Mohon tunggu...
Tovanno Valentino
Tovanno Valentino Mohon Tunggu...

Hanya Seorang Pemimpi

Selanjutnya

Tutup

Media

Remaja Rentan Terhadap "Social Media Depression"

23 Januari 2012   10:55 Diperbarui: 25 Juni 2015   20:32 1708 7 8 Mohon Tunggu...
Remaja Rentan Terhadap "Social Media Depression"
13273159271908390791

[caption id="attachment_165638" align="aligncenter" width="650" caption="Ilustrasi - 2.bp.blogspot.com"][/caption]

Anda mungkin pernah membaca berbagai berita maupun artikel yang membahas perilaku anak dan remaja di media sosial, atau bahkan persoalan mereka sering kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya yang melibatkan anggota keluarga kita sendiri. Ya ! Memang bagi sebagian orang sudah biasa, dan tidak perlu dibesar-besarkan,  tulisan-tulisan sejenispun pernah saya muat beberapa waktu lalu, namun bagi saya hal ini sangat penting untuk sering diingatkan, mengingat dampak media sosial sudah cukup memprihatinkan dewasa ini.  .

Memang agak sulit menghindari anak dari trend yang sedang mereka gandrungi. Bahkan untuk anak-anak di bawah usia 13 tahun pun membanjiri Facebook.  Entah mereka mendaftarkan diri secara diam-diam atau malah dizinkan oleh orang tua mereka.

Dengan menggunakan laporan statistik pengguna Facebook dengan kelompok usia dibawah 24 tahun, dapat kita simpulkan bahwa Facebook memang didominasii oleh anak muda. Dan pada kelompok usia ini pun diduga termasuk mereka yang berusia dibawah 13 tahun.

Sebut saja untuk pengguna Facebook Indonesia,  kelompok usia 13 - 15 tahun memiliki porsi 12,3%  dari total pengguna Facebook Indonesia, atau 5.078.440 pengguna dari  jumlah 41.777.240 . Untuk kelompok usia  16-17 berjumlah 6.177.060 atau 15 % dan untuk kelompok usia 18 - 24 tahun berjumlah 17.417.600 atau 42,3%. Kalau saja digabungkan maka jumlah kelompok usia 13 - 24 tahun memiliki porsi terbesar yaitu 69,6% atau 28.673.100. Komposisi iseperti ini tidak jauh berbeda dengan pengguna Facebook di Amerika maupun Eropa, selalu didominasi oleh anak muda.

Dengan menggunakan data statistik di atas, tentu saja kelompok usia tersebut sangat rentan pada masalah penyimpangan perilaku di media sosial ketimbang orang dewasa. Walau demikian, kelihatannya kasus-kasus tersebut sengaja didiamkan atau malah tidak dilaporkan oleh anak atau remaja itu sendiri kepada orang tuanya, sehingga terkesan tertutup dari pemberitaan publik.

Untuk menggambarkan depresi yang timbul akibat media sosial, beberapa waktu lalu, American Academy of Pediatrics (AAP) melaporkan hasil penelitiannya yang menyebutkan bahwa media sosial, termasuk situs  jejaring sosial seperti Facebook, MySpace, dan Twitter, situs game dan virtualClub Penguin, Second Life, dan Sims bahkan untuk Situs video seperti YouTube dan blog lainya, telah menyebabkan masalah cyberbullying dan fenomena baru yang disebut "Depresi Facebook" yang didefinisikan sebagai depresi yang terjadi ketika pra remaja (anak-anak) dan remaja banyak menghabiskan waktu di situs media sosial yang  pada akhirnya mulai menunjukkan adanya gejala depresi.

Dalam penelitian tersebut di atas, Istilah "Depresi Facebook" sebenarnya untuk menunjukan atau mewakili gejala depresi yang diakibatkan penggunaan media sosial pada umumnya atau "Social Media Depression". Untuk memahami "Social Media Depression",  anda dapat juga membaca melalui beberapa artikel : What's social media depression, Social Networking Linked to Depression in Teens, How Avoid Aocial Media Depression, Current Status Sad Social Media Depression dan lain-lain. Sedangkan untuk jumlah pengguna usia remaja untuk media sosial lain dapat dilhat melalui Social Media and Young Adults dan Social Networking Statistics

Laporan tersebut tidak berlebihan, mengingat media sosial saat ini telah menyajikan hiburan dan komunikasi  yang mudah dan "mengiurkan" bagi anak muda dan telah tumbuh secara eksponensial. Mereka terlibat secara aktif dan telah menjadi kegiatan rutin bahkan secara berlebihan telah menjadi kecanduan.  Apabila diperluas, maka "Depresi Facebook" tersebut dapat disebut sebagai "Depresi Media Sosial" untuk mewakili kasus yang sama dan terjadi di mendia sosial lainnya.

Lewat intensitas pergaulan dunia maya ini, mereka terobsesi untuk menjadi pusat perhatian teman-teman sebayanya atau bahkan orang dewasa lainya. Keinginan untuk lebih baik dan paling "hebat" mendorong mereka untuk berperilaku ganda, yang tadi biasanya pendiam dapat menjadi sangat enerjik untuk mengekspresikan dirinya.  Keadaan ini juga memaksa mereka untuk dapat menampilkan "kebohongan" yang diciptakan hanya untuk terlihat lebih dari orang lain. Dan ketika orang lain menunjukan hal yang lebih baik dari dirinya maka mereka terdorong untuk menunjukan ekspresi ketidaksenangan dan kalau di pendam maka akan menyebabkan gejela depresi tersendiri. Hal ini dapat kita lihat pada mereka yang mengalami 'pelecehan' di media sosial oleh orang dewasa atau menjadi korban cyberbullying.

Remaja yang mengalami gejala depresi dapat menganggu aktivitas sosial sehari-harinya, termasuk kegiatan belajarnya di sekolah. Beberapa gejala gangguan depresi pada remaja dapat berupa perasaan sedih yang berlarut-larut, selalu murung, , hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, gangguan pola tidur dan menunjukan emosi lainya secara berlebihan seperti cepat marah atau juga cepat menangis. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka dapat berdampak buruk pada anak dan remaja. Dalam banyak kasus depresi disebutkan sebagai salah satu penyebab utama adanya kejadian bunuh diri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x