Mohon tunggu...
Umi Sakdiyah Sodwijo
Umi Sakdiyah Sodwijo Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pengelana kata yang riang gembira

Pengelana kata yang riang gembira

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Teman Mabar Bernama Nana

1 Desember 2021   16:23 Diperbarui: 1 Desember 2021   18:36 379
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi gambr: pixabay.com 

"Lu kangen, ya?"

"Dih, amit-amit dah, kangen sama elu!" Aku menunduk, pura-pura melanjutkan permainan yang tadi sempat terhenti.

Kami berdua terdiam. Bulan perlahan menghilang ke balik awan. Beberapa ekor kelelawar mencicit dan menyambar-nyambar di sekitar pohon jambu yang ada di depan sebuah rumah, sepuluh meter dari tempat kami duduk.

Udara semakin dingin. Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul 02.00 WIB. Remon dan Put ra tak ada tanda-tanda akan kembali. Jangan-jangan mereka langsung pulang dan meninggalkanku sendirian di pos?

"Kan ada gue, Mar. Elo nggak bakal sendirian, gue temenin mabar deh," bisik gadis cantik yang duduk di sampingku.

Aku merinding. Kok sepertinya Nana bisa membaca isi hatiku ya? Ah, paling cuma kebetulan saja. Nana kan tahu di mana ada aku, selalu ada Remon dan Putra.

Aku menoleh ke arah Nana, dan menggeser tubuhku agak menyerong, agar bisa ngobrol lebih leluasa dan tak terkesan mengabaikan kehadirannya.

"Lu nggak bawa HP?"

"Kagak. Hape gue rusak. Kemarinan gue kecelakaan."

"Seriusan, lu?"

"Serius. Nih jidat gue aja masih diperban."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun