Mohon tunggu...
Umi Mustaghfiroh
Umi Mustaghfiroh Mohon Tunggu... Mahasiswa

mahasiswa pendidikan matematika UIN Walisongo

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Bagaimana Dampak Zonasi terhadap Psikologi Anak?

23 Juli 2019   22:30 Diperbarui: 23 Juli 2019   22:36 0 0 0 Mohon Tunggu...

Pada pelaksanaan seleksi PPDB ada sekolah yang mengutamakan zonasi dan ada yang mengutamakan nilai. Ketentuan mengenai zonasi dicantumkan dalam Pasal 15 sampai dengan Pasal 17 Permendikbud  17/2017 di mana sekolah wajib menerima paling sedikit 90% peserta didik yang berdomisili pada radius zona terdekat dari sekolah. Keterangan domisili ini dibuktikan dengan kartu keluarga yang diterbitkan paling lambat 6 bulan sebelum pelaksanaan PPDB. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan, sistem zonasi adalah ikhtiar pemerintah mewujudkan keadilan dan pemerataan dalam pendidikan. 

Sebab, dengan sistem ini tak ada lagi pembedaan sekolah berdasarkan kepintaran dan prestasi. Pengaturan ini diharapkan dapat membuat proses penerimaan berlangsung secara objektif, akuntabel, transparan, dan tanpa diskriminasi guna meningkatkan akses layanan pendidikan. PPDB ini tujuan sebenarnya untuk memberikan jawaban, agar tidak ada diskriminasi atau tidak ada perbedaan terhadap masyarakat, apakah dia berasal dari golongan rendah, apakah dia berasal dari golongan menengah, golongan atas, dan sebagainya. Karena, dengan diberlakukannya PPDB berbasis zonasi ini, semua masyarakat mempunyai hak yang sama dalam konteks mendapatkan pelayanan pendidikan.

Pendaftaran Peserta Didik Baru atau PPDB dengan sistem zonasi menuai polemik dan memicu kontroversi. Tak sedikit, orangtua yang protes dengan sistem ini. Sejumlah kepala daerah, juga mengaku kerepotan dengan sistem yang sebenarnya sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. Banyak orang tua yang cemas,selain karena masih kurang jelasnya mekanisme yang digunakan, juga semakin tidak ada kepastian apakah anak-anaknya dapat diterima di sekolah yang diinginkan. 

Lebih jauh lagi, adanya ketakutan bahwa pengacakan peserta didik berdasarkan tempat tinggal rentan menimbulkan permasalahan sosial terutama terkait motivasi berprestasi. Mekanisme zonasi PPDB memungkinkan sekolah menerima calon peserta didik dengan kesenjangan kemampuan akademik yang besar. Peserta didik yang berprestasi harus belajar bersama mereka yang mengalami hambatan belajar.

Permasalahan mengenai penerapan sistem zonasi ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya sebagai berikut:

  • Belum cukup sosialisasi
  • Masih belum optimalnya sosialisasi PPDB menjadi kendala pelaksanaannya. Sosialisasi dilakukan kepada camat, lurah,kepala sekolah serta tokoh masyarakat, namun ternyata belum cukup menjangkau orang tua. Beberapa sekolah mengutamakan sistem zonasi mendorong orang tua untuk memanipulasi data jarak rumah, mencoba jual beli kursi sekolah favorit, dan menggunakan kepemilikan KIP dan KIS agar dapat diterima sekolah.

  • Kendala teknis
  • Masih adanya permasalahan teknis terutama pada tahap seleksi daring disebabkan banyaknya yang mengakses server PPDB sehingga terjadi gangguan. Pemerintah tampak belum siap menghadapi potensi masalah ini. Ketersediaan sumber daya manusia sebagai operator dalam penanganan permasalahan teknis PPDB juga terbatas. Sementara itu, tidak semua  orang tua tanggap teknologi sehingga dapat memonitor perkembangan seleksi daring.
  • Kuota tidak mencukupi
  • Permasalahan utama adalah tidak sebandingnya kuota kursi sekolah yang dituju dengan jumlah calon peserta didik. Ketidakseimbangan jumlah ini menyebabkan kompetisi mengincar kursi di sekolah negeri menjadi lebih ketat dan tidak semua calon peserta didik dapat ditampung sekolah yang terdekat dengan domisilinya.
  • Tingginya disparitas kualitas antarsekolah
  • Pada kenyataannya, disparitas kualitas antarsekolah masih menjadi tugas rumah Kemendikbud yang harus dibenahi agar semua sekolah layak. Selain sarana dan prasarana, sumberdaya manusia sekolah, baik kepala sekolah, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan juga dituntut menciptakan lingkungan kondusif bagi pembelajaran.
  •        Penerapan sistem zonasi ini tentunya menimbulkan beberapa keuntungan dan kerugian. Sistem zonasi akan menguntungkan calon peserta didik yang tinggal dekat dengan sekolah. Hal ini sesuai dengan cita-cita Menteri Muhadjir agar mengurangi waktu tempuh peserta didik ke sekolah. Mekipun tidak berprestasi, calon peserta didik dapat melanjutkan pendidikan di sekolah yang terdekat dengan domisilinya. Di sisi lain, sistem zonasi membuat calon peserta didik yang berprestasi didorong untuk mendaftar pada sekolah yang terdekat, meskipun bukan sekolah dengan kualitas terbaik. Hal ini merupakan harapan Menteri Muhadjir agar dapat menghapus sekolah favorit, semua sekolah sama dengan fasilitasnya. Kenyataan, niat baik menghapus perspektif favoritisme sekolah tidak semulus yang direncanaka. Siswa yang mempunyai kelebihan akademik tidak dapat diterima di sekolah pilihannya hanya karena wilayah tinggal tidak masuk wilayah zonasi. Tentu akan menjadi sebuah sistem yang justru berpotensi menghambat pendidikan siswa, membunuh semangat memilih sekolah impian.
  •        Sistem zonasi menyebabkan berkumpulnya peserta didik dengan kemampuan yang beragam dalam satu sekolah, bahkan satu kelas. Mereka yang tidak berprestasi dan yang berprestasi dapat menjadi satu rombel. Hal ini akan memengaruhi minat belajar siswa. Menurut Muhibbin Syah (2010 : 132), faktor -- faktor yangmempengaruhi hasil belajar siswa dapat dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Salah satu faktor eksternal yaitu faktor. Rimm (1997, dalam Hoover-Schultz, 2005) menyatakan bahwa pesertadidik dapat mengalami kurang berprestasi(underachievement), yaitu ketimpanganantara performa akademik di sekolah danindeks kemampuan anak. Jika anak tidakbekerja sesuai dengan kemampuannyadi sekolah, maka mereka menjadi kurangberprestasi. Kurang berprestasi merupakansalah satu dari masalah kesulitan belajar,selain learning disorder; learningdisfunction; slow learner, dan learningdisabilities.Gallagher (1991) dan Rimm (1997),menemukan ada 2 faktor yang menyebabkankurang prestasi ini: faktor lingkungan(sekolah) dan faktor personal (keluarga).Faktor-faktor lingkungan muncul darisekolah dan teman sebaya. Sekolah yangtidak mendukung iklim intelektual, berfokuspada atletik dan status sosial semata dapatberkontribusi pada kurang prestasi (Rimm,1995). Pengaruh rekan sebaya juga menjadi signifikan yang memaksa murid potensialmenghalangi prestasinya (Reis & McCoach,2000). Bernd (1999) mengutip sebuah penelitian yang mengukur nilai dan perilaku murid menemukan bahwa murid semakin mirip dengan teman-temannya pada penghujung tahun ajaran, dibandingkan ketika pertama kali masuk sekolah. Murid yang berprestasi cenderung menurun prestasinya jika berteman dengan murid yang berprestasi buruk. Dengan penerapan sistem zonasi ini, minat peserta didik dalam pembelajaran cenderung berkurang karena kurangnya motivasi untuk memperoleh nilai yang lebih baik daripada teman-temannya. Nilai dianggap kurang penting karena dengan nilai yang biasa saja mereka sudah bisa masuk ke sekolah favorit terdekat tanpa harus seleksi ketat.
  •        Melihat dari dampak yang ditumbulkan, sistem yang dilaksanakan ini harus tetap dikaji serta dipastikan apakah sistem zonasi ini mampu meningkatkan kualitas pendidikan, bisa menjawab pemenuhan aspek pemerataan keadilan hak atas anak dan pendidikan atau tidak. Fakta di lapangan tetap harus menjadi bahan evaluasi tentang pemerataan keadilan hak atas pendidikan segera diselesaikan dengan memfasilitasi sekolah-sekolah di wilayah pedesaan. Pemerataan pembanguan dan SDM sekolah harus segera dilaksanakan agar jangan sampai Sistem zonasi ini justru menjadi penghambat pendidikan di beberapa wilayah tertentu. Sistem zonasi harus menjadi bagian untuk memberikan ruang bagi siswa yang tidak mampu mendapatkan akses pendidikan yang memadai.