Mohon tunggu...
Urip Widodo
Urip Widodo Mohon Tunggu... Lainnya - Write and read every day

Senang menulis, membaca, dan nonton film, juga ngopi

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Duel, Alternatif Penegakan Hukum

19 Januari 2022   07:59 Diperbarui: 19 Januari 2022   08:03 161 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Sumber: impawards.com

Hanya kebetulan, di saat riuh tersiar berita bunuh diri seorang mahasiswi di pusara ayahnya, saya menyaksikan film The Last Duel. Dan usai nonton, saya jadi merasa ada relasi antara cerita di film itu dengan kasus yang melatarbelakangi si mahasiswi tadi melakukan bunuh diri.

Film bergenre action dan sejarah ini dirilis bulan Oktober kemarin. Dengan latar belakang Prancis di tahun 1386, saat Raja Charles VI berkuasa, film ini menceritakan perseteruan antara Jean de Carrouges dengan Jacques Le Gris. Padahal keduanya merupakan kesatria (Knight) yang saling bersahabat.

Puncak perseteruan kedua ksatria itu berlangsung dengan cara duel ala Eropa era itu. Duel berkuda dengan masing-masing bersenjatakan tombak panjang. Duel yang dilakukan di hadapan raja dan rakyat Prancis itu berakhir dengan terbunuhnya salah seorang dari mereka.

Menariknya, kenapa kemudian saya menyebut ada relasi dengan kasus bunuh diri Novia Widyasari. Duel dua kesatria itu dipicu oleh pemerkosaan yang dilakukan Le Gris terhadap Marguerite, istri dari Jean de Carrouges. Kasus yang sama yang dialami oleh Novia Widyasari.

Pemerkosaan yang dialami marguerite ini menjadi pokok cerita film The Last Duel. Keinginan Jean de Carrauges untuk melaporkan sahabatnya Le Gris sebagai pelaku pemerkosaan ternyata tidak mulus.

Hanya karena dalam satu kesempatan (sebelum mengalami perkosaan) Marguerite pernah mengatakan kepada temannya, bahwa Le Gris memang lelaki yang tampan, yang dapat membuat wanita-wanita terpesona, pengakuannya sebagai korban perkosaan tidak dipercaya pengadilan. Alih-alih, malah Marguerite dituduh memfitnah Le Gris. Diperkuat oleh sangkalan Le Gris sendiri yang membantah melakukan pemerkosaan.

Apalagi saat sidang pengadilan dilaksanakan enam bulan setelah peristiwa pemerkosaan, Marguerite tengah hamil. Dan ilmu medis masa itu, meyakini bahwa kehamilan hanya bisa terjadi jika kedua pasangan yang berhubungan intim saling menikmati.

Oleh karenanya, Sang Hakim mencurigai apa yang dialami oleh Marguerite itu bukan pemerkosaan tetapi atas suka sama suka. Bahkan sampai Sang Pengadil bertanya sesuatu yang konyol kepadanya, "Apa kau menikmatinya (perkosaan)?" Dengan kata lain, Marguerite dituduh telah menggoda Le Gris.

Apa yang dialami Marguerite tersebut dirasakan pula oleh Novia Widyasari. Pengakuannya bahwa dia diperkosa dan dipaksa untuk melakukan aborsi tidak diterima oleh paman-pamannya. Juga oleh orang tua dan keluarga pacarnya, yang seorang Bripda itu. Novia bahkan mendapat teror dari mereka, serta pandangan miring dari sebagian masyarakat, atas perilaku sex bebasnya.

Tidak ditanggapinya keluhan Novia, oleh paman-pamannya, oleh keluarga pacarnya, dan oleh polisi, membuat Novia depresi dan mengambil jalan pintas untuk menghilangkan depresinya dengan mengakhiri hidup melalui sebotol sianida. Sebagaimana diakuinya melalui 'suicide note' yang disampaikan kepada ibunya. Pesan yang kemudian viral di media sosial dengan tagar #Save_Novia_Widyasari

Ada kemiripan, apa yang dialami oleh Marguerite dengan yang dialami Novia Widyasari, yaitu keduanya dituduh menjadi penyebab perbuatan nista itu. Sehingga upaya pengungkapan kasus pemerkosaan mereka menjadi berlarut-larut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan