Media Artikel Utama

Kenali Isu Hoaks dengan Mudah

10 Oktober 2018   20:06 Diperbarui: 11 Oktober 2018   18:54 2339 6 1
Kenali Isu Hoaks dengan Mudah
Ilustrasi (Pixabay)

Ada sekitar 3.500 isu hoaks yang disebar ke media sosial setiap harinya. Berita itu paling banyak disebar melalui pesan WhatsApp, Facebook, dan Instagram.

Mereka yang percaya info hoaks tak mengenal usia, gelar, atau pun jenis kelamin. Kebanyakan mereka yang dengan tingkat pendidikan rendah mudah sekali percaya dengan berita bohong itu. Apalagi di media sosial dibumbui dengan kata-kata bombastis.

Namun ternyata orang yang punya gelar S3 pun ada yang mudah terhasut oleh berita bohong. Secara naluri, berita negatif memang paling mudah diterima otak dibandingkan berita bermanfaat karena akan terasa berat diterima.

Isu-isu kebohongan dengan mudah tersebar di media sosial hanya dengan sekali klik share atau posting ulang di media sosial. Apalagi saat ini kita memang senang berlomba-lomba memberikan informasi paling baru

(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Tak terkecuali saya, pun suka sekali menyebarkan informasi terbaru sekaligus yang saya percaya. Kalau saya sudah percaya terhadap info biasanya akan langsung share tanpa konfirmasi terlebih dahulu apakah postingan yang saya share adalah berita benar atau tidak.

Dulunya saya begitu, mudah sekali menyebarkan info-info tertentu. Sekarang saya sangat berhati-hati memosting ulang berita yang masih belum jelas kebenarannya. Meski mungkin beberapa kali masih teledor atau mungkin di masa depan saya ikut menyebarkan hoaks tanpa disengaja. Semoga saja tidak pernah terjadi. Aamiin.

Memecah belah bangsa

Tujuan orang membuat hoaks ada banyak, salah satunya memang untuk memecah belah bangsa. Kebetulan Indonesia adalah negara yang sangat potensial untuk dimanfaatkan baik alam atau manusianya.

Indonesia adalah negara yang besar, negara yang punya daratan dan lautan sekaligus. Pulau-pulaunya pun terpisah-pisah sehingga membentuk banyak keragaman kekayaan alam, bahasa, budaya, dan lain-lain.

Indonesia memang kaya, siapa yang tidak ingin memilikinya? Dengan memecah belah bangsa harapannya bisa mengalihkan kepemimpinan atau ada beberapa wilayah yang mungkin luput untuk mendapat perhatian sehingga mudah diekploitasi oleh siapapun.

Kegaduhan itu biasnaya memang sengaja untuk menyebarkan kebencian, fitnah, dan adu domba. Semakin kacau suatu bangsa, akan semakin mudah pengaruh-pengaruh negatif masuk. Hoaks paling keji bagi saya adalah yang dibungkus oleh agama dengan disertai ayat-ayat.

Masih ingat kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Bapak Ahok, mantan Gubernur DKI Jakarta? Beberapa oknum memanfaatkan momen itu dengan menambah isu hoaks agar situasi di Indonesia semakin kacau. Tidak hanya itu, bencana alam pun diselipi dengan berita bohong, seperti bencana alam banjir yang terjadi di beberapa daerah, gempa bumi di Lombok, termasuk tsunami di Palu

(dok. pribadi)
(dok. pribadi)
Beberapa media juga sempat termakan isu hoaks saat bencana terjadi karena biasanya viral di media sosial. Tahun 2017, Sandiaga Uno mencatat data laporan banjor yang masuk dari 20% yang terverifikasi, 50%-nya hoaks.

Pasca-tsunami di Palu beredar video dan foto gempa di Bulukumba yang menyebabkan kerusakan, memakan korban jiwa, hingga menyebabkan jalan terbelah. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho membenarkan kejadian itu, ada gempa berkekuatan 5,2 SR di Palu dan 4,8 SR di Bulukumba, tapi tidak merusak dan tidak menelan korban jiwa.

Jika kita gampang percaya dengan berita bohong, masyarakat akan panik. Tak hanya masyarakat di daerah gempa tapi juga orang-orang di luar daerah. Bisa jadi kemudian orang-orang asing menyebutkan Indonesia tidak aman. Dampaknya bisa sangat merugikan loh.

Berita bohong mudah dikenali

Rosarita Niken Widiastuti, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Komeninfo, dalam acara Danone Blogger Academy 2018, menjelaskan bahwa orang Indonesia cukup melek media sosial, apalagi di aplikasi chating. 

Tak heran jika banyak orang termakan hoaks, sebab 93,46% pengguna internet di Indonesia hanya  memakai smartphone bertujuan untuk berkomunikasi dan 76,88% menggunakannya untuk browsing. 

Sementara itu aktivitas saat terhubung ke internet, 81,9% digunakan untuk berkomunikasi, 60,24% untuk browsing. Itu pun browsing belum tentu untuk konfimasi berita-berita yang dianggap kurang berfaedah. Wajar jika hoaks masih terpelihara hingga saat ini. apalagi pengguna internet di seluruh dunia mencapai empat miliar.

Media sosial sangat kuat pengaruhnya. Bayangkan saja dalam satu menit ada sekitar 3,3juta informasi yang dibagikan di Facebook, 29juta di WhatsApp, 448ribu di Twiter, 65ribu di Instagram, dan lain-lain. Sebanyak 90% pengguna internet di Indonesia adalah penikmat sementara itu 10%-nya adalah pembuat konten.

Dari 10% itu tidak semua membuat konten sesuai dengan fakta, kalau pun sebenarnya pembuat konten hoaks lebih sedikit jumlahnya, pengaruhnya bisa lebih besar ketimbang penyebar informasi positif.

Seperti yang saya sebut di atas, konten negatif lebih bisa dicerna ketimbang berita positif, sebab berita negatif berhubungan dengan emosi. Biasanya memang sih, berita hoaks sasarannya ke emosi pembaca.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2