rambut serta barang-barang yang identik dengan budaya barat dan korea habis terjual di pasaran. Konsekuensi paling dramatis ialah bahkan ada yang mengubah secara total anatomi wajah mereka dengan teknologi implan supaya tampak seperti idola mereka baik itu aktor Hollywood ataupun aktris drama Korea.

Anak-anak muda Indonesia bisa menghabiskan waktu berjam-jam menonton film-film barat dan drama Korea. Kisah heroic dan gaya hidup glamour yang ditampilkan film-film barat "memaksa" kesadaran mereka untuk meniru. Kisah-kisah romantis-melankolis yang ditampilkan drama korea "mengimajinasi" insting muda-mudi Indonesia agar kisah asmara mereka bisa sedramatis kisah lakon drama-drama tersebut. Singkat kata, film-film barat dan drama korea mengantar anak-anak Indonesia ke angan-angan yang tidak realistis.

Dalam hal ini, produk teknologi seperti: Televisi, youtube, instagram dan facebook potensial menggairahkan muda-mudi Indonesia untuk mengkonsumsi film-film barat dan drama Korea. Melalui iklan yang ditampilkan oleh media massa, anak-anak muda Indonesia bisa langsung mengetahui film hollywood dan drama Korea terupdate. Belum sampai seminggu film atau drama di-launching, penontonnya sudah sampai puluhan ribu.

Fenomena ini dapat dibaca sebagai keberhasilan kaum penguasa kapitalis dalam mendominasi kesadaran kaum muda-mudi Indonesia. Keberhasilan ini tampak pada prilaku konsumeristis-hedonistis, egoistis, kesamaan mengidolakan aktris, sikap, cara berpakaian. Generasi milenial Indonesia sedang dimabuk-kebayang oleh ketampanan Lee Min-ho.

Anak muda Indonesia sedang berdecak kagum oleh kecanggihan teknologi dalam film Hollywood, seperti: "Transformers" dan "Avengers Endgame". Mengagumi dalam hal ini bukan sebatas disposisi otentik. Disposisi ini tidak lain adalah produk indoktrinasi kesadaran oleh pihak kapitalis melalui film. Kekaguman ini sudah direncanakan oleh kaum kapitalis yang berkonspirasi dengan sutradara, selebriti dan kru pembuatan film.

Selera kaum pendominasi yang disebarkan melalui televisi dan youtube dapat mempengaruhi preferensi gaya hidup kaum muda Indonesia di era digital ini. Standar kekinian life-style direduksi pada gaya hidup glamour para selebriti. Propaganda gaya hidup selebriti yang secara masif dan sistematis disebarkan melalui film memiliki peran signifikan bagi disposisi kognitif pemirsa dalam preferensi. Konsekuensinya, semua orang berusaha memaksakan selera fashion dan gaya bicara seperti para selebriti. Konsekuensi kultural paling mengejutkan dalam hal ini ialah pengkhiatanan identitas kultur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN