Mohon tunggu...
Tovanno Valentino
Tovanno Valentino Mohon Tunggu...

Hanya Seorang Pemimpi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Damai Natal

24 Desember 2018   19:28 Diperbarui: 24 Desember 2018   20:55 279 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Damai Natal
Christmas Peace (wallpaperplay.com)

Saya tidak terlalu suka dalam menulis masalah atau pedebatan dalam pandangan-pandangan Agama yang beraneka ragam, bahkan dalam agama itu sendiri. Saya hanya dapat membaca dan memahaminya, memperkarya pandangan dan wawasan saya sesuai sudut pandang mereka. Saya tentu akan sulit, bahkan berlaku salah ketika membawa pandangan itu dalam sudut pandang saya pribadi.

Saya harus jujur, bahwa pilihan saya sudah final, sekalipun dinilai orang lain salah menurut pandangan mereka. Inilah hak Asasi saya, yang juga di jamin oleh dasar Negara kita. Sehingga apapun sorotan dan pengaruh itu datang, saya sudah dalam titik final. Inilah piihan saya.

Pernyataan pembuka saya di atas, jika ingin diartikan, saya tidak ingin "bermain-main" apalagi dalam menilai apapun yang menjadi kepercayaan orang lain, sekalipun berbeda. Oleh sebab itu, dalam keterbatasan saya selaku manusia dalam memahami dan mengerti karya Allah yang kita sepakat adalah Sang Pecipta itu Esa. Tulisan saya tidak bertujuan membuka berdebatan. Kita sudah memilih apa yang kita anut dan percaya dan menjalankannya secara sungguh-sungguh dalam kehidupan kita.

Jadinya muter ya? Sebenarnya saya yang serba kekurangan ini mencoba mengintrospeksi diri dalam perayaan Natal tahun ini.

Tidak ada salahnya, saya mengutip sedikit apa yang di jelaskan melalui Wikipedia, sekalipun tidak ada catatan kakinya namun dengan kerendahan saya bias menerimanya sebagai pegangangan saya.

Natal yang dalam bahasa Portugis berarti "kelahiran" adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Namun Beberapa gereja Ortodoks merayakan Natal pada tanggal 6 Januari.

Disisi lain dalam tradisi barat, peringatan Natal juga mengandung aspek non-agamawi. Beberapa tradisi Natal yang berasal dari Barat antara lain adalah pohon Natal, kartu Natal, bertukar hadiah antara teman dan anggota keluarga serta kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas.

Perbeadaan pandangan, makna, cara dan gaya merayakannya  bahkan penanggalannya dari kelahiran seorang yang dikenal dan diakui Tuhan, Anak Allah, Nabi dan seterusnya oleh berbagai aliran kepercayaan ata Agama. Tidak perlu saya membahasnya.

Bagi saya Natal tahun ini memiliki banyak perenungan. Lalu kemarin-kemarin? Ada juga pastinya, namun ketika melihat dengan mata hati subjective saya yang terbatas ini, perayaan seorang yang diakui minimal agama besar sebagai hasil "karya" Allah yang sempurna mendorong kita melihat dunia ini, saat ini dan ke depan.

Terlalu banyak pertikaian, perdebadan, perpecahan, peperangan atas nama kepercayaan masing-masing. Bagi saya, sah-sah saja, jika mejadi kehendak Allah. Namun ketika melihat ke depan, masa depan generasi dan masa depan dunia ini. Apakah dengan perayaan kelahiran (Natal) - kita boleh berbeda- mampu membuka mata semua orang, baik kelompok atau aliran, partai politik, para penguasa Negara miskin hingga super power di dunia ini melalui kekuataannya masing-masing (ekonomi, milter dll) untuk menciptakan dunia yang lebih baik ke depan demi anak cucu kita?

Dengan sepenuh hati, saya percaya, Kedamaian yang seiring dikaitkan dengan Natal ini, Allah tidak pernah ingin mencelakai siapapun umat-Nya.  Namun sebaliknya umat-Nya lah yang memporak-porandakan Tatanan kehidupan dunia ini. Tidak satupun ajaran Allah pada umat-Nya untuk mencelakai sesamanya. Apalagi sebagai sesama anak bangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x