Mohon tunggu...
irawan boma
irawan boma Mohon Tunggu...

pengamat kehidupan, praktisi revitalisasi untuk sustainability (lingkungan) hidup, saya sungai, saya suka hujan, mendung, guntur, namun paling suka cahaya yang menyembul dari balik awan tebal.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Malaikat Membangunkan Tidurku!

30 Oktober 2010   04:47 Diperbarui: 26 Juni 2015   11:59 69 0 0 Mohon Tunggu...

Istilah sahabat saya, "Kamu itu rebah!", Baru-baru ini , saya masuk rumah sakit lagi, semua bilang saya sakit karena stress, saya sendiri pun hampir-hampir percaya itu, memang sejak - "Mereka bilang saya (puja) Setan", keadaan tegang dari hari ke hari semakin memuncak, saya lupa membuangnya ke jamban, kenapa? EGO? Mungkin. Peristiwa demi peristiwa terlewati, teori kehidupan dan kehidupan sendiri, adalah dua hal yang sangat berbeda, istilahnya mungkin begini, - ya, bagus kita tahu ini dan itu, tapi pada saatnya kita, secara pribadi menghadapi, apa yang kita ketahui tentang ini dan itu, sepertinya tidak berarti apa-apa, tertutup, perkataan yang menyejukkan, nasihat yang datang, semua tertutup, kenapa?EGO?Mungkin. Tapi terus terang, saya bahagia, melewati semuanya ini, meskipun belum selesai, tapi "rebah"-nya saya menjadikan saya mengerti, tentang kemunafikan, kita semua munafik, kalau ada dari kita yang bilang dirinya tidak munafik, dia adalah ibu dari kemunafikan itu sendiri, nah...inilah yang sebenarnya yang sedang saya hadapi, kemunafikan yang begitu munafik, saya mencari-cari kata yang tepat, apa yang paling munafik dari yang termunafik, ber-sekresi saja kini dikemas sedemikian rupa, lihat saja, jamban-jamban yang terkomputerisasi, Made in Japan. Saya mau bagi sedikit soal cerita kehidupan, seorang munafik, seperti saya juga, anda juga, kadarnya yang menentukan seberapa OK kemunafikan kita itu, coba lihat itu, kadarnya....HA...HA...HA... - meski saya sendiri sedang terus dan terus mencoba untuk bicara sejujur-jujurnya, berusaha meninggalkan kemunafikan, kalau saya suka wanita berparas elok dan ayu, saya akan bilang bahwa ya, saya suka melihat wanita yang berparas elok dan ayu, kalau saya suka makan daging, saya akan makan daging, meski semeja saya adalah vegetarian, saya tidak membagi-bagikan Firman, meng-copy CD soal kesaksian pertobatan hebat, semisal, dukun, penjahat, germo, atau apalah semua profesi yang rentan dengan setan (padahal semua profesi rentan dengan setan), membagikan kesana dan kemari, menjual diri, "SAYA INI ORANG YANG SUDAH BERTOBAT, SAYA SEDANG DICOBAI, TAPI SAYA BERTAHAN!", dengan wajah yang memelas, membalikkan fakta, bercerita manis tentang penderitaan yang dia alami karena ulah saya,katanya. Oh, jangan salah, saya sedang tidak berupaya membela diri, saya salah, jelas saya salah, EGO, mungkin, begini, pertama kali ini dimulai, adalah saat saya mendapat pengalaman yang mungkin tidak dapat dinalar, dalam keadaan tidur, saya merasa diri saya diperkosa, saya merasa diludahi, dilecehkan secara seksual, sungguh perasaan yang tidak nyaman, saya anggap itu mimpi ngawur, tapi anehnya, itu saya rasakan benar-benar nyata, suatu kali rasa itu menyerang, tidak dalam tidur saya, saya sedang mengendarai sepeda motor, sampai-sampai saya harus berhenti ditengah jalan dan menangis, saya....menangis. Wanita yang katanya belahan jiwanya, demikian dilecehkannya, dalam pintu tertutup, dalam kegelapan, bertahun-tahun, terbungkus dengan semua kemunafikan yang laki-laki ini citrakan pada dirinya, donatur institusi agama, murah hati, berjiwa sosial, mudah bergaul, jamban, made in japan. Lagi dalam tidur saya, wanita ini datang pada saya, menceritakan semua yang terjadi, jadi tidak pernah ada percakapan manusia dengan manusia sebelumnya, saya tidak tahu bagaimana menjelaskan ini semua, tapi inilah yang terjadi, kami seperti merasa sudah saling mengenal, lalu suatu kali, saat saya berada di rumahnya, entah karena dorongan apa, kami merasa harus bicara, saya harus memastikan, apakah saya gila atau tidak, jadi, pada saat yang hampir bersamaan, kami berdua ingin mengajukan pertanyaan pada kami masing-masing, saya padanya, dia pada saya, TERKEJUT kami berdua, bahwa apa yang terjadi, percakapan-percakapan dalam tidur kami, nyata. Saat itu saya tidak tahu sampai kapan saya kuat menahan derita yang demikian, saya salut pada wanita itu, bertahun-tahun dalam penyiksaan tapi diam, pada tahun kedua perkawinannya dia protes, namun protesnya tidak menghasilkan apa-apa, makin hari, saat perbuatan keji itu dilakukan  laki-laki ini pada wanita itu, rasa yang saya rasa semakin kuat, sampai suatu kali, saya muntah, jijik, karena keringat laki-laki itu, ucapan-ucapannya pada istrinya yang tidak pantas saya ulangi, perbuatan seorang yang sakit jiwa, saya rasakan makin nyata, saya memutuskan untuk mendatangi laki-laki ini, yang juga seorang teman (kini tidak lagi), saya akhirnya menceritakan apa yang saya rasakan, dia hanya terperangah, lalu dibelakang saya, mulai menuduh yang katanya belahan jiwanya itu, sudah buka mulut ke saya, kami duduk bertiga, menjelaskan, bahwa tidak ada yang bercerita pada saya, saya mengalaminya dengan tiba-tiba, saya pun mengatakan bahwa saya berdoa, agar saya tidak perlu merasakan ini, karena ini hanya akan membuat saya membenci dia (maksudnya laki-laki yang dulu teman saya itu). Hari demi hari, suasana pertemanan kami makin mengeruh, seorang teman yang juga seroang saksi hidup, bagaimana semua ini terjadi, berusaha menengahi, kami berdoa bersama, si laki mengakui perbuatannya dan menyatakan keinginannya untuk berubah, tapi lagi-lagi di balik pintu, dalam kegelapan, laki-laki ini melakukannya lagi, dan lagi, saya mengalami kesakitan yang cukup luar biasa, CUKUP!, ini-lah titik kesalahan saya (mungkin), saya datangi laki-laki ini, dan begini saya bicara (saat itu, saya sudah mendapat tuduhan, bahwa saya telah meracuni pikiran istrinya, saya sudah dituduh men-dukuni-lah, guna-guna-lah, yang pada kenyataannya, dalam keterbukaan tabir pada ingatan sang istri, dan kesadaran yang tiba-tiba dibukakan, laki-laki ini pun mendapatkan belahan jiwanya dengan cara-cara yang tidak wajar, ini juga telah diungkap di depan pemuka agama mereka, sesuai dengan agama yang mereka anut), "Begini Pak, kalau bapak menganggap saya sebagai penghancur rumah tangga bapak, silahkan ambil belati, atau parang, atau apa saja, ini teman kita disini sebagai saksi bahwa sekarang saya bicara begini, anda cukup berada, saya yakin anda bisa menjaga anak-anak dan istri saya, saya titipkan mereka pada anda, meski saya juga tahu bahwa istri saya sangat kompeten untuk mandiri, jadi bunuh saya, saya tidak akan menuntut, ini ada saksi hidup, bunuh saya, tapi janji, pada saya dan Tuhan, bahwa bapak akan stop menyiksa istri bapak!", berkelitlah dia, begini dan begitu, bicara soal kasih, dan kemasan-kemasan kemunafikannya. Saya pikir sudah jelas-lah penjelasan saya. Istrinya, akhirnya memiliki kekuatan untuk menolak, setelah bertahun-tahun, setelah ini terbuka dalam percakapan mereka dengan pemuka agama mereka, mereka pun akhirnya pisah ranjang, bertahun-tahun, akhirnya kelegaan ada pada istrinya, namun ini awal masalah baru, si suami, mulai lagi menggunakan kekuatan-kekuatan gelap, dibalik kegelapan, ditutupi segala kemasan kemunafikan, laki ini berani bersumpah "SAYA TIDAK PERGI KE DUKUN, SAYA HIDUP DALAM KASIH..." padahal segenap anteknya-lah yang pergi, kemasan kemunafikannya semakin dia pertebal, sumbangan pada institusi keagamaannya semakin besar, propaganda dirinya SUCI, dan kini sedang ter-ZOLIM-i, makin berkibar tinggi, pencemaran nama baik saya, hampir-kalau tidak mau dibilang sukses, telah dilakukan. Teman-teman saya yang akhirnya mulai mengetahui kisah ini, terus mengingatkan saya untuk berdiam diri, emosi saya yang meledak-ledak, mengkhawatirkan teman-teman saya, takut-takut saya berbuat ceroboh, yang saya herankan, kita ini laki-laki, kenapa harus berbicara dibelakang, padahal saya sudah pernah menawarkan nyawa saya ganti perbuatan baiknya, tapi tidak juga ia lakukan, jadi kenapa harus main belakang mencoba mencelakai saya Soal kelas? mungkin. Berdiam diri, mendoakan seteru, bukan hal yang mudah, tampar pipi kiri, beri pipi kanan, bukan hal yang mudah, memilih hidup dalam kasih, bukan slogan atau propaganda yang hanya manis diperkatakan, namun pilihan untuk tetap setia dalam kasih, merenggut segenap jiwa, setiap molekul yang ada dalam tubuh bergejolak, "SIKAT, HAJAR, DATANGI, TANTANG, HADAPI LANGSUNG" versus "TENANG, KEBENARAN ADALAH KEBENARAN, PADA WAKTUNYA SEMUA AKAN TERSINGKAP, PANJANG SABAR, BERKASIH DAN BERPENGHARAPAN, IMAN", adalah pertentangan yang sangat melelahkan, bukan saya versus kegelapan, versus dukun ini dan itu, versus ilmu hitam ini dan itu, tapi justru saya melawan saya, adalah pertempuran yang sungguh melelahkan. Ya saya rebah, lalu dalam rebahnya saya, dua malaikat datang pada saya, sebut saja saya ini sedang berhalusinasi, takut-takut kalian anggap saya manusia yang layak didatangi malaikat, saya tidak layak, saya suka makan daging, saya suka wanita ayu, saya suka ini dan itu, jadi mari, anggap saya sedang berhalusinasi, inilah kata malaikat-malaikat itu, "Kepakan pertama sayap kupu-kupu yang baru saja ber-metamorfosis dari sebuah kepompong, mengguncangkan kosmik disekitarnya, apalagi kamu manusia, sekecil apa pun tindakanmu, pikiranmu, semua tertangkap kosmik disekitarmu, lalu seperti kerikil kecil yang dibuang ke dalam danau yang tenang, gejolaknya bergelombang, makin lama makin membesar, jadi pantaslah yang kamu alami ini, dimana masalahmu setelah kamu mengetahui semua ini?" EGO, jelas EGO. Saya bangun tidur, tersenyum, dan mengucap PUJI SYUKUR PADA YANG KUASA, jalan DAMAI dan KASIH, memang tidak mudah, perlahan saya menyusun kembali kekuatan dalam KASIH itu, kekuatan untuk mengatakan, "MAKTUB"

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x