Muda

Young Eagle Leadership Training Batch II

14 Februari 2018   13:55 Diperbarui: 14 Februari 2018   13:59 321 1 0

Di dunia atau di Indonesia khususnya banyak seseorang yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang hebat dan diakui banyak orang, mempunyai banyak pengikut, memiliki fasilitas lebih, menjadi popular, dikenal banyak orang dan ditakuti karna kekuasaan luar biasa. Banyak keuntungan yang ditawarkan dunia mengenai kenikmatan menjadi seorang pemimpin seperti hal yang saya sebutkan diatas, oleh karna itu tidak sedikit orang yang belomba-lomba untuk mendapatkan kursi paling tinggi di kelasnya, bisa dalam bidang organisasi politik, pendidikan dan kehidupan bermasyarakat pada umumnya, tidak jarang pula yang menggunakan banyak langkah dari hal yang paling baik sampai hal paling jahat serta menghalalkan segala cara untuk kursi pemimpin tersebut. Namun pada akhirnya dalam masa seorang pemimpin ini menjalankan tugas sebagai kepala yang harusnya menjadi panutan, mengarahkan bawahannya, jadi berkat dalam statusnya, dan mempunyai dampak positif yang nyata untuk sekitar tidak berjalan dengan baik karna terlalu fokus menikmati yang dunia ditawarkan sebagai seorang pemimpin, tak jarang juga melupakan Tuhan.

Oleh karna itu terbentuk sebuah organisasi bernama YLI (Young Leader Indonesia) pada tahun 1999 yang di Pimpin oleh Robby Chandra, Julia Suleeman, Ruddy Koesnady, dan Ichsan Gunawan yang mempunyai kerinduan yang besar untuk pengkaderan secara rutin mengenai  jiwa kepemimpinan yang benar pada Pemuda menurut kacamata Kristen, serta mulai bergerak pada tahun 2000, yang salah satunya dalam bentuk melalui kegiatan bernama YELT (Young Eagle Leadership Training). YLI sendiri memiliki visi sebagai berikut "Menjadi pusat pembelajaran dan keterampilan yang memberikan kesempatan pada anak muda untuk membuat mereka bertumbuh dalam keterampilan dasar hidup, potensi kepemimpinan dan menyingkapkan panggilan mereka dalam menjadi pribadi yang berdampak kuat bagi lingkungan mereka". Saya sendiri sebagai salah satu dari 11 orang YELT Batch II, rindu untuk berbagi cerita dan berkat tentang camp yang sungguh menjadi salah satu pembangun dalam pertumbuhan iman dan karakter saya. YELT Camp ini terdiri dari pemuda pemudi gereja berbagai daerah dan denominasi dengan usia bekisaran 16-22 tahun dan camp ini sudah berjalan selama kurang lebih 4 tahun dimana sudah ada satu angkatan alumni Batch I yang telah menyelesaikan raingkain Camp dan pelatihan selama 2 tahun,  dalam 2 tahun tersebut terdiri dari 4 kali pertemuan camp yang bertempat di macam daerah juga di jawa. 

Dari YELT Batch I yang awalnya berjumlah 24 orang hingga akhirnya yang menyelesaikan sampai di Camp akhir berjumlah 14 orang, ada beberapa orang yang tidak lanjut dalam rangkaian camp karena berbagai alasan yang pertama karna memilih untuk tidak ikut dan melanjutkan dalam kegiatan selanjutnya karna kegiatan lain, tidak menjaga komunikasi antara anak didik yang lain juga dengan mentor dan juga ada beberapa anak yang dianggap tidak serius dalam menjalani camp karna kenakalan di kehidupan sehari-hari. Di YELT Batch II yang dimulai pada tahun 2015 terdiri dari 11 orang, 6 Laki-laki yaitu Saya sendiri Rivaldi Anjar Saputra 21 tahun jemaat GKI Kebonagung Malang, Yeremia Wicaksono 19 tahun jemaat GBI BCC, 

Manuel Harmonangan 19 Tahun jemaat GBI BCC Tangerang, Chresna Evan 17 Tahun Jemaat GKI Gejayan Jogjakarta , Ade 17 Tahun dari SMA Kristen Indonesia Magelang, Yehezkiel Dian 17 tahun dari Jemaat GKKSBS Lampung, dan 5 perempuan yaitu Anastasia Geraldine 17 tahun Jemaat GKI Darmo Satelit, Michelle Charisma 19 Tahun Jemaat GBI Glow Tangerang, Evi Magdalena 18 Tahun Jemaat GKJ Bukit Sion, Egapi Sifara 19 Tahun Jemaat Gereja Kristen Pasunda, dan Kia Jemaat dari GKKSBS Lampung.Kegiatan dalam YELT di camp petama ini dimulai pada tanggal 20 Juni 2015 -- 03 Juli 2015 bertempat di Jakarta Utara, dalam waktu kurang lebih 3 Minggu kami anak didik diajak berfokus mengenai Gambar Diri yang berbicara tentang potensi, bakat, minat, pengamatan, kepekaan terhadap sekitar dan juga Luka Batin yang secara tidak sadar mempengaruhi kepribadian kita. Kami juga diajak belajar pada kepemimpinan dan mengetahui  lebih dalam beberapa tokoh Alkitab seperti Musa, Yusuf, Nehemia. 

Tidak hanya pada segi kepemimpinan mereka saja namun kami juga diajarkan untuk melihat proses bagaimana mereka dipilih, dipanggil dan menjalankan panggilan dengan penyertaan Tuhan yang luar biasa. Kami juga tidak dibosankan dengan belajar dalam bentuk sesi saja, kami dilatih untuk keluar setiap harinya berkelilling kota Jakarta yang begitu luas untuk melihat kenyataan yang sebenarnya. Sehingga setelah belajar dari sesi yang ada kita dapat langsung mempraktekkan dalam kehidupan nyata. 

Satu hal yang unik dalam Camp Pelatihan ini adalah setelah setiap pagi kami belajar seperti dalam kelas kami selalu diajak untuk keluar dan menemukan banyak kejutan di tiap harinya dengan menggunakan kendaraan umum serta ikut merasakan perjuangan setiap orang dalam perjalanan, bertemu tokoh-tokoh pemimpin dalam dunia nyata yang juga memiliki sisi kepemimpinan tokoh yang kami pelajari dari Alkitab, melakukan pengamatan di sebuah tempat dan dilatih untuk mengambil keputusan yang benar. 

Seperti kegiatan Magang, bertemu, belajar gaya kepemimpinan, pengambilan keputusan, kisah hidup Pak Hendri seorang Owner Rumah Makan Bebek Kaleyo yang mempunyai 15 Outlet besar dan 1200 Karyawan yang tersebar di Jabodetabek, Pak Hendri juga merupakan Jemaat GKI Kayu Putih. Pergi ke Pelabuhan Sunda Kelapa di ujung kota Jakarta, menemui beberapa orang serta wawancara mengenai jalan hidup dan kesusahan beberapa nelayan secara berkelompok, Berkunjung ke Kantor salah satu Lembaga Sosial Masyarakat di Kota tangerang bernama World Vision Indonesia yang sekarang bernama Wahana Visi Indonesia, pada kesempatan kali ini kami diajak untuk mengenal beberapa visi Tuhan Yesus melalui pelayanan WVI ini yang berfokus pada pertumbuhan anak di seluruh daerah Indonesia,begitu juga dengan 2 orang pemimpin mereka Pak Rudy dan Bu Grace yang  mempunyai gaya kepemimpinan  berbeda dari tokoh pemimpin yang kami pelajari sebelumnya serta perjalan hidup mereka yang unik, rela memberikan seluruh perhatian dalam hidupnya untuk pelayanan dalam WVI, serta kami diajak langsung ke lapangan dimana terletak sebuah desa kecil yang kumuh di pinggiran kota Jakarta yang megah bertemu anak-anak didik WVI yang mayoritas anak dari keluarga yang tidak mampu. 

Di salah satu kesempatan kami juga diberikan tugas dan kejutan yang sangat unik dimana kami diminta untuk berakting dan menyamar menjadi anak dari Pondok Pesantren dan melakukan pengamatan mengenai renspon gereja dan jemaat menanggapi bebrapa orang yang memiliki iman berbeda yang rindu mengikuti ibadah hari minggu di GKI Agape Jakarta Utara, kami benar-benar menggunakan pakaian Kokoh dan Berjilbab bagi yang perempuan. Diajak untuk lebih mengenal diri dan kemampuan melalui beberapa alat ukur seperti ARPU (Arah Realita Perencanaan Upaya) untuk pembuatan Planning, SRH (Skala Riwayat Hidup) untuk mengetahui luka batin, Radar Peran kita terhadap sekitar. Setelah selesai dalam rangkaian Camp pertama kami kembali ke daerah kami masing-masing dengan membawa banyak berkat dan bekal untuk menjalani kehisupan normal kami, namun kami tetap diberi sebuah tugas untuk memberikan penilaian terhadap pertumbuhan diri kita secara pribadi selama sehabis camp pertama yang juga harus kami laporkan kepada mentor dan pada camp kedua.

Camp Kedua YELT Batch II bertempat tidak lagi di Jakarta namun di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Magetan. Kali ini camp rangkaian camp tidak sepanjang camp pertama, dimulai pada tanggal 26 -- 30 Desember 2015, dan kami tinggal dirumah Pak Eddy salah satu Owner perusahaan yang bergerak di bidang fashion "Amigo". Pak Eddy merupakan salah satu contoh pemimpin masa kini yang pada camp kali ini pengalaman beliau menjadi pelajaran buat kami, Pengambilan Keputusan yang tepat sebagai seorang pemimpin jadi konsentrasi di camp kedua ini. Seperti biasa setiap pagi kami belajar dalam bentuk sesi di setiap paginya tentang Pengambilan Keputusan dan Kepemimpinan tokoh Alkitab seperti Ester. 

Di kenalkan dengan 5K (Karakter, Kemampuan, Komitmen, Kedekatan dengan Kristus, Kontribusi, Kuasa) dan mengembangkan 5 hal tersebut untuk menjadi pemimpin yang di berkati Tuhan, belajar mengenali masalah dan langkah-langkah untuk mengambil keputusan yang benar dengan dibagi menjadi 4 analisis : Analisis Situasi, Analisis Masalah, Analisis Solusi, Analisis Penerapan solusi. Serta yang paling penting dalam camp kedua ini kami juga mampu terjun kelapangan untuk mewawancari beberapa staf dan karyawan Amigo tentang system kerja yang baik. dari Pak Eddy yang mempunyai sekitar 10 outlet besar tersebar di Jawa Tengah kami belajar dalam setiap keputusan yang diambil selalu andalankan Tuhan dan kepentingan orang lain, setelah kembali kerumah kami masih diberi beberapa tugas tanggung jawab pada kemajuan diri kita sendiri dan membawa pengalaman serta cerita ke camp ketiga nantinya.Camp Ketiga YELT Batch II kembali diadakan di Jakarta sekitar beberapa bulan kemarin di tanggal 27 Juni 2016 -- 13 Juli 2016, kali ini kami tinggal dirumah Pak Robby bersama keluarga di daerah Kayu Putih, Jakarta Timur. 

Dalam sepanjang kurang lebih tiga minggu kami akan belajar mengenai pentingnya Team Work atau Kerja Tim, karna seorang pemimpin sejatinya tidak akan berguna juga hanya seorang diri, seorang pemimpin juga dituntut untuk mengetahui apa yang menjadi hal otentik dalam dirinya sehingga dapan berguna penuh seperti kisah Daud vs Goliath, tidak sok jago dan tampil apa adanya serta mengandalkan Tuhan dalam menggunakan apa yang menjadi Karunia kita. Mempertajam visi dan mulai melakukannya dari sekarang, mengenali 5P (Potensi, Passion, Pola, Problem, dan Perencanaan), Belajar juga dari Ruth tentang komitmen yang sudah dia buat untuk mertuanya dan Tuhan, mampu menjadi berkat dalam hal kecil yang ia tekuni, membenarkan Persepsi akan diri kita sendiri, masa depan serta sekitar. 

Setelah kami belajar semua itu di dalam kelas, Kantor YLI, dan Kantor Sinode Jakbar, masih seperti biasa kami keluar untuk bertemu orang-orang diinggir jalan serta karyawan beberapa tokoh dalam Central Park Mall berbicara tentang apa persepsi mereka tentang diri sendiri serta masa depan yang sangat mempengaruhi karakter sesorang. Kami juga diberi kembali kesempatan untuk magang dengan dibagi menjadi 4 kelompok yang berisi 3 orang dalam satu kelompok, kami di beri kesempatan untuk magang dan belajar di tempat yang berbeda yaitu di Kantor YLI Jakarta, Wisma Bina Warga Puncak Bogor, Panti asuhan dan Rumah Sakit Balai keselamatan, kami mendapatkan pengalaman yang berbeda setelah satu minggu magang dan bertemu kembali untuk saling berbagi cerita, pengalaman, dan pelajaran di masing-masing tempat, kami dilatih untuk terjun dalam masyarakat. 

Setelah magang dan sharing kami kembali mendapat kejutan di camp ketiga ini dimana kami akan diajak untuk berpetualang di sebuah pulau tak berpenghuni untuk belajar bertahan hidup dan teamwork, Pulau Edam yang terletak di kepulauan seribu yang juga merupakan makam Raja dan Ratu banten, dengan menggunakan perahu nelayan dan perjalanan menyebrang selama satu jam. 

Disana kami belajar akan potensi kami ketika dalam  keadaan terbatas serta dilatih untuk keluar dari zona nyaman. Keesokan harinya sekitar pukul 15.00 WIB kami kembali menyebrang ke Jakarta dan melanjutkan perjalanan ke Puncak untuk menyelesaikan sesi di Villa Berkat, disana kami  diajak untuk mempresentasikan 5P kami dan sharing tentang strategi apa yang akan kita gunakan untuk mencapai 5P itu dalam kehidupan sehari-hari dan berkomitmen kembali untuk bertumbuh selama 6 bulan sebelum camp terakhir di bulan Desember 2016. Setelah selesai seluruh rangkaian kami turun ke tempat pelatihan Bina  Penulis untuk para pendeta dan calon pendeta yang dibuat oleh Sinode Jakarta Barat juga, dan disitu kami berpisah untuk kembali ketempat masing-masing menjadi berkat buat sekitar, memimpin diri sendiri dan berkomitmen atas strategi yang sudah kita buat sendiri dari 5P tersebut dan saya tak sabar untuk kembali menerima banyak hal di Camp Keempat YELT, Desember 2016.

Sungguh mengucap syukur dimana Tuhan memberikan kesempatan untuk mengikuti YELT dan menjadi seorang eagle yang tangguh, bertemu orang-orang hebat dan teman-teman yang hangat, mendapat pengalaman luar biasa, keluar dari zona nyaman, lebih peka, semakin dekat dengan sang Pencipta, belajar lebih dalam tentang Alkitab, mengenali luka batin dan potensi, diajak untuk sadar tentang visi Tuhan dalam diri kita, dan membuat serta melakukan strategi untuk masa depan yang berdampak positif bagi banyak orang, semoga banyak pemuda Kristen yang mendapat pengalaman yang tidak jauh beda menggunakan masa muda dengan benar dan tidak sia-sia, menjadi pemuda yang berguna dan menjadi berkat luar biasa sebagai perpanjangan tanganNya. Yosua 3 : 1-5 mengajarkan "ketika kita jadi pribadi yang mampu makin peka merasakan Penyertaan dan kuasa-Nya, akan banyak kejutan yang nampak dalam hidup kita"