Mohon tunggu...
Umi Sahaja
Umi Sahaja Mohon Tunggu... Tenaga Kesehatan - Ibu bekerja yang ingin sukses dunia akhirat

Selalu berusaha membuat segalanya menjadi mudah, meski kadang sulit. 😄

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Si Anak Kampung

23 September 2022   23:00 Diperbarui: 23 September 2022   23:02 36 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

"Biar, Sri ikut ke kota. Di sana nanti dia akan sekolah di tempat terbaik."

Ibu nya hanya menjawab titah kakaknya dengan uraian air mata. Melihat ibu sedih aku ikut menangis. Tapi tidak tau harus bagaimana. Sekarang aku sudah kelas enam. Sebentar lagi akan lulus. Akan kemana setelah lulus? Aku tidak tau.

Aku hanya tau, Pakde datang membawa anaknya yang baru berumur dua tahun. Begitu melihatnya aku sudah jatuh hati padanya. Aku mengajaknya bermain dan dia begitu lengket denganku. 

Apa karena melihat kedekatan ku dengan anaknya yang membuat Pakde ingin membawaku ke kota. Pulang ke rumahnya. Berpisah dengan bapak ibuku.

Mungkin karena prestasiku? Selalu juara kelas. Dengan nilai ku tentu tidak kesulitan mencari sekolah untukku. 

Mungkin melihat kondisi bapak ibuku. Petani dengan sepetak sawah. Tiap kali menggarap sawah selalu diwarnai dengan cekcok. Dan kemana ibu mengadu kalau bukan kepada kakak tersayang nya.

Aku? Entahlah.. sedih, karena akan berpisah dengan ayah ibuku. Senang, karena bisa bersama "kakak" kecilku yang lucu. Takut, bertemu dengan lingkungan yang baru. Semangat, karena ingin melanjutkan sekolah dan menjadi berguna untuk keluarga.

Hingga saat kelulusan Bapak wali kelas berkata:" Selamat atas kelulusan kalian, selamat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Semoga kalian semua, bisa menggapai cita-cita kalian. Khusus untuk Sri Retnowati, semoga betah dan belajar lebih giat lagi karena akan mengikuti pamannya di kota."

Aku hanya tersenyum. Menyambut uluran tangan nya. "Do'akan saya ya Pak.." aku berucap lirih. Beliau mengangguk pasti.

*

Dan disinilah aku. Sekolah lanjutan tingkat pertama terbaik di kota. Sekolah favorit. Aku bangga bisa diterima di sekolah ini. Tapi aku malu dan takut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan