Mohon tunggu...
Umi Khoirum
Umi Khoirum Mohon Tunggu... Mahasiswi S2 KPI UIN SUNAN KALIJAGA

Pengembara Asa

Selanjutnya

Tutup

Love

Belajar Move On dari Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

3 Maret 2021   00:18 Diperbarui: 3 Maret 2021   09:32 63 1 0 Mohon Tunggu...

  
Move on menurut beberapa refrensi yang penulis temukan adalah sebuah tindakan untuk mengambil sikap berpindah atau beranjak, dari suatu permasalahan yang sebelumnya pernah ada kejadiaan yang tidak mengenakkan ataupun terpaksa dipisahkan oleh keadaan, sehingga mengharuskan seseorang tersebut “berpindah” dari keadaan yang sebelumnya. Atau anak muda lebih sering mengaitkannya dengan berpindah ke lain hati. Nah, lantas sebenarnya bagaimana identifikasi seseorang telah berhasil move on? Buku sebuah seni untuk bersikap bodo amat ini, membuat penulis menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.


 Setidaknya ketika penulis memutuskan untuk membaca buku dengan judul, Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson, yang merupakan versi terjemahan dari The Subtle Art Of Not Giving A F*ck, penulis telah meyakini bahwa “tidak ada yang kebetulan didunia ini”. Dimulai dengan adanya keresahan yang penulis rasakan, sore itu muncul sebuah notifikasi berita di gaway penulis. Isinya adalah berita mengenai promo yang diadakan Gramedia rayakan HUT ke-51, dengan dibubuhkan foto cover buku ini sampai akhirnya penulis tertarik untuk membacanya.


Buku yang ditulis Mark ini mampu mengobrak-abrik persepsi yang selama ini telah dibangun dengan pondasi nilai-nilai positif. Bagaimana tidak? Katakanlah saya sebagai orang yang selalu berusaha positif thinking pada setiap kejadian yang menimpa, tiba-tiba dibantah oleh pernyataan Mark bahwa “positif thingking akan mengantarkan seseorang pada kesengsaraan”. Mark hadir dengan membongkar wacana nilai-nilai positif, dimana Melalui buku ini Mark ingin menyadarkan pembacanya bahwa individu memiliki tanggung jawab akan masalah hidup, bukan kebahagiaan hidup. Menurut Mark dengan mendewakan nilai-nilai positif, seseorang akan disengsarakan dengan harapan yang semu, sebab hidup adalah masalah berkepanjangan, maka ketika seseorang hidup untuk kebahagiaan niscaya tidak akan mendapatkannya, karena akan merasa kecewa ketika mendapat masalah, namun ketika seseorang hidup untuk siap menerima, menikmati dan mengambil sikap atas masalah didalam hidup, maka seseorang tersebut akan mendapatkan kebahagiaan pada setiap momentnya.


Seperti yang sudah penulis singgung di awal mengenai move on. Kali ini penulis akan menyebut diri sebagai saya, untuk menceritakan bagaimana proses move on yang panjang dan sampai akhirnya buku Mark ini menyempurnakan proses move on saya. Ini adalah kali pertama dengan senang hati saya menceritakan kisah ini kepada publik, tentang saya yang pernah ditinggal untuk selamanya (Al-Fatihah) oleh seseorang yang statusnya dulu kami sebut “pacaran”, yah lima tahun menjalani hubungan dengan berbagai nuansanya, ditambah pernah sama-sama mempertahankan selama tiga tahun LDR karena sewaktu SMA saya memutuskan sekolah di pesantren.
Singkatnya Januari 2016, (saat itu saya libur kuliah semester 1), ba’da subuh teman saya mengetuk pintu dan mengabarkan bahwa “dia” telah pergi untuk selamanya. Dan yah, saya tetap berusaha tegar sampai bisa memberikan persembahan terakhir disampingnya dengan ikut menyolatkan dan mengantarkan ke peristirahatan terakhirnya. 


Bagaimana setelah itu? Apakah saya langsung bisa menata hari? Aah ternyata tidak, tiga hari saya terbaring tak bertenaga sambil menerima petuah dari teman dan orang tua , kembali mereka menyuruh saya untuk mengingat apa yang telah di pelajari di pesantren, perihal “setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada_Nya”. Di hari ke empat teman saya kembali datang dan membujuk saya untuk berkunjung kerumah almarhum, sampainya disana kami di sambut ibunya dengan hangat dan senyuman, meski tak bisa dipungkiri masih ada kesedihan di balik cerita-ceritanya. Yah, dan senyum ibunya lah yang kembali menjadikan saya untuk lebih tegar dan harus segera kembali menjalani hidup.


Sejauh ini, telah lima tahun pula kisah itu, saya pun telah menemukan solusi untuk menata hari-hari, berdasarkan refrensi dan nasihat teman-teman, saudara yang mengetahui kisah ini, saya dianjurkan untuk menyibukkan diri. Entah berdasarkan nasihat-nasihat itu atau memang keadaan, saya melewati lima tahun ini dengan banyak kegiatan dengan mengikuti beberapa organisasi, kuliah, menyalurkan hobby, mengikuti kursus, dan apapun itu yang saya anggap positif. Saya bisa melakukannya namun ternyata saya menyembunyikan keresahan saya dari banyak orang yang saya temui, dan ketika keresahan itu kembali hadir, saya hanya akan menceritakannya kepada orang yang saya percaya bisa membantu saya untuk kembali menyembunyikan keresahan akan peristiwa kehilangan itu. 

Yah mungkin ini yang di maksud Mark bahwa mendewakan nilai-nilai positif akan menimbulkan kesengsaraan.
Ternyata saya belum benar-benar move on, seperti ketika saya mencoba untuk membuka hati bayang-bayangnya masih kembali hadir, saya terus berada di “Lingkaran Setan” demikian Mark menyebutnya untuk siklus yang semakin memojokkan kita dan menyalahkan keadaan, tidak menerima bahwa dia telah meninggal, berharap dia kembali, menyalahkan diri sendiri kenapa saat itu tak melarangnya pergi, andai saya mengiyakan permintaan terakhirnya untuk melihat bintang dari halaman rumah, dan yaah masih banyak kejadian diluar kendali yang selalu saya salahkan. Ke
tika keresahan itu hadir saya  menjadi versi terlemah dalam hidup saya. 

Jangan menghabiskan waktu dengan prasangka yang salah, ketika Allah ambil dia dari sisi, ketika dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang telah lama dibangun, ketika dia mulai menjauh, berubah dan apapun kondisi tidak mengenakkan diluar kendali menimpa kita, Yaah udah terima saja, lanjutin hidupmu, karena "senikmat apapun cappucino yang disuguhkan, pasti akan terasa kurang oleh penikmat kopi murni".

Disinilah Mark menyakinkan saya untuk menerima dan menikmati masalah diluar kendali saya. serta, tidak akan ada yang benar-benar membuat kita sengsara kecuali fikiran kita yang mengizinkannya. Dan kabar baiknya fikiran adalah sesuatu yang bisa kita kendalikan. 

 Mark hadir dengan wacana yang bertentangan dengan para teman, keluarga bahkan motivator selama ini, ketika mereka mengatakan untuk membangun nilai-nilai positif untuk menggugah semangat manusia menjalankan hidup, Mark malah sebaliknya, dia hadir dengan wacana bahwa pentingnya menyadari potensi-potensi negative yang hadir dalam kehidupan. Dengan menyadari bahwa setiap individu akan mengalami masalah selanjutnya ketika sudah berhasil melewati masalah sebelumnya, maka individu tidak akan dininabobokkan dengan keadaan yang diharapkan selalu menyenangkan, membanggakan dan kenyamanan.


Di akhir penulis tak akan menyimpulkan bagaimana indentifikasi move on yang berhasil, sebab semua kembali kepada yang menjalani apakah hanya akan mencari pelarian sebuah solusi, atau mencoba untuk benar-benar menerima, menikmati dan baru mencari solusi untuk membuat tenang dan siap menjadi versi terbaik kita setiap saat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN