Ulil Fitriyah
Ulil Fitriyah

"Ngangsu lan ngisi"

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Titik Balik: Mendidik (Anak)

12 November 2017   03:58 Diperbarui: 14 November 2017   04:42 507 0 0
Titik Balik: Mendidik (Anak)
forthefamily.org

Saya adalah seorang ibu dengan 2 anak laki-laki yang semoga dan Insyaallah sholeh semua. Anak saya yang pertama berusia 6.5 tahun dan saat ini duduk dibangku sekolah TK B, sementara adeknya baru berusia 2.5 tahun.

Awalnya, saya sebagai orangtua, saya adalah tipikal orang yang cuek. Tidak mau ribet dengan sekolah anak, dan juga sebaliknya tidak mau diribetkan dengan urusan sekolah anak. Urusan diluar sana (pekerjaan-red), selalu lebih penting dan akan selalu ada saja alasan untuk tidak hadir ke sekolah anak setiap kali ada undangan dari sekolah. Alhasil, selama hampir 4 tahun menitipkan anak pertama saya disekolah (2 tahun di KB, 1 tahun di TK A, dan sekarang masih di TK B), saya sangat jarang datang ke sekolah. 

Apalagi hanya sekedar soal urusan jemput menjemput anak, yang disini abinya meminta bagian hal tersebut sebagai bagian dari tugasnya. Saya semakin merasa sangat beruntung dan diuntungkan. Tidak perlu ke sekolah, dan menitipkan serta mempercayakan anak saya begitu saja kepada sekolah, yang menurut saya masuk dalam kategori sekolah "bagus" dalam pandangan saya.

Padahal, sebagai sekolah yang masuk dalam kategori "bagus", sekolah anak saya tidak hanya memberikan pelayanan pendidikan bagi siswa-siswinya saja. Sekolah juga memberikan fasilitas kepada orang tua siswa untuk turut belajar. Selain kegiatan rutinan kajian setiap satu minggu sekali, dan memberikan fasilitas belajar mengaji dengan metode ummi secara gratis kepada orang tua, hal yang sebenarnya paling penting yang diselenggarakan oleh sekolah untuk orang tua adalah kegiatan parenting yang diselenggarakan setiap bulan. 

Selain memberikan materi tumbuh kembang anak, diacara parenting tersebut, orang tua juga dapat menanyakan-atau Bahasa anak sekarang "kepo-in",  tumbuh kembang anak kita di sekolah bagaimana. Sangat bermanfaat bagi orang tua sebenarnya kegiatan ini. Tetapi, ya yang namanya "pasrah dan percaya" ke sekolah, saya benar-benar memasrahkan anak saya ke sekolah, tanpa mengikuti acara tetek bengek nya sekolah. Jangankan datang ke kegiatan acara parenting sekolah, undangan rapat sekolah saja, saya datangnya sesempatnya saja. Dan, lagi-lagi selalu ada alasan untuk tidak hadir memenuhi undangan sekolah. :-(

Namun, semua berubah ketika setelah saya membaca ulang buku karya Irawati Istadi dengan judul "Mendidik anak dengan cinta", dimana dibagian salah satu sub babnya membahas tentang menjadikan "Rumah sebagai basis pendidikan utama". Pertanyaan yang kemudian bergelayut dalam pikiran saya adalah, "sudahkah saya benar-benar menjadikan rumah saya sebagai basis pendidikan bagi anak-anak saya?", "sudahkah saya mendidik anak-anak saya dengan baik?".

Dan satu lagi pertanyaan yang membuat saya berpikir keras adalah "sudahkah saya-pribadi-menjadi  GURU YANG BAIK YANG MELAYANI ANAK-ANAK SAYA SENDIRI DENGAN PENUH TOTALITAS sehingga apa yang saya harapkan (tujuan pendidikan) untuk anak-anak saya dapat tercapai?" ataukah, SAYA HANYA MENGAJAR/MENDIDIK MEREKA DENGAN SEADANYA DAN APA ADANYA SAJA? mengikuti kata hati dan waktu, atau bahkan mengadopsi secara langsung begitu saja cara orang tua mendidik kita? Lebih - lebih, mempercayakan pendidikan anak - anak saya ke sekolah begitu saja, yang padahal dalam waktu 24 jam anak-anak saya lebih banyak menghabiskan waktu bersama saya atau abinya. Lantas, akan saya gunakan untuk apa waktu yang kurang lebih 20 jam (di sekolah dari jam 07.30-11.00) ada dirumah.

Dari sini kemudian saya mulai berpikir untuk TIDAK MENYIA-NYIAKANWAKTU 20 JAM anak saya. Saya mulai berpikir, bagaimana memaksimalkan waktu anak dengan "kegiatan penuh makna" bersama anak saya, sehingga anak saya bisa tetap belajar tanpa "belajar" dalam artian pada umumnya. Saya mulai berpikir dengan segala apa yang telah saya lakukan, dan tentang banyak hal yang telah saya abaikan

Menghadiri undangan rapat sekolah, yang notabene hal tersebut sebenarnya adalah UNTUK KEPENTINGAN ANAK SAYA SENDIRI, menghadiri acara parenting, yang juga sebenarnya untuk menambah ilmu saya dalam mendidik dan mendampingi anak, serta membangun komunikasi positif bersama guru - gurunya disekolah, yang KESEMUANYA adalah DEMI ANAK SAYA sendiri, merupakan hal yang telah banyak saya ABAIKAN.

Padahal, sebagai seseorang yang juga sebagai pengajar, ketika saya mengajar diluaran sana, untuk memberikan yang terbaik bagi anak didik saya, SAYA HARUS MEMILIKI CUKUP ILMU DAN BEKAL UNTUK MENGAJAR. Untuk mengajar disebuah lembaga pendidikan, saya harus menempuh S1, S2 dan bahkan mungkin S3. Tidak hanya demikian, saya juga harus merelakan waktu saya untuk mengikuti workshop, seminar, ataupun konferensi untuk meng-upgrade pengetahuan dan kemampuan saya sehingga saya dapat menyampaikan materi dengan baik dan memberikan pelayanan yang baik kepada peserta didik saya.

Selain itu, saya juga mau-maunya meluangkan waktu dan energi saya untuk menghadiri undangan rapat-entah itu rapat evaluasi pengajaran, rapat pengembangan kurikulum, rapat persiapan ujian, dsb-agar proses pengajaran dapat berjalan dengan lancar dan sukses sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditargetkan. Terlebih lagi, mau - maunya saya bangun tengah malam, kembali lagi mengerjakan hal-hal yang terkait dengan kegiatan belajar mengajar-entah itu mengoreksi pekerjaan anak-anak, mempersiapkan materi, atau belajar lagi mencari strategi-strategi pengajaran yang pas dan sesuai untuk mereka. Semua untuk apa? Untuk kesuksesan peserta didik saya tentunya.

Sebegitunya saya mempersiapkan dan membekali diri saya untuk memberikan yang terbaik bagi anak didik saya diluaran sana. LANTAS, APA YANG SUDAH SAYA LAKUKAN UNTUK ANAK SENDIRI?Padahal itu adalah anak saya sendiri, yang tentunya bila sukses adalah merupakan KESUKSESAN TERBESAR saya sendiri, dan akan kembali lagi pada saya sendiri tentunya.

Apakah saya sudah menyiapkan diri saya sendiri dengan baik untuk mendampingi mereka (anak-anak saya sendiri)? Apakah saya sudah membekali diri saya sendiri dengan ilmu yang cukup untuk mendidik mereka? Apakah saya sudah memikirkan strategi - strategi yang pas untuk mereka, ketika saya mendampinginya dalam belajar? 

Apakah saya sudah merelakan waktu saya untuk hanya sekedar memenuhi panggilan guru-gurunya, agar saya dapat memantau perkembangan anak saya sendiri? ATAUKAH, saya hanya melaluinya begitu saja, mendampingi dan mendidik mereka apa adanya? Dan lebih - lebih memasrahkan pendidikan anak saya ke sekolah begitu saja? Padahal waktu mereka dalam satu hari lebih banyak adalah dirumah. Akankah saya menyia-nyiakannya ataukah saya mampu mengisinya dan memanfaatkannya dengan baik?

Hal inilah yang kemudian merubah cara pandang saya, dan membuat saya kembali mengawali semuanya-belajar lagi untuk membekali diri saya dalam mendampingi anak saya, mensinkronkan visi-misi saya dan sekolah, dan membangun komunikasi positif dengan pihak-pihak sekolah yang turut serta mendidik anak saya. Dan, yang lebih penting lagi adalah semoga bisa istiqomah dan mampu benar-benar menjadikan rumah sebagai basis utama pendidikan bagi anak-anak saya. Aaamiin. :-)

Semoga bermanfaat,