Mohon tunggu...
Usep Saeful Kamal
Usep Saeful Kamal Mohon Tunggu... Mengalir seperti air

Peminat masalah sosial, politik dan keagamaan. Tinggal di Depok.

Selanjutnya

Tutup

Politik

PKB dan Daulat Pangan Melalui BUMDes

4 Mei 2020   17:27 Diperbarui: 5 Mei 2020   22:20 64 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
PKB dan Daulat Pangan Melalui BUMDes
gus-muhaimin-saat-launcing-benih-lokal-sang-pemimpin-di-indramayu-tahun-2019-5eb1842cd541df7f8f7a5ac2.jpg

Jelang bulan Ramadan lalu, Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) melakukan aksi sosial yang keluar dari kebiasaan, yakni membeli ribuan ayam langsung dari peternak kemudian didistribusikan langsung kepada korban PKH akibat pandemi Covid-19 di Jakarta. Baik peternak ayam maupun korban terkena PHK sama-sama masyarakat yang terkena dampak langsung pandemi Covid-19. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)  yang diberlakukan pemerintah sama-sama mengimbas keduanya.

Pertama, harga ayam di tingkat peternak anjlok karena menurunnya nilai beli masyarakat sementara biaya produksi tidak berimbang dengan harga jual. Kedua, tidak sedikit pekerja yang terpaksa dirumahkan (PHK) perusahaan karena produktifitas usahanya terus menurun dan tidak mampu menggaji karyawan.

Penulis kira, aksi sosial PKB yang tidak biasa ini patut diacungi dua jempol karena pada saat yang bersamaan bisa memberikan manfaat dan maslahat terhadap dua sektor usaha masyarakat demi mempertahankan penghidupannya, yakni peternak dan buruh perusahaan. Bila tidak diberi uluran tangan, keduanya bisa tidak bisa menikmati makan.

Aksi sosial PKB diluar kebiasaan lainnya disuarakan di parlemen, dimana PKB meminta pemerintah untuk membuat kebijakan membeli langsung produk pangan petani, kemudian diberikan kepada masyarakat secara gratis sebagai upaya meringankan beban mereka dalam pemenuhan pangan keluarga di tengah pandemi Covid-19.

Pandangan PKB pun diluar kebiasaan bahkan belum pernah disuarakan partai lain,  dengan memakai asumsi bila negara membeli 3 juta ton gabah petani dengan harga Rp 4.200 per kilogram dengan anggaran sebesar Rp12,6 triliun akan mencukupi kebutuhan beras 195 juta penduduk untuk satu bulan. Bila dianggap kurang untuk memenugi 260 juta lebih penduduk, tinggal ditambah perkaliannya.

Pandangan ini penulis kira sangat realistis, karena dari sisi anggaran bila pemerintah berniat membeli gabah petani memiliki peluang untuk dimasukkan dalam rencana penambahan anggaran Rp1.000 triliun. Memprioritaskan Rp. 12,6 triliun untuk membuat warga negara bertahan hidup selama satu bulan tidak sulit tentunya, itu pun bila ada kemauan.

Bila betul program ini dilakukan pemerintah, pada saat yang sama akan berimplikasi positif terhadap naiknya intensitas perputaran ekonomi di desa yang dibarengi  dengan tingginya semangat petani untuk tak henti bercocok tanam. Apalagi bagi mereka yang selama ini mencari nafkah di kota (urban), terlebih disaat pandemi Covid-19 ini.

Tidak berhenti disini, legislator PKB di DPR RI tidak pernah berhenti menyuarakan kepentingan pangan, baik dari sisi kepentingan kesejahteraan petani maupun pemenuhan pangan warga negara. Yang terbaru terkait pemotongan anggran Badan Ketahanan Pangan sebersar Rp. 45,6 miliar untuk pos pengentasan daerah rentan rawan pangan serta stunting.

Cuitan Gus Muhaimin melalui akun twitter pribadinya @cakiminNOW: Baleg @DPR_RI mbok didengarkan bahaya ini .. yang dimention ke akun twitter @CucunA44 @FraksiPKB @idafauziyah pada tanggal 30 April yang merespon cuitan akun @IdhamArsyad_GT: Omnibus Law Kubur Cita-cita Indonesia Berdaulat Pangan adalah indikasi kuat bahwa PKB senantiasa memperjuangankan kepentingan warga negara disektor pangan.

Kedaulatan Pangan

Andreas Maryoto (2009), dalam bukunya: Jejak Pangan, Sejarah, Silang Budaya dan Masa Depan yang dikutip Prof. Murdijati Gardjito dalam bukunya Manifest Boga Indonesia menjelaskan bahwa: selama masa Majapahit, ekspor beras sudah dilakukan. Berlanjut pada masa Kesultanan Yogyakarta. Baru pada pertengahan abad 19, sejak diberlakukannya tanam paksa mulai terjadi kelaparan seperti di Cirebon akibat konversi sawah menjadi perkebunan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN