Mohon tunggu...
Uli Hartati
Uli Hartati Mohon Tunggu... Blogger

A wife, mommy of 2 boys, working mom also as a blogger Contact me : WA 089627103287 Email uli.hartati@yahoo.com Blog http://ulihape.com IG dan Twitter @ulihape

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Kompasiana: Ku Sayang, Ku Benci dan Ku Rindu

6 November 2019   10:37 Diperbarui: 6 November 2019   10:38 0 5 1 Mohon Tunggu...
Kompasiana: Ku Sayang, Ku Benci dan Ku Rindu
by ulihape

Setiap memasuki bulan Oktober semua kompasianer akan menantikan perayaan ulang tahun Kompasiana, akhirnya tahun ini #11TahunKompasiana dan aku masih menjadi kompasianer bangga sih gue haha #GueKompasianer

Pertama kali membuat akun di Kompasiana karena seseorang yang aku kenal di dunia maya menyarankan aku menulis di Kompasiana, what for? Tanyaku? Bukankah Kompasiana itu tulisan politik semua? Yup! Tahun 2009 hampir semua isinya tulisan politik sehingga aku enggak pede mau menulis di sana.

Tapi justru aku berpikir mungkin kompasiana bisa jadi tempat yang tepat bagi tulisanku. Entahlah aku tak ingin ada orang yang membaca tulisanku, so kalau aku menulis di tempat orang berpolitik maka tak akan ada yang tertarik membaca segala curahan hatiku "begitulah aku berpikir" sehingga akhirnya aku menjadi kompasianer.

Ternyata dugaan ku salah ges, justru karena berbeda orang-orang jadi ngeh ada tulisan receh yang bisa bikin hepi. Akhirnya semula tak berharap ada yang membaca menjadi selalu ingin dibaca hehe. Dan bertahun-tahun aku mendambakan salah satu tulisanku supaya nangkring menjadi Headline dan akhirnya tulisan ojek beragro membawa aku nangkring menjadi Headline.

Dulu menulis di Kompasiana itu benar-benar membahagiakan, karena bukan sekedar menayangkan tulisan tapi saat itu kompasianer sering mengadakan kopdar, sehingga selain interaksi di kolom komentar pada masa itu, kompasianer banyak membentuk komunitas didalamnya yang menambah keakraban diantara kompasianer.

Kompasiana Ku Sayang

Beberapa dari kalian tentu tahu bahwa aku menemukan suamiku di kolom komentar Kompasiana, dari puisi dan curhat tak jelas, komentarnya selalu mampir sampai dia meminangku. Bahkan kedua anak kami namanya dimulai dari huruf K, yes tentu saja itu karena ayah dan ibu bertemu di Kompasiana. Kurang sayang apa coba? Dedikasi tertinggi untuk Kompasiana adalah mengabadikan nama anak-anak dari awalan huruf K.

Setelah era Multiply.com maka hanya Kompasianalah tempatku menulis, menulis di Kompasiana selalu membuat candu. Apalagi kalau tulisan sudah di labeli Headline atau kini Artikel Utama, rasanya ada kebanggan yang tak terukur oleh rupiah. Bahkan pada masa itu aku begitu getol menulis di Kompasiana dan selalu memikirkan tema apa lagi yang akan ku tuliskan. Tak jarang aku benar-benar bak wartawan yang turun ke lapangan demia sebuah konten berita.

Kompasiana Ku Benci

Cinta memang begitu, tak melulu tentang sayang ada juga rasa benci yang muncul karena tak sesuai ekspektasi. Beberapa kali tulisan ku dihanguskan karena dianggap tak layak. Duh! sakit beb kalau diacuhkan oleh orang yang kita cintai. Kecewa membuat aku membenci dan cara terbaik adalah menikmati benci itu, aku ngambek enggak mau menulis di Kompasiana lagi.

Alasan lain aku membenci adalah kurangnya "reward" yang diberikan kepada kompasianer, sementara itu keberadaan citizen journalism sudah banyak diketahui dan dibutuhkan banyak perusahaan untuk mempromosikan bisnis mereka. Alhasil aku merasa bertepuk sebelah tangan, cinta itu kalau tak dirawat akan menjadi benci.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x