Umi Umayah
Umi Umayah Perawat Radiologi

Ummi hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa yang mendampingi Suami tercinta guna mengasuh kedua putri tersayang menjadi anak yang solehah. Cita- citanya ingin menjadi lebih baik dari hari kemarin. Ummi sekarang bekerja sebagai Radiografer di RS Muhammadiyah, Bandung. Salam kenal ya......

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Mewujudkan Kota Hijau Dimulai dari Rumah Tangga

5 Desember 2017   21:46 Diperbarui: 6 Desember 2017   11:16 457 0 1
Mewujudkan Kota Hijau Dimulai dari Rumah Tangga
Pak Herry Vaza selesai memungut sampah plastik (Foto: Dok. Pribadi)

Alhamdulillah minggu pagi yang cerah, diawali dengan senam zumba dan rezeki yang Allah beri berupa sinar matahari yang sempurna. Manfaatnya adalah berkeringat dan membuat badan yang tadinya lemas menjadi segar bugar. Padahal sebelumnya berkejaran dengan waktu menembus dinginnya terpaan angin jalanan kota Bandung dengan motor yang kami tumpangi berdua. Abi tampak tergesa memicu motor tua kami. Dalam hati, "Hmmm ... untung Adik tidak jadi ikut, makin lambatlah laju motor ini karena kelebihan beban."

Sampai ke tempat tujuan yang lumayan jauh karena dari ujung ke ujung. Kami dari daerah Bandung Selatan atau tepatnya Bojongsoang menuju Car Free Day (CFD) Dago. Berasa lega karena acara belum dimulai saat sampai di Eduplex Dago. Say hello dan cipika-cipiki dengan teman-teman dari dunia maya yang jarang bersua tapi berasa dekat di hati. Mereka adalah para Kompasianer Bandung yang notabene juga anggota Blogger Bandung. Obrolan singkat dan renyah di depan toilet sambil berganti baju seragam kuning. Sementara di luar sana terdengar suara musik yang hingar-bingar dan suara MC yang penuh semangat memanggil para pejalan kaki untuk bergabung dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang PUPR).

Mereka menggelar karya para penelitinya di CFD Dago, bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Bakti (Harbak) PUPR Ke-72 yang jatuh pada tanggal 3 Desember. Temanya adalah "Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang." Sekretaris Balitbang PUPR, Bapak Herry Vaza, dalam sambutannya (sekaligus membuka acara ini) menyampaikan kepada para pengunjung bahwa kegiatan ini digelar untuk mempublikasikan hasil litbang langsung kepada masyarakat Kota Bandung.

Semakin siang pejalan kaki yang ada di CFD Dago ini semakin ramai, ditambah peserta jalan santai karyawan dan keluarga PUPR dari Pusair Dago ke Eduplex. Para peserta tampak antusias mengikuti acara ini yang sarat dengan ilmu dan hadiah. MC tampak kocak dalam memandu acara dan berkeliling memberikan pertanyaan berkenaan dengan acara yang digelar. Di sepanjang jalan lokasi acara tampak beberapa papan pengumuman tentang hasil-hasil penelitian, sekaligus ajang sosialisasi kepada masyarakat.

Foto bersama Kompasianer Bandung dengan Admin K (Foto: Olive)
Foto bersama Kompasianer Bandung dengan Admin K (Foto: Olive)

INOVASI-INOVASI BALITBANG PUPR

Inovasinya itu adalah antara lain seperti ABDULAH, yaitu Akuifer Buatan Daur Ulang Air Hujan. Konsepnya sendiri adalah wadah untuk menampung air hujan yang kemudian setelah difilter bisa digunakan untuk air wudhu. Hasil buangannya bisa diolah lagi sehingga air tidak terbuang percuma. Lalu ada Ecotech Garden, yaitu memanfaatkan tanaman air untuk menyerap limbah rumah tangga. Jadi limbah dari air selokan dan effluent tangki septik bisa dibersihkan dengan menempatkan beberapa tanaman air. Sambil membaca, saya membayangkan andai di lingkungan komplek kami dibuat seperti ini ... hmmm alangkah eloknya. Tidak kalah menarik adalah teknologi Aspal Plastik. Ini penemuan keren dari Balitbang PUPR, yaitu dengan memanfaatkan limbah plastik (kresek) tipe LDPE yang sulit terurai menjadi bahan pembuatan aspal. Polimer plastik ternyata mampu loh memperkuat aspal jalan jauh lebih lama dari metode biasa.

Inovasi-inovasi di atas jelas terus dikembangkan demi mewujudkan kota hijau. Kota Hijau atau Green City adalah tema dari Hari Lingkungan Hidup se-Dunia yang dicanangkan pertama kali pada 2005 dimana San Francisco adalah kota pertama yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Istilah 'Kota Hijau' digaungkan berkenaan dengan faktor urbanisasi sehingga menyebabkan kota-kota besar menjadi tidak terkendali. Ya, daerah urban telah mengimpor banyak sekali minyak bumi (sebagai bahan bakar), makanan, dan air. Kemudian, kota-kota itu pun mengekspor sampah, limbah cair, dan polusi udara. Sudah barang tentu, kedua proses itu mengimbas pada kerusakan ekosistem yang telah ada. Ngeri kan kalau tahu bahwa urbanisasi telah menyebabkan kerusakan ekosistem tidak hanya berskala nasional tetapi juga dunia.

Dapat dibayangkan bahwa polusi udara pada akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan cuaca yang sangat ekstrem. Saya cek di internet ada fakta mengejutkan bahwa berdasarkan data The World Watch Institute pada 2002, kota-kota besar telah mengimpor 11.500 ton bahan bakar, 2.000 ton makanan, dan 320.000 ton air minum. Sementara yang diekspor adalah 25.000 ton CO2, 1.600 ton limbah padat, dan 300.000 ton limbah cair. Hiyyy! Kota Hijau adalah konsep perkotaan dimana masalah lingkungan hidup, ekonomi, dan sosial harus dijaga keseimbangannya demi generasi mendatang yang lebih baik.

Istirahat setelah membuang keringat saat Senam Zumba (Foto: Bang Aswi)
Istirahat setelah membuang keringat saat Senam Zumba (Foto: Bang Aswi)

Acara selanjutnya setelah senam zumba dan jalan sehat adalah diskusi ringan tentang inovasi-inovasi tersebut di atas panggung. Para blogger berkumpul membentuk 4 grup untuk berdiskusi di dalam Gedung Eduplex dengan tema yang berbeda. Kebetulan saya dan Abi berada dalam satu kelompok yang sama dengan ibu Ir. Lya Meilany Setyawaty, MT. Beliau adalah Kepala Bidang Standarisasi dan Diseminasi Balitbang PUPR yang mengurusi masalah sampah. Ibu peneliti ini bercerita soal sampah rumah tangga. Bagaimanapun sampah domestik itu adalah penyumbang sampah terbesar di kota-kota metropolitan. Katanya tidak mudah mengajak orang bersusah payah memilah sampah dibandingkan dengan mengajak mencari air bersih. Mengapa? Karena air bersih adalah produk utama di rumah tangga yang harus dikonsumsi sedangkan sampah adalah yang produk buangan.

KOMPOSTER RUMAH TANGGA

Jenis sampah yang harus menjadi perhatian khusus adalah sampah dapur, yang mayoritas adalah sampah organik. Contoh sampah organik lain adalah sampah halaman seperti daun atau tanaman pengganggu. Ya, pengolahan sampah memang harus dimulai dari sumbernya, yaitu organik dan anorganik. Dan diskusi pun difokuskan pada penanganan sampah organik, karena sifatnya yang mudah membusuk. Bu Lya tampaknya lebih senang berdiskusi tentang pembuatan komposter rumah tangga. Beliau menjelaskan cara pembuatan kompos kascing dan komposter pot.

Kascing itu "bekas cacing". Cara pembuatannya mudah, yang penting ada wadah dengan ukuran tertentu. Biasanya panjang lebarnya adalah 40 cm x 30 cm. Sedangkan tinggi tanahnya diusahakan tidak boleh lebih dari 60 cm. Wadah tersebut diisi oleh kotoran hewan (kohe), tanah, dan kompos dengan perbandingan 3:1:1. Tanah disemprotkan sampai kadar airnya mencapai 55%. Cara mengeceknya cukup digenggam tanahnya dan akan keluar urat-urat air (tidak sampai menetes). Jumlah cacing tanah yang diperlukan adalah 1 cacing per 5 cm. Untuk ukuran wadah di atas diperlukan kira-kira 1 kg cacing tanah. Hasil panennya adalah kotoran cacing (kascing) yang bisa diayak.

Bu Lya Meilany Setyawaty memberikan penjelasan tentang Kompos Kascing (Foto: Dok. Pribadi)
Bu Lya Meilany Setyawaty memberikan penjelasan tentang Kompos Kascing (Foto: Dok. Pribadi)

Kalau lahan pekarangannya luas sebenarnya bisa menggunakan komposter rumah tangga yang ditanam di tanah. Akan tetapi kalau lahannya sempit, maka bisa menggunakan komposter pot. Komposter pot adalah skala kecilnya, sedangkan proses pembuatannya sama. Hanya diperlukan wadah berupa pot. Ke dalam pot tersebut dimasukkan pasir dan ditempatkan di dasar pot. Lalu masukkan sampah dapur/organik yang sudah dicacah kecil-kecil (ukuran tidak lebih dari 5 cm), setelah itu kotoran ternak, kapur, tanah, sampah dapur/organik lagi, kotoran ternak, kapur, dan paling atas adalah tanah. Komposter pot ini didiamkan saja sampai semua campuran menjadi berwarnah hitam. Hasilnya sudah siap untuk dijadikan wadah tanam. Mudah sekali, kan.

Sebagai penyemprot tanah agar kelembapannya pas diperlukan mikroorganisme lokal. Tidak usah membeli karena cara membuatnya mudah sekali. Bisa menggunakan bekas peuyeum (singkong atau ketan) atau nanas. Caranya adalah 1 ons peuyeum atau nanas yang sudah dibuat bubur ditambah 5-10 sendok gula. Fungsi dari gula adalah sebagai sumber energi bagi perkembangbiakan mikroorganisme lokal. Setelah itu tambahkan air ke dalam wadah botol 1,5 liter. Cairan akan siap panen dalam waktu 5 (lima) hari. Tidak rumit, kan?

Di lingkungan tempat kami tinggal, pemilahan sampah baru berupa barang-barang yang sudah tidak terpakai seperti buku, kertas, botol kaca, botol-botol atau benda yang berbahan plastik, dus, dan lainnya. Setiap tiga kali dalam seminggu, kami mengumpulkannya pada satu tempat atau di rumah yang ditunjuk sebagai pengepul barang-barang bekas. Luar biasa banyak manfaatnya. Setahun ke belakang, hasil penjualannya bisa digunakan untuk membuat kaos t-shirt grup dan piknik keluarga ke satu tempat wisata di Bandung. Ini baru mengumpulkan dalam 1 tahun, bagaimana kalau bertahun-tahun ya?[]