Mohon tunggu...
Urip Widodo
Urip Widodo Mohon Tunggu... Lainnya - Write and read every day

Senang menulis, membaca, dan nonton film, juga ngopi

Selanjutnya

Tutup

Book Pilihan

Sehari Selembar Lama-lama Menjadi Buku

7 Juli 2022   15:02 Diperbarui: 7 Juli 2022   15:13 173 15 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
cover buku Menggapai Tangan Tuhan/dokpri

Perjalanan panjang dimulai dari satu langkah pendek.

Sebuah buku pun dimulai dari selembar tulisan.

Memasuki tahun 2020 dunia dikejutkan dengan serangan virus Covid-19. Tak terkecuali dengan negara kita. WHO pun menetapkan serangan itu sebagai pandemi. Virus Covid-19 telah mengubah pola aktivitas hidup manusia. Semua orang dipaksa untuk diam di rumah, atau setidaknya membatasi aktivitas di luar rumah.

Semua kantor, pabrik, menerapkan WFH, Work From Home alias bekerja di rumah. Demikian juga dengan sekolah/kampus menerapkan belajar secara daring (online). Untuk mencegah penyebaran virus, pemerintah menginstruksikan semua orang untuk tidak keluar rumah (lock-down), dan membatasi saling berhubungan (social distancing).

Kantor di mana saya kerja pun menerapkan WFH. Sehingga praktis selama 24 jam berada di dalam rumah. Karena load pekerjaan tidak terlalu banyak, maka waktu luang pun lebih banyak. Untuk mengisi waktu luang tersebut, saya pun mengikuti kelas menulis, yang diasuh oleh Pak Cahyadi Takariawan.

Di salah satu sesion pelatihan, Pak Cah, demikian beliau sering dipanggil, mengatakan sebuah kalimat yang selalu saya ingat sampai sekarang.

"Kalau kita menulis sehari selembar A4, maka dalam 4 bulan kita akan punya naskah sebanyak 160 lembar A4 atau sama dengan 320 lembar A5. Dan kalau dicetak akan menjadi buku setebal 320 halaman."

Kita tahu ukuran 1 halaman buku umumnya setengah dari 1 lembar kertas fotocopy (A4).

Saya terpancing oleh nasihat Pak Cah tersebut, dan kemudian termotivasi untuk membuktikannya. Maka sejak itu saya berusaha menulis sehari 1 artikel dan diposting di Facebook (FB). Saya takpeduli apakah tulisan saya banyak yang membaca atau tidak, saat itu dalam pikiran sata adalah 'saya harus menulis setiap hari'.

Apalagi saat itu bulan Ramadan, dan ingin mengisi waktu-waktu bulan Ramadan dengan hal positif, maka saya pun mengisi hari-hari bulan Ramadan dengan menulis sehari satu artikel.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Book Selengkapnya
Lihat Book Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan