Mohon tunggu...
Vemi Nabila Wibisono
Vemi Nabila Wibisono Mohon Tunggu... Mahasiswi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta

Pecinta makanan yang memiliki kandungan Mono Sodium Glutamat.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Memaknai Autism Awareness Day, Apakah Dunia Sudah Adil bagi Penyandang Autisme?

2 April 2020   23:46 Diperbarui: 3 April 2020   11:56 1666 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memaknai Autism Awareness Day, Apakah Dunia Sudah Adil bagi Penyandang Autisme?
Ilustrasi menyendiri. (sumber: SHUTTERSTOCK via kompas.com)

Pada awal tahun ini kita telah dikejutkan oleh berbagai peristiwa di dunia ini. Dimulai dari permasalahan politik, hingga ke permasalahan yang saat ini menyangkut hajat hidup orang banyak, yaitu masalah datangnya invansi COVID-19 ke hampir seluruh negara di dunia ini, termasuk juga Indonesia. 

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa nyaris seluruh orang tidak dapat memalingkan mata serta pikirannya terhadap isu-isu lainnya, melihat hingga saat ini kita belum melihat "solusi" untuk menangani virus ini. Maka saya juga tak akan heran jika hari ini, tanggal 2 April 2020 tidak dimaknai sebagai suatu hari yang spesial oleh orang-orang.

Tepat pada tanggal 2 April 2020 merupakan Hari Kesadaran Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day. Perayaan ini telah ditetapkan sesuai dengan deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui resolusi PBB No. 62/139 pada 18 Desember 2007, maka tanggal 2 April ditetapkan menjadi momen perayaan World Autism Awareness Day. 

Mereka juga memiliki agenda untuk menjadikan disabilitas sebagai hal yang dapat diterima dan menjadi bagian yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.[1] 

Seandainya tepat pada hari ini juga wabah Corona menghilang dari muka bumi ini, saya yakin betul tiap-tiap lembaga yang bergerak dalam bidang ini pasti akan turut merayakannya dengan mengampanyekan bahwa betapa pentingnya untuk peduli dan memiliki kesadaran untuk memperlakukan penyandang autis dengan adil tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. 

Berbicara mengenai ketidakadilan dan diskriminasi, kedua hal tersebut termasuk hal-hal yang umum saya jumpai sebagai seorang figur kakak dari adiknya yang beruntung terpilih menjadi salah satu penyandang autisme dari sekian anak-anak yang ditakdirkan normal lainnya. Adik saya merupakan penyandang autisme sejak ia lahir. 

Jarak umur kita bahkan hanya terpaut dua tahun, jika saya sekarang berumur 20 tahun, maka adik saya saat ini sudah berumur 19 tahun. Sebagai seorang kakak, saya melihat banyak hal yang mungkin terlihat biasa saja di mata orang lain.

Namun, menjadi sangat luar biasa di mata saya sendiri khususnya ibu saya yang paling tulus menyayangi anak-anaknya. Hal-hal tersebut saya sebut sebagai ketidakadilan dan diskriminasi yang diarahkan kepada adik saya yang pada akhirnya juga berujung kepada keluarga inti saya.

Terkadang seringkali terlintas di benak saya, apa yang dirasakan adik saya jika diperlakukan seperti ini? ia memang penyandang autisme, dan bodohnya saya selalu mengira jika adik saya tidak memedulikan hal-hal seperti ini. Namun lambat laun saya semakin mengerti, lebih tepatnya saya mencoba untuk memahami apa yang adik saya rasakan. 

Terlepas dari autis yang ia derita, masyarakat perlu paham bahwa mereka sama seperti kita, mereka juga memiliki perasaan. Saya rasa hal sefundamental ini perlu ditanamkan ke dalam sanubari mereka masing-masing.

Bahkan untuk membangkitkan kesadaran seperti ini saja saya rasa juga tidaklah mudah. Saya sendiri pribadi merasa butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk menerima kondisi adik saya dengan seikhlas-ikhlasnya, meskipun saya adalah bagian dari keluarga intinya.

Kembali lagi ke masalah perasaan, adik saya juga memiliki perasaan yang sama seperti kalian para anak-anak yang terlahir normal. Ia memiliki keinginan yang kuat untuk berkuliah, karena ia melihat saya berkuliah dan mendapatkan teman di sana. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN